Desain Jawa-Tionghoa Bermunculan di Antara Kompleks Hunian Modern
7 November 2024
Disebut sebagai wujud Kerinduan Kultur Tradisional
UNIK : bangunan perpaduan arsitektur Jawa-Tionghoa di Resto Kahyangan, kawasan Citraland, menjadi salah satu contoh arsitektur tradisional yang bermunculan di Surabaya Barat Kemarin (6/11)
SURABAYA – Di tengah kompleks hunian modem Surabaya Barat muncul bangunan-bangunan tradisional yang estetik. Joglo Jawa dengan kombinasi pemak- pernik khas Tionghoa.
Arsitek dan pengamat perkembangan kota Freddy H.Istanto menuturkan bahwa fenomena arsitektural tersebut semakin banyak dalam beberapa waktu terakhir Dia menyebut bangunan- bangunan tradisional nuansa modern itu tumbuh seiring dengan ramainya bisnis food and beverage (FnB). “Selama lima tahun terakhir itu jadi kayak gaspol. Terlebih setahun terakhir ini bersamaan dengan bertumbuhnya industri kuliner. Yang muncul semakin banyak,” terang Freddy saat ditemui kemarin (6/11).
Dia pun mengajak Jawa Pos menjelajahi satu persatu bangunan ekstoris di kawasan Citraland. Terlihat bangunan Joglo yang sangat kental dengan unsur budaya Jawa- nya. Empat pilar sokoguru yang khas, ukiran gebyog yang mewah, hingga sosoran atap di pinggiran joglo yang khas itu. Semua tersaji pada bangunan-bangunan yang berdiri di tengah hunian modern nan mewah. Ada yang mumi joglo Jawa.
Ada yang kombinasi dengan Tiongkok. Perpaduan itu melahirkan budaya peranakan. Ada juga yang mengkom- binasikan budaya Jawa dengan arsitektur modern.
“Bangunan-bangunan tradisional ini kebanyakan memang bentuknya Joglo. Itu ada yang dimanfaatkan menjadi resto, venue, tempat ibadah, sampai hunian pribadi. Ini juga jadi menarik,” ungkap Freddy. Fenomena itu dijelas- kannya sebagai kerinduan akan budaya tradisional di tengah modernisasi.
“Di kawasan Citraland itu saya hitung-hitung sudah ada lebih dari 10 bangunan. Itu yang kelihatan. Belum tahu kalau misalkan ada yang tersembunyi,” sam- bung Founder Surabaya Heritage Society itu.
Sejauh pengamatannya mereka yang memutuskan untuk mendirikan bangunan- bangunan tradisional ini juga menjaganya dengan baik. Bukan yang hanya beli atau dibangun kemudian dibiarkan begitu saja. “Bahkan pemilihan barang-barang interior di dalamnya juga diperhatikan betul,” imbuhnya.
Fenomena itu diungkap- kannya bagus untuk menjadi wadah paraanak-cucu belajar danmencintai budaya tempat mereka tinggal. Terlebih juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk warga ekspatriat di Surabaya. Tujuanya untuk bisa mengenal budaya Jawa dan Tionghoadi tengah-tengah hunian modern di Surabaya Barat. (ama/jun)

