MITIGASI BENCANA PADA ERA DIGITAL

Mitigasi menjadi kunci membangun masyarakat tangguh di tengah kepungan bencana geologi, seperti erupsi gunung api. Permodalan mitigasi pun menjadi penentu keberhasilan berkomunikasi dengan beragam pemaku kepentingan. Untuk itulah, Devy Kamil Syahbana merancang mengembangkan aplikasi MAGMA Indonesia untuk menjawab tantangan komunikasi pada era digital.

Oleh Runik Sri Astuti

Krisis Gunung Agung di Bali yang terjadi karena meningkatnya aktivitas vulkanik menjadi pelajaran berharga di bidang mitigasi bencana. Berhadapan dengan kultur budaya yang kuat, industri pariwisata yang dinamis, serta sistem pemerintahan lintas sektoral, mitigasi tak cukup dilakukan dengan pola komunikasi sederhana.

Roh mitigasi ialah informasi tentang kondisi Gunung Agung, penyajiannya dituntut cepat, akurat, dan terkini. Hitungan kecepatan itu bukan harian apalagi mingguan, melainkan menit bahkan detik. Tidak hanya itu, ibarat sebuah menu, informasi harus disajikan menarik agar mampu menggugah selera pembacanya.

Untuk itulah diperlukan “koki profesional” yang mampu memasak informasi tanpa menanggalkan substansi dari pesan yang ingin disampaikan. Itu karena pembaca memerlukan asupan gizi berupa informasi yang akurat untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi masyarakat tangguh. Informasi yang sesat, tidak akurat, terbukti memicu kegaduhan.

Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment (MAGMA) Indonesia merupakan aplikasi yang berisi informasi bencana geologi, perkembangan kondisi terkini, dan rekomendasi untuk keperluan mitigasi. Semua informasi itu bisa dibuka dalam satu jendela secara gratis.

“Aplikasi ini bisa diakses melalui laman atau diunduh lewat Google Play Store. Aplikasi dirancang telepon seluler berbasis Android dan belum bisa diaplikasikan pada telepon seluler berbasis iOS,” ujar Devy, pertengahan Oktober lalu, di Pos Pengamatan Gunung Agung, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Tinggal klik, data terkini aktivitas beragam potensi bencana geologi ada di genggaman, mulai dari potensi bahaya gunung api, gempa, tsunami, hingga longsor. Aplikasi juga menyediakan informasi soal dampak bencana, seperti sebaran abu vulkanik dan peta kawasan rawan bencana.

Agar menarik, tampilan informasi disajikan dengan multiplatform dilengkapi tabel dan diagram. Pengamatan gunung api, misalnya, disajikan dalam empat indikator warna sesuai dengan perkembangan kondisi terakhir gunung itu. Hijau untuk status Aktif Normal, kuning untuk status Waspada, oranya untuk Siaga, dan merah untuk Awas.

Rekomendasi

Devy bercerita, pada awal bentukannya tahun 2014, dia hanya ingin membuat data dasar gunung api di wilayah Indonesia timur untuk memudahkan pemantauan. Hal itu berkaitan erat dengan pekerjaan Devy sebagai vulaknolog di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Pria yang saat ini menjabat Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur (PVMBG) itu mengaku tergelitik saat melihat hasil survei tentang harapan masyarakat. Survei yang dilakukan institusinya itu menyatakan, masyarakat ingin mendapat infromasi terkini aktivitas gunung api, bencana longsor, dan gempa bumi.

Untuk memenuhi keinginan masyarakat itulah dia merumuskan permodelan yang tepat. Sempat tebersit menggunakan short message service (SMS), seperti pola yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat menginformasikan terjadinya gempa. Namun, pola itu, menurut dia, kurang efektif dan efisien.

Selain butuh biaya besar untuk mengirim SMS ke semua pemangku kepentingan yang ada di Tanah Air, informasi yang bisa disampaikan sangat terbatas. Tujuan mitigasi pun masih jauh panggang dari api sebabg pihaknya tidak bisa memberikan rekomendasi untuk meminimalkan dampak bencana.

Menurut Devy, rekomendasi ini penting dan bisa mencegah korban, membantu masyarakat mengambil tindakan serta membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat. Apalagi, bencana kerap datang tanpa diduga, berlangsung cepat, dan kadang sulit diprediksi bentuk atau pun arah sebarannya.

Dunia penerbangan

Sejak diluncurkan tahun 2015, MAGMA Indonesia dimanfaatkan oleh banyak kalangan, salah satunya penerbangan. Mereka sangat terbantu dengan informasi terkini sebaran abu vulkanik gunung api di Indonesia. Saat terjadi krisis Gunung Agung, penerima manfaat aplikasi menjadi lebih luas dan lebih beragam.

Sejak akhir September-medio Oktober, tingkat kunjungan ke laman ataupun aplikasi melonjak tajam menjadi 300.000 kali. Saat awal disosialiasikan pada 2015 hingga medio September lalu, tingkat kunjungannya masih sekitar 170.000 kali.

Pengunjung tidak hanya mengakses informasi tentang perkembangan terkini Gunung Agung. Banyak juga yang mengakses kawasan rawan bencana sebab petanya terus diperbarui sesuai kondisi gunung yang fluktuatif. Latar belakang pengunjung sangat beragam, mulai dari pelaku industri pariwisata, penerbangan, peneliti hingga instansi pemerintah, seperti badan penanggulangan bencana.

MAGMA Indonesia juga membuka ruang interaksi dengan masyarakat. Warga bisa menjadi narasumber awal suatu bencana dengan memberi laporan kejadian di sekitarnya. Syaratnya, masyarakat yang melapor harus menyebutkan identitas dirinya secara lengkap, menyebutkan nomor telepon selulernya, jenis bencana, waktu dan lokasi, kondisi terakhir, serta pernyataan menyetujui isi laporan.

Sejak diluncurkan aplikasi MAGMA Indonesia, kata Devy, pihaknya mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan. Salah satunya meraih peringkat pertama Innovation Award Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral 2016. Aplikasi ini juga masuk kategori 20 inovasi terbaik Pelayanan Publik 2014-2017 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Untuk meningkatkan performa kinerja MAGMA Indonesia, Devy tengah merancang penyajian informasi dalam bahasa Inggris. Dia juga terus mengembangkan aplikasi ini untuk memberikan manfaat maksimal di bidang mitigas bencana geologi bagi masyarakat.

 

Sumber: Kompas.-4-Desember-2017.-Hal.-16