Pahlawan tanpa tanda jasa, tak lain dan tidak bukan yaitu guru. Tahukah kalian mengapa mereka di juluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Tidak lain dan tidak bukan karena tugas mereka yang sangat berat untuk mendidik dan menciptakan pahlawan – pahlawan kecil lainnya, namun mereka tidak menerima tanda jasa yang setimpal dengan itu. Mereka justru malah sering terlupakan, dihina, di caci-maki, dan banyak hal lain yang dilakukan muridnya kepada mereka. Sudah seharusnya sebagai seorang yang menerima didikan oleh seorang guru menghormati gurunya. Apalagi dengan kesadaran bahwa Indonesia mengalami banyak kesusahan dalam memperjuangkan hak belajar mereka. Baik R.A Kartini yang kita kenal sebagai pejuang emansipasi wanita sehingga wanita bisa ikut berkecimpung dalam hal pendidikan. Namun ternyata tidak hanya R.A Kartini saja yang memperjuangkan pendidikan di Indonesia, namun banyak organisasi-organisasi yang terbentuk karena adanya perjuangan pahlawan di masa itu. Setiap negara memang memiliki perayaan hari gurunya sendiri, dimana biasanya mereka diberi libur di hari tersebut. Namun di Indonesia, 25 November merupakan Hari Guru Nasional, tapi sayangnya jarang diketahui atau jarang menarik perhatian para murid / warga Indonesia karena sedikitnya perayaan yang dilakukan di hari tersebut. Beberapa ada yang mengadakan upacara bendera, atau bahkan beberapa tidak melakukan perayaan.

Dibalik perayaannya, mari kita ulas bersama mengenai tanggal 25 November dan kenapa tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Guru. Jika kita lihat lebih jauh lagi, tanggal 25 November 1945 telah ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia atau yang disingkat PGRI. Hal tersebut sudah menjadi Keputusan Presiden nomor 78 tahun 1994. Persatuan Guru Republik Indonesia itu sendiri merupakan sebuah organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda yang awalnya diberi nama Persatuan Guru Hindia Belanda. Organisasi ini terdiri dari guru-guru yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda. Namun dibalik itu, mereka memiliki 1 tujuan yang sama yaitu untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Memang tidak mudah, namun hal ini terbantu dengan berkembangnya banyak organisasi lain yang mendukung pergerakan pendidikan di Indonesia, meskipun harus membeda-bedakan baik dari sisi agama, suku, dll.

Sejak berdirinya Perserikatan Guru Hindia Belanda, pendidikan di Indonesia terus maju dan semangat perjuangan Bangsa Indonesia yang pada masa itu masih dijajah oleh Belandapun mulai berkobar. Perjuangan mereka tidak berhenti hanya pada perjuangan pendidikan, tidak berhenti juga pada perjuangan untuk hak dan kewajiban, namun mereka mulai untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu kemerdekaan Indonesia. Para guru akhirnya memberanikan diri untuk memproklamasikan kemerdekaan secara tidak langsung dengan mengubah nama organisasi mereka yaitu Persatuan Guru Hindia Belanda menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia pada tahun 1932. Namun ternyata mereka harus terus berjuang hingga akhirnya mendapatkan hak kemerdekaan Indonesia. Hal ini ditunjukan dari perlawanan balik yang dilakukan pada zaman penjajahan Jepang dimana segala organisasi dilarang, sekolah harus ditutup, dan organisasi-organisasi khususnya Persatuan Guru Indonesia tidak boleh lagi melakukan aktivitasnya. Hebatnya, mereka tidak pernah putus asa dan menyelenggarakan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 yang bertepatan di Surakarta. Pada Kongres tersebut, Para guru, pensiunan pejuang, pegawai pendidikan, dan banyak lainnya mulai menunjukkan giginya untuk mendukung kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada kongres ini, semua menyepakati bahwa mereka akan bersatu dan menghapuskan segala organisasi yang dahulu memecahkan mereka berdasarkan lingkungan daerah, agama, suku, dll.

Perjuangan mereka tentunya tidak sia-sia, dan 100 hari setelah kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tanggal 25 November 1945, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berhasil didirikan. Mereka bersatu untuk tiga tujuan, yang pertama yaitu untuk mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia. Kedua, Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuatu dengan dasar-dasar kerakyatan, Terakhir, untuk membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya. Sejak saat itu, para guru sepakat untuk bergabung dalam organisasi PRGI dan berhasil menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia.

Begitu banyak perjuangan guru yang tidak kita sadari, baik dari zaman dahulu hingga sekarang. Dibalik banyaknya murid yang mungkin tidak menghargai pekerjaan guru, ternyata masih banyak juga generasi penerus bangsa yang tekun untuk ikut dan belajar dari gurunya. Dibalik kesusahan yang para guru hadapi dalam melakukan tugas-tugasnya, masih ada tangis yang mereka curahkan karena perlakuan yang mereka dapatkan oleh muridnya sendiri. Oleh karena itu, kita harus selalu menghormati mereka yang memang mempunyai hati tulus untuk membantu dan membentuk murid-muridnya menjadi pribadi yang terdidik dan lebih baik lagi.

 

Daftar Pustaka

Mulyono, Bambang. (2019, November 25). Mengenal sejarah Panjang perjuangan guru di Indonesia. Wjtoday.com. Diakses di https://www.wjtoday.com/berita/7612/mengenal-sejarah-panjang-perjuangan-guru-di-indonesia. 8 October 2020.

Lestari, Rahelia. (2018, November 25). Kenapa Sih Guru Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?. Loop.co.id. Diakses di https://loop.co.id/articles/guru-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/full#:~:text=Guru%20disebut%20sebagai%20pahlawan%20karena,berat%20dalam%20mendidik%20murid%2Dmurid.&text=Guru%20disebut%20tidak%20mendapatkan%20tanda,tidak%20mendapatkan%20penghargaan%20sebesar%20jasanya.. 8 October 2020.