Di dunia fashion international, Jessica Minh Anh dikenal sebagai supermodel sekaligus produser peragaan busana yang menggunakan tetenger dunia dan lokasi tak lazim sebagai catwalk. Tak sembarang orang bisa terlibat. Desainer asal Surabaya, Xiao Fen, adalah satu di antara segelintir orang yang beruntung bisa bekerja sama dengannya.

ENCHANTED Spell. Itulah tema yang diangkat Xiao Fen untuk 15 gaunnya yang dipamerkan dalam fashion show 6 Februari lalu. Perempuan kelahiran Surabaya, 3 Desember 1990, tersebut mendapatkan inspirasi dari film dongeng fantasi serta detail pada bentuk kapal pesiar. Hasilnya adalah gaun dengan detail cutting dan aplikasi yang edgy. Seluruhnya dikerjakan Xiao Fen dengan jahitan tangan selama empat bulan.

“Karena aku bikin untuk selera internasional, jadi detail gaun itu penting banget. Nggak asal kelihatan ramai dan blink-blink seperti kebanyakan selera orang Indonesia,” ujar Xiao Fen.

Dia lantas menunjukkan gaun yang dipamerkan dalam event J Winter Fashion Show di kapal pesiar Costa neoRomantica di perairan Hongkong tersebut. Warna emas dan biru mendominasi karya gaun alumnus Raffles Design Institute, Shanghai, itu.

“Aku cukup banyak meriset dan merevisi rancangan supaya benar-benar sesuai dengan ekspektasi pengamat fashion yang datang,” papar desainer yang beberapa kali melangsungkan pergelaran tunggal di Indonesia tersebut.

Kesempatan langka itu bagaikan impian yang jadi nyata buat Xiao Fen. Sebab, Jessica Minh Anh dikenal suka mengadakan peragaan busana di tempat-tempat ikonik dunia. Misalnya, pada 2014 di Menara Eiffel. Kemudian kembali menyelenggarakan catwalk di panggung kaca yang mengapung di Seine River, Paris. Sampai pernah menghelat panggung di Jembatan Pelabuhan Sydney dengan pemandangan Opera House sebagai latar belakang.

“Jadi, Jessica menghubungiku secara pribadi. Dia kirim e-mail dan bilang suka sama gaun-gaun rancanganku. Waktu itu rasanya deg-degan banget. Senang, bangga, campur aduk,” ungkapnya. Setelah memperlihatkan profil dan portofolio, Xiao Fen langsung menerima undangan dari Jessica Minh Anh Model Management (JMM Paris) untuk menjadi salah seorang desainer dalam event tersebut.

Pengalaman berharga itu dilalui Xiao Fen bukan tanpa masalah. Dia mengaku sempat mengacaukan jadwal karena dua kotak gaun yang seharusnya dipakai untuk fitting baju dan wawancara di radio Hongkong menghilang. “Ya ampun, itu parah. Jadi sempat mengalami ketegangan karena ada dua boks baju yang nggak diproses sama penerbangan Singapura,” tuturnya. Setelah mengontak beberapa pihak, kotak tersebut diantar meskipun telat.

Rancangan Xiao Fen dipertontonkan kepada awak media fashion internasional, pengamat fashion, dan konsulat jendral dari enam negara yang desainernya terpilih. Yakni, Amerika Serikat, Peru, Brazilia, Monako, Pakistan, dan Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong. “Target setelah ini, semoga bisa kolaborasi sama fashion brand dunia. Amin,” harap perempuan yang hobi mengenakan busana putih itu.

Bakat mendesain gaun Xiao Fen, rupanya, muncul sejak dia berusia 4 tahun. “Dari kecil, aku suka banget mix and match baju boneka-bonekaku. Tambah besar, aku bikinkan mereka baju juga, aku desain gitu,” paparnya. Meski demikian, Xiao Fen belum menyangka bahwa fashion designer justru menjadi profesi impiannya. Sebab, sejak usia 3 tahun, sang ayah memberikan kursus piano dan balet kepadanya.

“Ya, waktu itu papa mama belum ngeh ya apa sih fashion designer. Mau jadi apa. Malahan akum au disekolahkan ke Australia buat memperdalam jadi pianis,” ungkapnya. Namun, hatinya berkata lain. Xiao Fen lebih ingin mengeyam pendidikan fashion designer. “Setelah Shanghai, aku lanjut lagi ambil London, yakni di Central Saint Martin Collage,” jelas perempuan yang masih single tersebut. (*/c22/any)

 

Sumber: JawaPos.19 Maret 2018.Hal 21