Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya)
Baru-baru ini, seorang tokoh nasional mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia telah sangat berbahaya.
Di Indonesia, lanjutnya, sebagaian besar orang kaya adalah warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu atau Kristen, sedangkan orang yang miskin sebagai orang Islam.
Bagaimana kita memahami dan mengukur akurasi pernyataan tersebut? Benarkah etnis tertentu terlahir dengan sebuah predestinasi sebagai orang-orang yang kaya, sedangkan etnis yang lain cenderung tidak memiliki keistimewaan ini? Lalu, apakah isu ini memiliki fondasi teoritik?
Dalam ilmu psikologi sosial, anggapan-anggapan bahwa suku atau ras tertentu memiliki sifat dan karakteristik tertentu dimasukkan dalam kajian Stereotip.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Stereotip sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.
Dalam riset-riset di bidang psikologi sosial, Stereotip merupakan mekanisme penyederhanaan untuk mengendalikan lingkungan yang majemuk dan dinamis untuk bisa dikenali dengan cepat.
Suku bangsa, etnis dan ras merupakan entitas yang paling sering dilekati dengan Stereotip. Di Indonesia, etnis Batak dikenal sebagai suku yang keras dan berbicara dengan nada tinggi. Hal yang dianggap kontradiktif dengan etnis Jawa yang dipersepsikan sebagai suku yang halus dan lembut.
Etnis Tionghoa adalah etnis yang rajin bekerja, ulet, dan sangat rigid dalam mengelola keuangan. Etnis Minang dianggap memiliki kohesivitas kesukuan tinggi sehingga suka membantu orang-orang yang berasal dari daerah yang sama.
BERBAGAI RAS
Stereotip bahkan tidak hanya berlaku untuk suku-suku di Indonesia, tetapi juga untuk berbagai ras di dunia. Jika kita membaca literatur-literatur sosial tentang Stereotip, kita akan dengan mudah menemukan orang Arab yang dianggap religius, orang Yahudi yang dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang Zimbabwe dan Negara Afrika lain yang miskin, dan sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa Stereotip sebenarnya fenomena global, bukan hanya lokal semata.
Yang perlu untuk kita perhatikan adalah, secara psikologis, konten stereotip tidak selalu benar. Stereotip adalah sebuah mekanisme pertahanan diri (deference mechanism) untuk menyembunyikan keterbatasan diri atau digunakan untuk menebarkan perasaan kita yang rentan dengan superioritas.
Contoh paling mudah adalah stereotip terhadap kulit hitam di Amerika Serikat. Jika ditelusuri lebih jauh, stereotip terhadap masyarakat kulit hitam di Amerika ternyata bersumber dari superioritas ras kulit putih pada jaman perbudakan sebelum masa deklarasi hak asasi menusia ditandatangani beberapa ratus tahun silam.
Mengemukakan isu strereotip sebagai diskursus yang dikaitkan dengan isu ekonomi memantik sebuah poin refleksi yang penting bagi kita para pegiat investasi dan bisnis.
Stereotip tidak hanya memasuki sendi-sendi relasi sosial yang berdampak pada ketegangan antar-kelompok, tetapi juga telah masuk ke praktis bisnis dan investasi dan tema-tema ekonomi lainnya. Ini mengingatkan kita pada karya Birgit Zinzius, Chinese Ametrica: stereotype and Reality, untuk menunjukkan diskrepansi antara stereotip dan realitas yang dialami kalangan pebisnis Tionghoa-Amerika.
Simon Bevan, seorang pemerhati budaya Tionghoa juga meneliti stereotip di kalangan pebisnis di China dengan lebih detail. Temuan dari risetnya sangat menarik pebisnis di Shanghai menurutnya lebih cenderung memilih patner bisnis yang berasal dari luar negeri. Tetapi tetap mengutamakan yang sama-sama memiliki latar belakang etnis Tionghoa.
Mereka adalah pebisnis yang talkatif dan berupaya untuk mendapatkan deal ideal negoisasi di angka 55:45. Lain lagi dengan pebisnis Beijing yang ia temukan memiliki stereotip sebagai pebisnis yang pandai bicara tetapi lemah dalam hal eksekusi (good talker but poor doers).
Lebih menarik lagi temuan David Goodman dan Masanori Miyazawa dalam karyanya Jews in the Japanese Mind: The History and Uses of a Cultural Stereotype.
Hanya karena orang-orang Jepang mempercaya mitos bahwa ras Yahudi memiliki rencana buruk terhadap ras Jepang, banyak pebisnis-pebisnis Jepang yang menolak dengan perusahaan-perusahaan multinasional dari Yahudi atau yang memiliki pimpinan dengan latar belakang etnis Yahudi. Hal ini menunjukkan betapa stereotip memiliki dampak kuat dalam mempengaruhi pembentukan relasi dan jejaring bisnis.
Lalu bagaimana solusinya agar kita tidak terjebak pada bias kognitif stereotip? Saya sangat sepakat dengan pemikiran David Hamilton dalam karyanya Cognitive Processes in stereotyping and intergroup behavior. Hamilton menekankan pentingnya pengujian hipotesis secara ilmiah (scientific hypothesis testing).
SKEPTIS
Artinya, Hamilton mengingatkan kita untuk tatap memiliki pemikiran skeptis dan tidak terjebak pada anggapan-anggapan common sense masyarakat pada umumnya yang tidak memiliki landasan ilmiah.
Selain itu, argument Halmiton tentang pengujian hipotesis secara ilmiah juga menunjukkan pentingnya menilai sebuah suku secara objektif berdasarkan profil kepribadian per individual untuk menghindari generalisasi per individual.
Misalnya jika berbicara tentang mengapa seorang pengusaha Tionghoa berhasil mencapai tingkat kekayaan terntentu, akan lebih efektif jika kita menganalisis karakteristik pengelolaan modal finansial, pengambilan keputusan, gaya investasi, dan strategi pembentukan relasi dan jejaring bisnisnya.
Hindari terjebak pada anggapan bahwa etnis tertentu memang telah terpredestinasi sebagai etnis yang kaya.
Sumber : Bisnis Indonesia. 24 Mei 2017 Hal 2

