Segaf Assegaf, empat Dekade Bertahan Mengelola Usaha sarung Tenun Goyor.Jawa Pos.5 Juni 2014.Hal.8

Segaf Assegaf, Empat Dekade Bertahan Mengelola Usaha Sarung Tenun Goyor

Sarung tenun goyor yang digarap dengan tenaga manual mampu bertahan melawan mesin pabrik. Empat decade lalu ada 20-an pabrik di Lawang, Malang. Kini hanya tersisa satu, milik Segaf Assegaf. Menjelang Ramadhan, permintaan pun meningkat.

Tak… tok…takk… tok… tokk. Suara keras itu terdengar dari alat tenun bukan mesin (ATBM) di dalam sebuah bangunan di Jalan Dr Sutomo, Kecamatan Lawang, Malang. Bunyi bungiitu berasal dari kayu-kayu yang beradu untuk menenun benang-benang guna menyelesaikan pembuatan sarung goyor khas Lawang.

Terlihat dua puluh karyawan sibuk bekerja menyelesaikan sarung-sarung tenun. Tarikan-tarikan dilakukan untuk menguatkan benang tenun yang dijalin pelan-pelan dan penuh konsentrasi. Bila dirasa kurang kuat, pemintal tenun mengulanginya lagi.

Cara pengoperasianya cukup unik. Sebab, ATBM menggunakan gerakan tangan dan kaki manusia. Tidak memakai aliran listrik maupun tenaga lain.

Tradisi tenun itu dipertahankan Segaf, dari ayahnya, Abdurrahman Asegaf. Segaf kecil setiap kali pulang sekolah berupaya menyempatkan diri membantu orang tuanya untuk mengerjakan ekerjaan rumah. Menarik mesin tenun tentunya. Setelah orang tuanya tiada, dia salah satu anak yang bisa meneruskan pekerjaan mereka. Saat ayahnya masih  hidup, di Lawang terdapat 20 perusahaan tenun sarung. Kini tinggal satu, warisan yang dia jaga hingga sekarang.

“Saudara saya ada delapan. Saya membantu orang tua sejak kecil,”kata Segaf yang lahir pada 13 Maret 1954 di Surabaya.

Untuk membuat sarung tenun goyor, Segaf memilih benang rayon. Jenisnya ada benang engkel (single) dan saru doble. Yang dobel untuk bagian bawah dan yang single buat atasnya.

Bagaiman cara membuat sarung tenun? Menurut Segaf, prosesnya memakan waktu lama dan sulit. Tahapnya seperti menggulungkan benang pada sebuah kayu bundar agar tidak tercecer dan terurai.

Setelah digulung, benang diputar pada sebuah kerangka dari kayu. Frame ini bisa menampung hingga 41 gulungan benang./ Lalu gulungan-gulungan benang pada frame itu digambar bercorak sesuai permintaan dan pesanan. Setelah digambar, benang dicelupkan pada pewarna. Agar tidak tercampur dengan pewarna, gambar tadi terlebih dahulu diikat menggunakan tali rafia. “Biar air tidak masuk. Fungsinya menyelamatkan gambar tadi,” kata Segaf, lulusan SD Lawang 1 pada 1965.

Warna untuk pencelupan tentu beragam. Warna-warna yang dipilih adalah hijau, hitam, merah, kuning, putih , biru.

“ Warna ini yang laku di pasaran,” kata pria yang pernah bersekolah di SMA Negeri 1 Lawang pada 1972.

Proses pencelupan dilakuakn tiga kali. Itu agar warna makin cerah dan melekat pada benang. Setelah dicelupkan ke warna, benang diangin-anginkan di luar ruangan. Setelah kering benang tersebut dipintal ulang. Tentu tali rafia yang tadi diikatkan pada benang dibuang dulu.

Kemudian, dilakukan proses penggulungan benang lagi. Setelah itu baru ditenun menggunakan ATBM. Setelah jadi, ada proses penjahitan disetiap sisinya agar sarung tenun tak mudah terurai.

Setelah selesai, barulah sarung tersebut dikemas untuk dijual ke pelanggan di toko-toko besar di Surabaya dan Semarang. “Mereka yang punya link ke Afrika. Orang Afrika senang pakai kain tenun buatan Indonesia,” kata ayah dua anak ini.

Menjelang Ramadan, sarung tenun hasil produksi khas Lawang itu menjadi jujukan dan incaran. (mg1/JPNN/c2/ami)

Sumber: Jawa Pos 5 Juni 2014 Hal 8