Foto Terindah untuk Papua

Oleh Susie Berindra

Pendidikan merupakan hal yang paling penting bagi kemajuan suatu daerah. Hal itu disadari Donald Kamarea (44) yang tak mau berdiam diri saat harus pulang ke kampong halamannya di Papua. Dengan berbekal keterampilan fotografi yang dimilikinya, dia bertekad membagikan ilmunya secara gratis.

 

Potongan adegan demi adegan yang menggambarkan kehidupan warga Brukonakot, Korowai, Yahukimo, Papua tergambar dengan jelas. Warga yang memakai pakaian adar Papua menari bergembira. Lalu, berganti dengan gambar perjalanan warga menggunakan truk melintasi sungai dilanjutkan dengan jalan kaki menyeberangi sungai.

Rekaman gambar berlanjut dengan gambar warga memotong kayu untuk mendirikan bangunan sekolah. Adegan berpindah ke seorang ibu menggendong anaknya yang sudah meninggal. Lalu, suasana sekolah yang ramai dengan keceriaan anak-anak di bangunan sederhana dari kayu itu.

Semua adegan itu merupakan cuplikan film pendek berjudul Sekolah di Tepi Sungai, yang disutradarai Donald Kamarca. Film ini mengisahkan kegigihan anak muda yang mau bersusah payah untuk menolong saudara mereka yang konon terlupakan.

Pengambilan gambar film pendek berdurasi 22 menit itu dilakukan sekelompok anak muda yang menamakan diri Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil Papua (Kopkedat). Mereka merekam perjalanan dari Yahukimo menuju Brukmakot selama dua hari melalui sungai dan dua hari melalui jalan darat.

“Teman-teman dari Kopkedat dalang ke gue, bilang ingin membuat film. Gue bilang, nanti dulu, film seperti apa nih, bikin film itu enggak gampang loh. Lalu, mereka menceritakan bagaimana perjalanan menuju Brukmakot. “Wah, gue langsung tertarik menggarapnya cerita ini harus disampaikan kepada masyarakat di luar sana,” kata Donald yang selalu berbicara dengan gaya Jakarta.

Setelah mendengar cerita dari anggota Kopkedat, Donald langsung melatih mereka untuk pengambilan gambar video dan foto. Sejak tahun 2015, Donald merintis pendirian Kelas Pagi Papua yang merujuk pada Kelas Pagi Jakarta yang didirikan Anton Ismael pada 2006. Keinginan kuat Donald untuk membagi ilmunya mendorong dia menyodorkan secarik kertas permohonan mendirikan komunitas kelas fotografi gratis kepada Anton dengan memakai nama Kelas Pagi. Donald mengenal Anton sejak mengikuti Kelas Pagi angkatan ke – 7.

Selasa (23/1), Donald baru saja pulang dari Machester, Inggris untuk ldmemenuhi undangan dari University of Central Lancashire. Selama satu minggu berada di saja, Donald membagikan cerita mengenai Kelas Pagi Papua dan berbagai program yang dijalankan sejak tahun 2015. Pria kelahiran Serui, Papua ini juga bertemu dengan komunitas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana.

Pendidikan gratis

“Tahun 2011, ketika pulang ke Papua, gue bersama teman-teman pergi ke Bokondini, Tolikara, dua jam dari Wamena. Di situ, kami melihat anak-anak belajar menyanyi menggunakan bahasa inggris. Saat itulah, langsung berpikir gue harus bikin sesuatu,” ujar Donald yang mengenyam pendidikan di Jakarta sejak SMP.

Donald Kamarea

  • Lahir : Serui, Papua 17 Mei 1973
  • Istri : Lidya Setiaty
  • Anak : Ahuvia Hammah
  • Pendidikan :
    • Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (2012)
    • Kelas Pagi Jakarta (2010)
    • Program Animasi Institut Kesenian Jakarta (2007)
    • Workshop Film Animasi, Goethe Institut Jakarta (2004)

Empat tahun kemudian, Donlad bersama keluarga pulang kampung, tetapi anak semata wayangnya tak diperbolehkan kembali ke Jakarta. Dia pun rela untuk kembali ke tanah asalnya meski bingung harus ke tanah asalnya meski bingung harus berbuat apa. Saat itu, setiap hari Donald hanya jalan-jalan keliling Sentani kali ada sesuatu yang menarik perhatiannya, kamera pun langsung dibidikkan.

Tanpa disadari, ada seorang anak bernama Jesie yang terus mengikuti langkahnya. “Dia bilang ke gue, “Kakak, tolong saya diajari memotret,” Enggak lama, dia berhasil mengajak teman-temannya untuk sama-sama kalau gue bikin Kelas Pagi Papua”. Dia pun setuju dan langsung mendukung kami dengan membantu peralatan kamera yang dikumpulkan lewat garage sale di Jakarta,” cerita Donald.

Peralatan yang sederhana tak menyurutkan langkah Donald untuk membagi ilmunya, “Gue cuman pakai handphone, mengahjari komposisi gambar juga leat situ, kami belajar bergantian,” ujarnya.

Bantuan dari Jakarta pun datang Kamera DSLR, kamera saku, dan lensa dalam berbagai jenis diberikan untuk dipakai siswa belajar fotografi.

Tahun 2016, Anton bersama timnya datang ke Papua untuk membuat videoklip Efek Rumah Kaca berjudul “Merdeka”. Dalam kesempatan itu pula, Anton bertemu dengan siswa Kelas Pagi Papua, bukan hanya itu, lewat jaringan kerjasama yang kuat di daerah, Donald juga mendatangkan guru dari Yogyakarta untuk menambah pengetahuan siswanya, semuanya diberikan secara gratis.

“Nah, di situ gue pengen menunjukkan apa yang selama ini diajarkan bukan omong kosong saja. Ini loh, benar-benar ada kerja sama dengan Jakarta,” ujarnya sambal tertawa.

Selama satu tahun, berbagai usaha dilakukan untuk mempertahankan komunitas Kelas Pagi Papua, mereka mengerjakan berbagai produk visual untuk beberapa lembaga dan perusahaan. Donald bersama teman-temannya juga sedang menyiapkan perluncuran film Sekolah di Tepi Sungai dan satu film pendek lainnya. Komunitas juga mendukung shooting iklan Tokopedia yang mengangkat cerita inspirasi Anton membuka Kelas Pagi.

Kini, Kelas Pagi Papua memiliki 40 siswa untuk angkatan kedua. Untuk membantu biaya operasional kelas, Donald meminta siswa menyisihkan 10 persen dari penghasilannya masuk ke kas Kelas Pagi Papua.

Sekolah pun kini memiliki kepala sekolah yang dipercayakan kepada Alfa Tamaek. Untuk ruangan belajar ada dua pilihan, yaitu di rumah Donald yang dilengkapi berbagai peralatan kamera dan ruangan di gereja untuk praktik lapangan.

“Gue berusaha komunitas ini berkelanjutan, salah satunya dengan adanya sinergi anatara Kelas Pagi Papua, karyawan, konsumen, dan pihak yang memberikan bantuan. Gue selalu bilang, kalian bisa belajar gratis dan sekaligus mendapat penghasilan,” tutur Donald.

 

Sumber : Kompas.25 Januari 2018.Hal.16