Drone Photography Privasi dan Sebuah Lomba. Kompas. 31 Maret 2015.Hal.36

Tips Dan Catatan Arban Rambey

Dihalaman ini ada sederat ikon yang melambangkan kamera. Selama ini, kalau melihat ikon-ikon itu, anda langsung maklum bahwa itu kode di computer atau telepon genggam untuk mengakses hal-hal yang berhubungan dengan pemotretan.

Namun, tidak lama lagi, ikon-ikon itu akan tidak dikenal lagi karena bentuk kamera makin berubah. Bentuk konvensional berupa sebuah kotak yang dipasangi lensa akan terbuang jauh-jauh. Kamera bentuknya makin tidak tetap sejalan dengan semakin majunya teknologi yang menyertai, juga makin berkembangnya kebutuhan manusia akan fotografi. Dulu, kamera punya ukuran dan bentuk tertentu karena terikat dengan film yang dipakai. Film tentu butuh standar agar berbagai merek kamera bisa memakainya bersama-sama. Kini, dengan teknologi digital, sebuah kamera hanya membutuhkan standar di alat penyimpanan fotonya, yaitu kartu memori yang ukurannya sangat mungil. Selain itu, kini kebutuhan manusia akan fotografi makn melebar. Hal utama yang menonjol adalah manusia ingin bisa memotret seekstrem mungkin tanoa membayangkan dirinya. Maka, untuk hal ini, fotografi dengan kendali jarak jauh tentu tidak bisa di tawar lagi. Akhir-akhir ini, marak sebuah kata yang berasal dari bahasa inggris: Drone. Kata ini dalam konteks fotografi, drone photography adalah pemotretan dengan memakai kamera yang berada di sebuah wahana yang dikendalikan nirkabel.

Di halaman ini terlihat sebuah foto yang berisi kumpulan alat-alat yang bisa dimanfaatkan dalam drone photography. Yang paling umum adalah yang diterbangkan, seperti parrot bebob dan phantom dari DJI. Sementara jumping sumo adalah drone yang bisa berjalan di darat, bisa melompat-lompat, bahkan setinggi 150 sentimeter (misalnya naik ke atas meja), sementara rolling spider bisa merayap dan terbang sekaligus. Semua drone umumnya sudah berisi sebuah kamera dan bisa jug ditambahi beban kamera lain.

Privasi dan keamanan

Hasil pemotretan drone photography bukanlah foto kelas murahan karena kini kamera-kamera mungil sudah berkemampuan tinggi, bahkan bisa merekam video kelas 4K. pada zaman teknologi film, 15 tahun yang lalu, kelas yang setara dengan 2K pun butuh kamera yang besar sekali. Kenyataan inilah yang kemudian memicu aneka isu keamanan dan privasi. Di amerika serikatm di beberapa Negara bagian, drone untuk pehobi hanya diizinkan terbang siang, itupun hanya di area yang diizinkan peraturan. Itu adalah alasan keamanan. Adaun, untuk alasan privasi, berbagai peraturan terus digodok dengan masukan dari beberapa “korban” yang sempat ada. Di Indonesia sendiri, aturan untuk mengoperasikan drone dan aturan drone photography sedang di gagas walau para pelakunya sudah bergabung dalam asosiasi pilot drone Indonesia (APDI). Ada lisensi tertentu yang harus dimiliki seseorang untuk bisa bergabung di APDI.

 Lomba foto

Saat ini sedang berlangsung lomba foto menggunakan drone di Indonesia. Syarat dan ketentuan bisa dilihat di laman vyx,me/PjoyS. Lomba ini mengajak para penggemar fotografi untuk memotret Indonesia dari udara. Terutama dengan drone. Di laman di atas juga bisa dilihat beberapa foto yang sudah diunggah para peminat. Finalis lomba ini akan dibawa ke mandeh, sumatera barat, untuk bertanding langsung di sana. Alam mandeh yang indah, yaitu meliputi darat dan juga bawah air, bisa dilihat sekilas dari foto yang ada di halaman ini karya seorang pilot APDI.

Sumber: Kompas.-31-Maret-2015.Hal_.36