LOMBOK, pulau dengan keindahan alam yang sangat kaya. Deretan Apantai indah dan gunung yang megah selalu siap memanjakan para penikmat wisata alam. Tak terkecuali Rieke Aria Saputri. Perempuan asal Malang itu sudah dua kali berkunjung ke pulau yang masuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut.
Petualangan Rieke yang terbilang seru dan menantang adalah saat dia mendaki Gunung Rinjani. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu menjadi salah seorang dari sedikit perempuan yang pernah menaklukkan Rinjani. Dua kali.
“Yang pertama pada 2014. Niatnya untuk reuni dengan teman-teman SMA. Yang kedua 2017. tepat saat momen upacara bendera kemerdekaan,” ungkap Rieke. “Agak nekat, sih. Karena cuma berdua saja, sama sesama cewek juga. Tapi selama perjalanan kami bertemu rombongan lain yang juga sejalan. Jadi tidak merasa sendirian,” tutur dia gembira.
Rieke memang memiliki darah petualang. Sang bunda, semasa muda, juga aktif di organisasi pecinta alam. Beberapa gunung sudah didaki. Kisah-kisah dia menginspirasi Rieke sejak kecil. Sang ibu juga kerap memberi saran dan masukan bagaimana caranya survive di alam.
Waktu mendaki yang kedua, Rieke ditemani Vania Putri Ghassani. Sahabat dia sejak SMA. Rekam jejak Vania berbanding terbalik dengan Rieke. Dia baru kali pertama mendaki gunung. Meski begitu, semangat Vania untuk mencicipi pengalaman baru sudah membuncah.
Dua sahabat itu berangkat ke Lombok via laut dari Surabaya. Mereka naik Legundi, kapal bertrayek Surabaya-Lombok. Mereka sengaja ingin mencoba Legundi yang baru saja beroperasi. Lama perjalanan sekitar 19-21 jam. Bergantung pada cuaca dan ketinggian ombak.
Di kapal, mereka bertemu sekelompok cowok yang juga hendak mendaki Rinjani. Karena waktu pendakian hampir bersamaan, mereka memutuskan untuk bareng. Setiba di Mataram, Ficke dan Vania masih harus menyiapkan perbekalan. Sementara kelompok para cowok sudah siap dengan barang bawaan.
Perlengkapan yang dibawa, menurut Rieke, standar pendakian pada umumnya. Baju ganti setidaknya untuk tujuh hari ke depan, pakaian hangat, logistik, matras, alas tidur, dan obat-obatan pribadi. Tak lupa membawa uang tunai.
“Mereka (rombongan laki-laki) akhimya naik duluan. Selang dua hari, baru saya dan Vania menyusul,” konang Rieke. “Karena kesulitan cari alat transportasi, kami akhirnya nebeng pikap sayur dari Mataram ke pintu masuk pendakian,” cerita dia.
Perjalanan ke puncak makan waktu sekitar dua hari. Bila ditotal dengan turun gunung, rata-rata mereka membutuhkan empat hari. Saat mendaki, Rieke dan Vania melewati tiga pos sebelum masuk ke aroa Plawangan Sembalun. Setelah itu, tidak ada lagi pos jaga. Pendaki benar benar harus berjuang untuk ke puncak sampai turun lagi.
Saat berada di pos daki, mereka bertemu dengan serombongan bapak bapak dari Bintaro, Jakarta. Mereka mempersilakan dua sahabat itu untuk menginap di area kamping. Karena waktu mereka tiba di sana, sudah menjelang malam. Treking dilanjutkan keesokan harinya.
Dengan kondisi yang prima, keduanya bisa melewati medan berat. Termasuk lorong yang disebut tujuh tanjakan penderitaan. Mereka berjalan dengan kecepatan konstan. Itu lebih baik. Sebab mereka jadi bisa menyimpan tenaga. Kalau terlalu cepat, nanti cepat lelah juga.
“Akhimya kami bertemu rombongan yang ketemu di kapal. Kemudian disusul rombongan bapak-bapak di pos pendakian,” jelas Rieke. “Berangkat ke Lombok benar-benar berdua saja. Tapi, saya dan Vania bersyukur bortomu mereka. Itu sangat membantu kami yang nekat naik ke Rinjani berdua,” ujar Rieke
la berpendapat, saat mendaki gunung. sampai di puncak hanyalah bonus. Yang terpenting adalah bagaimana bisa selamat, mulai berangkat hingga pulang. Skill bertahan hidup, berkomunikasi baik ke sesama pendaki maupun penduduk setempat, dan sejumlah hal lain bisa membantu survival. Perempuan yang kini tinggal di Kota Malang itu mengaku ketagihan mendaki gunung. Dia ingin kembali lagi setelah berhasil menaklukkan satu atau dua.
“Naik gunung itu capek. Kaki pegel. Kalau tidur kedinginan. Cuaca juga tidak bisa diprediksi. Pokoknya ada banyak sambat kalo lagi muncak. Tapi entah kenapa saya bisa merasakan keseruannya,” tutur Rieke, lantas tertawa. (Retna Christa-Ajib Syahrian)
Sumber: Harian Disway.5 Mei 2021.Hal.44-45

