Dunia Masih Tidak Siap Hadapi Pandemi

JAKARTA, KOMPAS-Merebaknya Covid-19 menunjukkan bahwa sistem kesehatan saat ini tidak siap menangani pandemi. Pembenahan sistem kesehatan diperlukan, seperti menggencarkan surveilans penyakit, menyiapkan platform untuk menjaga pasokan obat dan alat kesehatan, serta mengonsolidasi sistem kesehatan tingkat nasional.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (FKUI) Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa dunia sebenarnya telah bersiap menghadapi kemungkinan pandemi sejak satu dekade lalu. Kesadaran untuk bersiap timbul setelah pandemi flu babi akibat virus HINI.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan flu babi sebagai pandemi pada Juni 2009. Status pandemi berakhir pada Agustus 2010. Ada 74 negara yang melaporkan kasus infeksi flu babi.

HINI pertama kali dideteksi di Meksiko. Kasus pertama dicurigai berasal dari sebuah peternakan babi di Negara Bagian Oaxaca. Namun, titik asal ataupun titik pasti penyebaran virus tidak diketahui (Kompas, 29/4/2009),

“Setelah pandemi HINI, WHO membuat komite peninjauan tentang bagaimana dunia menghadapi pandemi. Kesimpulannya, dunia tidak siap. Karena itu, dunia mencoba bersiap sejak 2011,” kata Tjandra pada Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Pipkra) Ke-19 secara daring, Sabtu (5/2/2022).

Kendati persiapan sudah berlangsung sekitar 10 tahun, dunia dinilai masih tidak siap saat ada pandemi Covid-19. Data WHO per 4 Februari memperlihatkan, ada lebih dari 386 juta kasus positif Covid-19 dan lebih dari 5,7 juta kematian.

Indeks Keamanan Kesehatan Global 2021 juga menunjukkan ketidaksiapan dunia dalam menghadapi pandemi dan epidemi di masa depan. Dari 195 negara, 115 negara belum mengalokasikan dana selama tiga tahun terakhir untuk menangani ancaman epidemi.

Adapun 126 negara belum menerbitkan dan menerapkan rencana tanggap darurat kesehatan nasional, khususnya untuk penyakit yang berpotensi epidemi atau pandemi. Sementara itu, hanya 33 negara yang rencana tanggap daruratnya mempertimbangkan populasi rentan.

Persiapan

Menurut Tjandra, para pakar kesehatan telah merumuskan beberapa hal yang bisa disiapkan untuk menghadapi pandemi ke depan. Pertama, kerja sama multisektor. Kedua, memperkuat independensi dan finansial WHO.

Ketiga, investasi dalam kesiapsiagaan masalah kesehatan. Keempat, surveilans dan pengumpulan data kesehatan secara terus-menerus yang diikuti respons. Kelima, menyiapkan platform suplai obat dan alat kesehatan. Lalu, koordinasi tingkat nasional untuk merespons potensi pandemi.

Menurut Guru Besar FKUI Menaldi Rasmin, pandemic Covid-19 jadi momentum meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia kesehatan. Selain memperkaya keilmuan dan riset, memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan masalah kesehatan juga penting.

Ia mencontohkan, teknologi nano sudah berkembang selama 20 tahun terakhir, tetapi belum dimanfaatkan. Padahal, teknologi nano dipercaya dapat membantu pengobatan kanker dan penyakit infeksi, seperti tuberkulosis. Transplantasi paru juga diperkirakan bisa segera dilakukan. Hal ini membutuhkan banyak ahli dari berbagai cabang ilmu. Itu sebabnya, ia mendorong tenaga medis bersiap dengan kemajuan medis.

“Kode etik kedokteran dan regulasi juga mesti dipahami. Kewajiban selanjutnya bagi kita ialah memberikan apa yang dibutuhkan pasien, menghargai kemampuan dan kompetensi rekan sejawat. Kita juga perlu mematangkan diri, menambah keterampilan, keilmuan, dan kompetensi,” ucap Menaldi.

Direktur Utama RSUP Persahabatan Agus Dwi Susanto menambahkan, pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien kini kian penting. Perkembangan ilmu pulmonologi dan kedokteran respirasi pun menjadi penting. Perkembangan ilmu kedokteran dapat diselaraskan dengan perkembangan teknologi. (SKA)

 

Sumber: Kompas. 7 Februari 2022. Hal. 8