
Keluhan kenapa banyak investor masih ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia, konon menjadi topik yang berkelanjutan saja. Kesulitan atau hambatan dalam tetekbengek perizinan atau pengurusan administrasi dengan pihak peme- rintah disebut sebagai penghalang utama.
Keluhan itu tak mengherankan. “Kalau kita jujur mengakui, input dengan birokrasi jaringan kita ini adalah aktivitas yang akan melelahkan dan menjengkelkan. Seorang kawan saya yang akan IMB alias izin mendirikan bangunan, menceritakan kisahnya dengan sumpah serapah. Belasan bahkan puluhan halaman. yang nampak sudah siap dipakai sebagai prasyarat IMB, setelah berbulan- bulan diurus, setelah di ping-pong sana-sini, ternyata masih harus ditunda.
Ada satu cap atau stempel dari satu instansi yang tertinggal. Tanpa batasan itu, proses dibilang cacat. Artinya IMB tak akan mungkin diterbitkan.
“Kenapa dipermudah kalau bisa dipersulit? Kenapa dipercepat kalau bisa diperlambat?” Pemeo yang teramat populer ini adalah suatu penggambaran pola pikir para birokrat yang telah mendarah daging. Pola pikir ini berujung kepada motif đasar mereka, yaitu untuk mendapatkan uang pelicin, uang sogokan. Suatu motif jahat, menyusahkan orang lain dan menistakan diri sendiri. Mau cepat? Bayar. Mau mudah? Setor.
Saya tak merekomendasikan ajakan Anda berbincang soal “persen berbisnis” sendiri-mata. Saya ingin menelaah soal “kesulitan dan kesulitan” yang kita harus jalani subjektif dan relatif. Bagi beberapa pelajar tertentu, pelajaran matematika adalah suatu ilmu yang mudah. Menyenangkan malah. Bahkan suatu permainan yang mengasyikkan. Mereka seakan diajak untuk berkelana dalam pencarian yang sangat memikat dan menggairahkan.
Sebaliknya, bagi banyak pelajar Jain, matematika adalah ilmu yang teramat sulit, yang membuat susah bahkan menjadi momok yang menakutkan. Kalau sudah waktunya sampai, menjelang pelajaran ini, perut menjadi mulas. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Bagi orang tertentu, kemampuan literasi, membuat karya tulis, adalah hal yang sangat sulit. Memulai penulisan kalimat, menguraikan suatu cerita dengan runut dan sederhana adalah hal yang tak mudah. Hari ini sa- ngat mudah yang tak memiliki keterampilan ini, melalui komunikasi tertulis di gadget. Adapun, lain untuk melihat siapa bagi banyak orang menulis adalah suatu hal mudah, dan sangat yang menarik. Menciptakan plot atau esensi tulisan lalu menuliskannya dalam kalimat yang nyaman, mengalir saja dengan deras, enak dibaca, dan mudah dipahami oleh pembacanya.
SUBJEKTIF DAN RELATIF
Namun, terlepas dari subjektivitas mudah atau sulit itu, saya selalu teringat pada suatu kutipan dari Harry S. Truman, Presiden AS, “Janganlah berdoa untuk mengambil kehidupan yang mudah. Berdoalah untuk menjadi orang yang kuat dan semakin kuat “. Nasihat ini benar- benar tertanam kuat dalam benak saya.
Demikianlah memang hukum perjalanan yang mudah. Kalau dirunut, proses demi proses kehidupan ini pada acara semuanya memiliki kesulitan yang tinggi rendahnya berbeda-beda. Sejak proses kehamilan, tak mudah bagi sang ibu untuk menggendong si jabang bayi dalam kandungan. Harus masa dalam 9 bulan yang acapkali harus dijalani dengan derita penuh. Sakit di sekujur badan.
Begitu lahir, untuk bisa berjalan, bayi harus jatuh bangun, berulangkali akhirnya mampu berdiri dan berjalan hingga berlari. Proses yang tak mudah.
Begitu menginjak usia sekolah, setiap anak harus bersusah payah belajar. Menghadapi ujian demi ujian. Hingga pada ujung kedewasaannya, harus berjuangan mencari nafkah. Proses yang sama, tak mudah. Demikian seterusnya, proses menikah, memiliki, dan memelihara anak dan seterusnya.
Berikut ini beberapa kutipan saya tulis, senada dengan kutipan dari Harry S. Truman di atas. “Tak ada yang namanya kemudahan dan kenyamanan semata dalam kehidupan. Yang ada adalah keberanian dan keteguhan,” kata Winston Churchill, PM Inggris yang sukses mempertahankan Eropa dari invasi Nazi Jerman.
Tak pernah ada dalam sejarah, seorang manusia yang mengarungi hidup dalam, tercatat dikenang. “kata Theodore Roosevelt, Presiden AS ke-6 (1901-1909).
Bila kita balik ke soal kemudahan berbisnis yang dituntut oleh para investor itu wajar saja. Siapa pun orangnya, di mana pun berada dan kapan pun saatnya, orang ingin menikmati layanan, jauh dari segala kesulitan.
Di sisi lain, hal yang lumrah pula bahwa kesulitan dan kerumitan akan berada di dekat para investor, dalam berbisnis, di luar soal yang berkaitan dengan birokrasi. Entah itu masalah masalah permodalan, tenaga kerja, pemasaran, dan proses produksi. Artinya, dalam kasus “kemudahan berbisnis” itu, hampir semua hal, semua aspeknya adalah soal-soal yang wajar. Karena sekali lagi, kita sadari, hidup memang tak mudah. Kita hanya perlu menyikapinya secara positif, mengalami petuah ini, “Kesulitan yang mengadang hidup yang menghancurkan Anda, melainkan menunjukkan apa- apa yang telah Anda lakukan, dan betapa kuatnya diri Anda.”
Kesulitan hidup adalah pembelajaran yang diharapkan akan membuat orang semakin kuat, semakin pandai sehingga pada ujungnya, kesulitan hidup adalah santapan sehari-hari yang tak perlu dikeluhkan lagi.
Dalam kalimat di atas saya tuliskan, “hampir semua hal, semua aspeknya adalah soal-soal yang wajar” karena memang ada hal yang amat tak wajar dalam kasus ini. Ketidakwajaran itu adalah kerakusan para birokrat yang tahu malu, membangun situasi sehingga uang pelicin harus disertakan. Tak tahu malu adalah idiom dalam hubungan horizontal, hubungan antar sesama manusia.
Di luar itu, yang paling menyesakkan adalah, mereka disumpah dengan nama Sang Khalik, Tuhan Pencipta Semesta Alam tetapi dengan nyaman saja mereka terus melanggar sumpah sakral itu.
Kesulitan yang diniatkan dan dilakukan oleh para penjahat inilah, yang pasti akan membuahkan rupa-rupa kerusakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, harus diperangi secara tegas dan tuntas.
Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.2
