Pemandangan tak biasa terlihat di area gedung Kunstkring di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa lalu, gedung 104 tahun waktu lalu.  Sejak bersejarah yang dibangun pada 1914 difungsikan sebagai tempat untuk mengapresiasi seni dan budaya.  Pada waktu itu, orang Belanda ini 1914. gedung yang dibangun pada tahun 1914 ini sempat bera- fungsi sebagai kantor imigrasi.

Sekarang ini, gedung I kembali difungsikan sebagai restoran lawas tersebut dan Alih fungsi di ruang pamer karya seni rupa.  ini dirayakan perupa yang bergabung dengan asi Pelukis Nasional (Apena) dengan pleh belasan dalam Asosiasi menggelar karya.

Dari belasan, belasan perupa tersebut, tampak seniman senior Eddy Sulistyo.  Melalui karyanya yang tampil beda, Eddy membuat karya monokromatik.  Karya yang didominasi warna hitam dan putih ini memang menjadi ciri khas Eddy.  Selama ini, Eddy dikenal terampil membuat karya tentang benda atau sesuatu yang dibentuk dari wajah-wajah yang diguratkan secara samar.

Salah satunya tampak dalam lukisan gedung Kunstkring.  Dalam karyanya, Eddy membuat gedung ini dengan kesan yang misterius dan mistis.  Terlihat wajah-wajah samar muncul dalam karyanya.

“Karya yang saya buat merupakan bentuk penghormatan saya terhadap gedung bersejarah ini. Warna emas saya gunakan untuk itu. Wajah-wajah itu menggambarkan semangat yang meskipun saya tidak bisa lihat, diran mpi saya rasakan betul menunjukkan mereka.

Bahan charcoal menjadi hal yang disukainya. Sini  , “tuturnya.  Setiap akan va, dia akan memodifikasinya, terlebih dahulu terlebih dahulu lalu menggoreskan sebatang charcoal pada kanvas basah.  Lelahan dari goresan charcoal itu dibiarkannya menyebar dan membentuk figur secara alamiah.  Setelah itu, barulah dia mengoleskan minyak untuk perubahan bentuk karyanya.  Begitulah cara Eddy saat beraksi di depan kanvas.

Penggunaan medium air untuk memulai karya merupakan simbolisasi bahwa air sangat penting bagi kehidupan manusia.  Pilihan warna monokrom atau hitam putih dengan makna filosofis bahwa dalam hidup selalu muncul dua hal yang saling bertolak belakang.

” Saya pernah pameran di China, bang, dan Eropa.  udara adalah hal yang sangat penting Saya menyadari bahwa kehidupan manusia secara filosofis, “ujar seniman yang sangat berpameran.

Teknik melukisnya yang terbilang di negara ini. unik ini membuat karyanya dengan harga tinggi oleh kangan pencinta seni.

Salah satu karya fenomenalnya  berjudul Bunga Nusantara (media campuran pada linen, 200×200 cm). Karya yang bercerita tentang keragaman masyarakat Indonesia ini mengundang perhatian dari masyarakat seni internasional. koleksi Univesitas Adger, Kristiansand, Norwegia.

Karya Eddy yang kritis lainnya berjudul Kapan Den Hamil ??  (kamera media pada kanvas, 198×198 cm, 2007).  Karya ini tak kalah menggemparkan dunia seni nupa karena kaya dengan sentuhan artistik yang sarat makna.

Lukisan yang sekarang berada di tangan kolektor seni dari Australia itu menggambarkan tentang gadis Raden Saleh.  Perintis seni rupa modern di Tanah Air ini dilukiskan tengah berbadan dua.  Figurnya dibuat mirip dengan gambar wajah dilukiskan seperti mengapit.

Melalui karya ini, Eddy mengkritisi kondisi seni rupa Indonesia yang saat ini belum muncul pelukis besar seperti Raden Saleh.

“Waktu itu saya hanya sebagai penggambaran Raden Saleh, tetapi para kurator dan pencinta seni Internasional justru mengartikannya dengan cara yang lebih luas lagi. Mereka bilang ini (karya) adalah penggambar perjalanan seni rupa di Asia, bukan hanya Indonesia,”  jelasnya.

Kedua karya di atas hanya sebagian kecil dari karya Eddy yang tampil fenomenal dan kritis.  Dalam prestasi, Eddy tak pernah main-main.  Untuk menentukan satu elemen tambahan pada karyanya saja, dia menentukan waktu lama.

Proses meng- gambarnya mungkin tidak lama, tetapi untuk menambahkan elemen-elemen kecil pada karya itu yang lama kuas atau asap rokok saja bisa berminggu-minggu.

KRITIS

Saat ini, Eddy Sulistyo masuk dalam jajaran seniman Indonesia yang go internasional. Pria lulusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai karya seni.

Pemahamannya tentang falsafah Jawa dan keberadaan keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan menjadi ide dasar dalam peciptaan karya seninya. Dia sangat sadar bahwa hidup sebagai seniman tidak mudah. ​​Namun, pernya- taan Seniman Senior Joko Pekik menjadi  salah satu motivasinya untuk terus melanjutkan. “Waktu itu saya dengarkan pesan pak Pekik.  Beliau menyampaikan bahwa itu harus nggetih (kata bahasa Jawa yang berarti mendarah daging, pantang menyerah).

“Ketekunan dan kesabaran menjadi bekalnya dalam. Eddy mengatakan bahwa nilai itu tidak didapatkannya dalam semalam. Kedua perilaku itu merupakan hasil perjalanan panjang  atas eksplorasi jiwa keseniannya selama ini.

Totalitasnya dalam berkesenian sudah terlihat sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Bakatnya yang terus diasah dengan latihan membuatnya banyak menyabet penghargaan di tingkat daerah Yogyakarta, dan ranah internasional.

“Saya dari kecil kalau ditanya mau jadi apa? Pasti saya bilang saya mau jadi seniman. Padahal belum tahu jadi seniman itu seperti apa. Seperti kei nginan sendiri, saya bahkan dari kecil tidak pernah meminta maaf diantar orang tua untuk ikut lomba, berjalan begitu saja  , “katanya.

Ketika memasuki jenjang sekolah menengah atas, Eddy sempat berkeinginan masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta.  Namun, keinginan itu diurungkan setelah ayah- nya yang lulusan SMSR memberikan masukan bahwa masuk ke sekolah itu akan segera mengetahui pengetahuan umum dan sosial.

Dari pengetahuan yang disarapnya sejak muda membuat Eddy tak terbatas sebagai perupa yang punya capaian artistik yang mumpuni, tetapi juga kritis dengan fenomena sosial di sekitarmya.

“Isu-isu sosial selalu jadi perhatian saya. Contohnya soal rencana pembangunan bandara internasional di Yogyakarta. Saya menjadi salah satu seniman yang bekerjasama. Bayangkan bagaimana orang-orang di sekitar yang masih buang hajat di sungai kemudian harus menonton bandara setiap  harinya? ”  katanya.

Eddy yang juga pemah mengikuti Pelatnas bulu tangkis di usia muda mengatakan, berkesenian tak ubahnya seperti perjalanan yang tak akan ada habisnya.  Dunia seni rupa telah berkeliling dunia.

Salah satu kejadian yang paling diingatnya adalah ketika berkesempat disebuah pameran di Menara Taipei 101, Yulin Taiwan pada 2009.

Dia menyebutkan, pada 1993, dia melihat gedung yang menjadi ikonik di Taiwan itu di kalender.  Selang 8 tahun kemudian, dia dapat menjejakkan kaki ke gedung tersebut.

“Saya sampai menangis waktu itu. Saya ingat betul bagaimana saya melihat gedung tersebut pada tanggalan (bahasa Jawa, kalender) di rumah saya. Angan- angan untuk bisa pergi ke sana akhirnya tercapai lewat seni. Saya tidak pernah menduga hal ini. Saya banyak keluar  Negeri juga dari berkesenian. Seni adalah hidup saya, tak usah: ditanyakan sampai kapan saya akan berkesenian. ”

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.25-Maret-2018