Employee Engagement dan Keberhasilan Perusahaan. Kompas. 11 April 2015.Hal.33

PENGELOLAAN sumber daya manusia dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas kinerja karyawan menjadi sebuah tantangan baru, yaitu perusahaan dituntuk untuk mampu menciptakan daya tarik dan daya dorong internal yang nyata bagi karyawan. Daya tarik dan daya dorong tersebut merupakan fondasi yang mampu menumbuhkan sikap dan perilaku karyawan yang baik. Kondisi ini umumnya disebut dengan Say,Stay,dan Strive.

Kondisi Say adalah kondisi perusahaan menciptakan daya tarik yang unik dan bermakna sebagai posisi tawar bagi karyawan sehingga karyawan secara konsisten mengatakan hal-hal positif mengenai perusahaan kepada rekan kerja, karyawan baru, calon karyawan, dan tentunya kepada para pelanggan. Hal ini tentunya berdampak besar kepada kualitas pelayanan pelanggan. Kondisi Stay adalah kondisi perusahaan memiliki daya tarik karyawan bagi karyawan agar karyawan mempunyai keinginan yang besar untuk tetap menjadi bagian dari perusahaan sehingga kondisi ini dapat menekan angka Turnover karyawan menjadi sangat rendah. Kondisi Strive adalah kondisi perusahaan mampu menciptakan daya dorong kepada karyawan agar karyawan secara proaktif memberikan usaha yang lebih dan menunjukkan perilaku yang berkontribusi terhadap kesuksesan perusahaan.

Untuk mencapai kondisi tersebut, perushaan perluh mengembangkan sebuah kerangka acuan yang sistematis, terukur, dan konprehensif dalam mengelolah sumbber daya manusia. Berkaitan dengan hal itu, konsep Employee Engagement merupakan keterikatan emosional yang meliputi dua dimensi yaitu dimensi Commitment dan dimensi Satisfaction. Kedua dimensi tersebut mampu menumbuhkan gairah, motivasi, dan dorongan proaktif bagi karyawan untuk memberikan upaya yang optimal disetiap aktivitas bisnis.

Employee Engagement diukur secara sistematis , abash, dan andal melalui dua pendekatan, baik pendekatan kuantitatif maupun kualikatif. Pengukuran tersebut dapat dilakukan terhadap karyawan sesuai dengan aspek demografis seperti structural, tingkatan posisi jabatan, masa kerja, gender, dan lain-lain.

Dengan melakukan pengukuran Employee Engagement,perusahaan memperoleh peta kategori keterkaitan emosional karyawan terhadap perusahaan dalam empat ketegori yaitu Highly Engaged, Protentially Engaged, Passives, dan Fully Disengaged. Melalui gambaran tersebut, perusahaan dapat menentukan langkah-langkah inisiatif maupun intervensi yang tepat sasaran dan bersifat unik secara sektoral maupun organisasional. Tentunya hal ini perluh didukung proses internalisasi, sosialisasi, dan tindak lanjut yang nyata serta berkesinambungan.

Employee Engagement memberikan akses bagi manajement untuk dapat membenahi kondisi Say, Stay, Strive karyawan dalam perusahaan melalui upaya-upaya membangun komitmen yang tinggi dan mengakomodasikan aspek-aspek kepuasan karyawan terhadap perusahaan secara lebih baik. Hal tersebut menjadi faktor penentu apakah karyawan mau dan mampu untuk memberikan upaya lebih dalam menyerap poin-poin strategis perusahaan dan mengimplementasikannya ke dalam aktivitas operasional sehari-hari. Hal ini tentunya memberikan dampak bisnis yang konkret bagi perusahaan untuk dapat memberikan nilai tambah bagi pelanggan, bertahan dan berkembang di dalam perubahan serta memiliki daya saing yang kompetitif dalam kompetisi bisnis saat ini dan pada masa mendatang.

Sumber: Kompas. 11 April 2015. Hal. 33