SURABAYA- Kreativitas tanpa batas. Itu tepat untuk menggambarkan karya seorang Wiwit Manfaati. Jika sebelumnya sepatu dibuat dengan bahan utama kulit, kulit asli, atau imitasi, di tanganwargg Kebraon Indah tersebut enceng gondok menjadi materi utama sepatu.
Enceng gondok memang sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan handicraft. Para creafter biasa mengolahnya menjadi aneka barang yang bermanfaat. Namun, wiwit mengkreasikannya menjadi sepatu. “Ini adalah produk uji coba, baru dibuat awal tahun,” ungkap perempuan asal sidoarjo itu.
Awalnya, ide nyetrik tersebut muncul saat dia melihat rimbunnya enceng gondok diwaduk belakang rumahnya. Tanaman itu sejatinya telah dikreasikan menjadi aneka kerajinan sejak 2008. Namun, pada awal 2014 dia kepincut menghasilkan karya baru.
Dengan berbekal pengalaman dan hobi membuat kerajinan sejak mmasih belia, perempuan kelahiran 15 april 1967 tersebut mulai mengumpulkan tumbuhan air mengapung itu.
“Sekitar 40 batang digunakan untuk membuat sepasang sepatu,” jelasya di acara Sampoerna Expo kemarin (20/9). Setelah enceng gondok dikumpulkan, batangnya kemudia dibelah menjadi dua.
Untuk menjadikan bahan utama sepatu, tanaman yang ditemukan di sungai Amazone Brazil tersebut lebih dulu dieringkan. “Enceng gondok harus benar-benar kering supaya pengerjaannya mudah,” tutur ibu tiga anak itu.
Proses pengeringan memakan waktu 14 hari di bawah sinar matahari. Setelah benar-benar kering, satu persatu helai dianyam hingga berbentuk lembaran panjang. Pengerjaan tersebut belum selesai. Wiwit masih harus mengolahnya hingga pipih. Tujuannya, agar mudah dibentuk menjadi sepatu. Untuk mendapatkan hasil pipih, enceng gondok harus di pres.
Langkah terakhir adalah menggambar pola sepatu. Pada pameran di Tunjungan Plaza tersebut sepatu yang dibuatnya bermodel ankle boots. Wiwit sengaja tidak memberi warna pada sepatu kreasinya. “Saya ingin warna natural,” paparnya. (bir/c20/tia)
Sumber: Jawa Pos.21 September 2014.Hal.40

