
Sejak kecil , Endi Putra Roza ( 30 ) akrab dengan sawah . Ketika dewasa , ia memilih menjadi petani . Namun , orang – orang di sekitarnya sempat mencibir karena Endi seorang sarjana . Menurut mereka , sarjana seharusnya bekerja di kantor , bukan di sawah yang kotor Endi tidak ambil pusing . la membuktikan bahwa sukses juga bisa diraih dari bertani .
OLEH IDA SETYORINI
Sepanjang Sabtu ( 28/10 ) , dari pe gi hingga siang . Endi berkeliling ke lahan persawahan yang ter hampar luas di Nagari Tanjuang Ga dang , Kecamatan Lareh Sago Hala- ban , Kabupaten Limapuluh Kota , Su- matera Barat , la rajin menyapa para petani yang berpapasan di jalan . Tiba di petak sawah yang dikelola ke- lompok tani Tuah Sakato , Endi ber- henti sejenak . Ia membuka perca- kapan dengan tujuh perempuan yang sedang mengolah tanah dan menyi- apkan benih padi .
Di antara para petani di Kampung Nagari Tanjuang Gadang , hanya Endi seorang yang masih mua . Sementara yang lainnya kebanyakan ibu – ibu setengah baya , bahkan ada yang sudah lanjut usia . Umurnya sudah 75 ta- hun .
Kehadiran Endi di suwnh memberi setitik harapan bagi keberlangsungan regenerasi petani di kampung itu Maklum , anak – anak muda lainnya nyaris tak ada yang mau bekerja di sawah dan berkotor – kotor dengan lumpur . Kebanyakan dari mereka memilih bekerja di tanah rantau atau tetap bertahan di kampung sambil berebut kesempatan menjadi pega- wai negeri atau pekerja kantoran lainnya .
Sebagai petani muda Endi juga membawa ide segar . Ia memperke- nalkan pertanian organik ” Saya ter- tarik dengan pertanian organik ka- rena tidak merusak lingkungan , ” ujar sarjana pertanian dari Universitas Andalas ( Unand ) Padang itu.
Untuk jangka panjang katanya , pertanian organik jauh menguntung kan karena sawah tidak memerlukan pupuk buatan yang mahal ” Setelah beberapa kali musim tanam , biaya produksi pertanian organik akun jauh lebih rendah , ” ujar Endi , satu – satunya mahasiswa Fakultas Pertanian Unand di angkatannya ( berjumlah 100 – an orang yang terjun menjadi petani setelah lulus kuliah
Ide baru tidak selalu diterima ngan tangan terbuka Itulah dihadapi Endi ketika ia mengajak para petani di kampungnya untuk beralih ke pertanian organik . Mereka menghitung pada musim pertama setelah meninggalkan pertanian de ngan pupuk buatan hasil panen pasti turun sekitar 30 persen . Bagi petani , jumlah penurunan itu sangat besar . Mereka tidak mau mengambil risiko meski mereka tahu untuk selanjutnya biaya bertani menjadi lebih murah .
Pertanian organik juga tidak mem berikan panen raya karena sistem pertanian tidak dilakukan secara se rentak seperti pertanian konvensi onal . Padahal , untuk mengurus per tanian organik perlu tenaga ekstra Jika memakai pupuk buatan , petani cukup membawa seember pupuk untuk satu petak sawah . Jika meng- gunakan pupuk organik , mereka per lu mengangkut berember – ember pu- puk . Pekerjaan bertambah berat jika sawah terletak jauh dari jalan yang bisa dilaluu kendaraan bermotor .
Meski denya tidak disambut , Endi tidak mau menyerah la tahu para petani harus diberi contoh sebelum mereka menerima idenya . Karena itu , Endi bertani organik sendirian . Selama telah beberapa lama , hasilnya baru kelihatan.
Melihat pertanian organik Endi memberi hasil memuaskan , petani lain akhirnya tertarik untuk menco- bu Apulan harga beras organik lebih tinggi daripada beras biasa . Endi bisa menjual beras organik Rp 17.000 per kilogram dan semiorganik Rp 14.000 per kilogram . Sementara hanya beras biasa sekitar Rp 10.000 per kilogram .
Ketika para petani yang kebanyak an ibu – ibu itu datang untuk belajar pertanian organik , Endi menyambut mereka dengan tangan terbuka . Ia mengajari mereka mulai dari cara menyiapkan sawah organik hingga penanganan pascapanen . Ia dibantu dosennya , dinas pertanian setempat . dan wali nagari .
Endi kini mengelola kelompok tani Sepakat Jaya dan Tuah Sakato dengan luas swah organik masing – masing 15 hektar dan 3,6 hektar . Endi sendiri mengelola 10 hektar sawah yang ter diri dari sawah milik pribadi , sawah milik orangtua , dan sawah petani lain . Hektaran sawah organik itu meng hasilkan beberapa jenis beras organik . antara lain anak daro , bakwan , jun juang pandan wangi , kuniang kuriak , dan kuniang talowi . Beras organik yang dihasilkan para petani diminati pasar karena rasanya enak . Setiap minggu , Endi dan petani mesti mengirim sekitar 500 kilogram beras ke Padang Selain itu , mereka juga melayani pembelian beras secara daring ” Pasarnya besar , tetapi kami belum sanggup memenuhi semua permintaan itu , ” kata Endi .
Diejek orang
Jalan hidup Endi rupanya tidak jauh dari sawah . Ketika kecil selepas pulang sekolah atau suat liburan , la pasti dinjak orangtuanya ke sawah . Sawah menjadi arena bermain seka Ligus tempat belajar bertani .
Selepas lulus SMA Negeri 1 Lareh Sago Halaban , Payakumbuh . Kabu paten Lima Puluh Kota , Endi se benarnya ingin kuliah di jurusan Ma tematika di Universitas Negeri Pa dang Namun , ia malah diterima di jurusan Sosial Ekonomi . Fakultas Pertanian , Universitas Andalas . Se Selama kuliah , ia mendapat beasiswa dari Yayasan Amal Petani Indonesia ( Yampi ) . Peningkatan Prestası Aka demik ( PPA ) , dan Bantuan Belajar Mahasiswa ( BBM ) .
Lulus dari kuliah , Endi bekerja sebagai guru di Medan , Sumatera Utara , selama setahun . Namun , dia kembali lagi ke kampungnya karena Hirisang bunda tidak mau berjauhan de ngan si bungsu dari empat bersaudara ini ” Ibu sakit kalau saya jauh Pa dahal , semua kakak suya termasuk yang perempuan boleh merantau Mereka boleh pergi jauh , sedangkan saya harus di rumah , ” kata Endi .
Selama di kampung , Endi mencoba membudidayakan jamur tiram . Na mun , usaha itu gagal . Pada 2012 , la mulai melirik pertanian organik . Me- lihat Endi terjun ke sawah , tetangga dan orang sekampung sama sekali tidak memberikan apresiasi . Mereka justru mencibir . Menurut mereka , se- orang sarjana mestinya bekerja di kantor , bukan di sawah yang kotor.
” Teman – teman saya banyak be- kerja di bank , berbaju ragi dan bersih . Sementara itu , saya lebih sering me- makai celana selutut dan kotor . Saya sanggup menulikan telinga mende- ngar ooehan orang yang melemahkan Semangat saya Namun , saya sedih ketika mereka ikut mengejek ayah – ibu saya . ” kenang Endi .
Beruntung orangtua Endi . Razamikan dan Jasaimar , mendukung penuh pilihan hidup Endi untuk menjadi pe tani . Itulah yang membuat semangat Endi tetap menyala Dengan kerja keras dan usaha pantang menyerah , ia berhasil menjadi petani yang sejah tera . Ia juga bisa menyakinkan se jumlah anak muda lainnya untuk turun lagi ke sawah.
Saat ini , misalnya , Endi mempe kerjakan beberapa pemuda untuk membantunya mengurus padi . Selain itu , ada seorang mahasiswa yang be kerja bersama Endi setiap kali musim libur kuliah tiba .
Bagaimanapun , pertanian masih menjanjikan penghidupan yang be ik – termasuk buat anak muda – asal Razamikan dikclola dengan baik . Endi telah membuktikannya .
Sumber: Kompas.4 November 2017.Hal.16
