Franchise.Era Digital,Perusahaan Harus Adatif dan Kreatif.Juni 2017.Hal 100 001-page-001

Saat ini kita sudah memasuki jaman teknologi digital yang begitu pesat. Dan ini sudah memasuki seluruh aspek kehidupan. Oleh sebab itu, sudah seharusnya para pengusaha waralaba adaptif terhadap perkembangan ini, baik dalam aspek system pengelolahan bisnis maupun aspek marketingnya.

Alvin Toffler, sejak puluhan tahun lalu dalam bukunya The Adaptive Corporation sudah mengingatkan kepada para pelaku bisnis untuk berlaku fleksibel dan adptif dalam mengelola perusahaan. Ia menyarankan agar manajemen perusahaan menerapkan teknologi terkini, menyingkirkan kebiasaan lama yang membuat oerusahan terus berada dalam zona nyaman.

Terlebih lagi di jaman milenial saat ini, masa yang disebut sebagai masa tak menentu. Philip Kotler menyebutnya sebagai era turbulansi atau pasar yang chaotics, pasar yang penuh kekacauan di mana setiap negara bisa dengan cepat mengalami resesi. Jika tidak cepat melakukan adaptasi, perusahaan bisa cepat tersingkir dari persaingan.

Di Indonesia pun demikian. Kondisi pasar saat ini tidak stabil. Sejak memasuki2017 sampai saat ini tidak ada tanda-tanda pergerakan eonomi yang signifikan. Apalagi masyarakat masih terbawa hawa masa Pilkada Jakarta. Beberapa pendukung maisng-masing calon gubernur DKI yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu masih saja saling sindir dan adu argumen, membela mantan calon gubernurnya.

Akibatnya, di medsos pun masih ramai membincangkan nilai-nilai kebinekaan yang dinilai rapuh oleh kubu masing-masing. Di dunia nyata mu7ngkin saja tidak seekstrim pembicaraan di medsos.

Namun, mau tidak mau kondisi ini sedikit banyaknya mempengarui energi positif kita. Energi yang seharusnya digunakan untuk memikirkan dan merancang program yang lebih baik, malah habis untuk bertikai.

Biarlah urusan politik diurus memerlukan pilitikus. Karena dunia bisnis memerlukan owner yang memilki energi tinggi untuk bisa bersinergi dengan siapapun. Sebab tantangan perusahaan saat ini bukan oleh pesaing saja, tapi teknologi dan perangkat aplikasi yang merubah struktur bisnis.

Maka perusahaan dituntut untuk lebih adaptif, serta membuka wawasan untuk menerima hal-hal baru. Perusahaan tidak cukup memanfaatkan salah satu content teknologi saja, tapi juga harus melakukan kerativitas untuk mengoptimalkan context.

Misalkan, kampanya branding di digital jangan hanya terbaru saja. Tapi juga menciptakan context dengan menawarkan kreasi baru dengan membuat berbagai program promo kreatif, mensinergikan produknya dengan perusahaan lain, dan kegiatan yang atraktif lainnya. Sehingga konsumen antusias dan mau datang.

Dengan kata lain, jika menggunakan istilah Jahja B Soenarjo, Konsultan dari Dirextion Strategy, perusahaan harus mampu mendrmatisir produk, jasa dan program promonya sehingga memicu kerumunan konsumen.

Selain itu, perusahaan juga jangan hanya mengandalkan digital dan online saja untuk mengkampanyekan produk dan jasanya. Sebab beberapa pelaku franchise justru mendapat banyak investor dari luar daerah melalui saluran media offline. Menjual produk memang berbeda dengan menjual franchise.

Ketika membeli produk, calon konsumen yang tertarik biasanya cukup lewat komentar netizen. Tapi berbeda ketika membeli franchise yang melibatkan uang puluhan juta bahkan miliaran rupiah, orang butuh informasi offline yang mendalam dan detail. Apalagi orang kaya Indonesia kebanyakn masih diisi oleh segmen baby boomer yang tidak begitu gandrung dengan media online.

Jadi yang namanya adaptif adalah mereka yang pandai beradaptasi dengan berbagai media papun. Manfaatkanlah berbagai berbagai saluran komunikasi marketing baik lewat online maupun offline. Sebab bagaiamanpun Indonesia merupakan wilayah yang luas. Berbeda dengan Singapura yang pasar dan investornya terbatas.

Sumber: Franchise. Juni 2017. Hal .100