ester Wenny Berwirausaha Sandal Cantik. Jawa Pos.19 Maret 2015.Hal.29

Kebingungan Ester Wenny menyiapkan kado malah berbuah bisnis manis. Sendal jepit cantik kreasinya diminati hingga ke Kalimantan.

Ferlynda Putri

ESTER Wennyingat sekali kejadian pada 2011. Undangan pesta ulang tahun salah seorang teman membuat dia berpikir keras. Wenny, begitu dia biasa disapa, tidak ingin kado yang diberikan terkesan biasa saja.

Mencari inspirasi, perempuan 50 tahun itu jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia menemukan sandal berbalut kain batik. dari sini Wenny memiliki ide untuk mengemas sendal jepit biasa tampil cantik dan menarik.

“awalnya, saya memakai kain perca untuk membuatnya. Kan ada tetangga yang penjahit,” ujar ibu dua anak tersebut. Kain perca yang dia dapat kebetulan pas untuk sepasang sandal. Kain itu Wenny balutkan ke sandal jepit biasa. Voila… jadilah sandal cantik dari kain perca.

“Tidak menyangka, teman saya itu malah memesan banyak,” katanya. Dari sini Wenny berkreasi pada sendal jepit. Pesanan terpenuhi tepat waktu. Dalam waktu singkat, banyak konsumen yang tahu produknya melalui sistem getok tular. Hingga sekarang setiap bulan tidak kurang dari 30 pasang sandal dia hasilkan. Harga yang dibanderol Wenny tidak mahal, sekitar Rp 45.000 untuk sepasang sandal.

Kain perca dianggap Wenny tidak sesuai dengan model yang diinginkan. Dia mulai mengganti bahan dengan kain katun jepang. Kain itu, menurut Wenny, lebih bagus.

Untuk bunga-bunga penghias sandal, dia memakai renda air. Sebab, bahan tersebut lebih mudah dibentuk. Akhirnya, sandal yang awalnya diberi label Sandal Perca itu kemudian berganti nama menjadi Sandal Cantik.

Meski banyak diminati, Wenny tidak memproduksi sandal cantik secara masal. Alasannya keterbatasan tenaga dan modal. Bukan berarti tawaran untuk mengembangkan wirausahanya tidak ada. “Dari Pemkot Surabaya pernah memberi tawaran. Tapi, saya tidak siap ketika harus meninggalkan anak-anak untuk mengikuti pameran,” ungkapnya.

Wenny lebih memilih mengurus anak-anaknya. Pekerjaan suaminya sebagai pendeta membuat dia harus mendampingi anak-anak belajar. “kalau ikut pameran, siapa yang menemani anak-anak mengerjakan PR?” imbuhnya.

Sejauh ini, selain Surabaya, Wenny memasarkan sandal kreasinya ke Samarinda, Kalimantan; dan Jakarta. “ini lewat mulut ke mulut. Di sana ada teman saya,” papar istri Kuswanto tersebut.

Wenny tidak pelit berbagi ilmu. Bahkan, Wenny membebaskan biaya belajar alias gratis. Siapapun yang ingin belajar mempercantik sandal jepit bisa datang ke rumah Wenny di Granting, Kecamatan Simokerto.

Sebelumnya, Weny memberikan pelatihan kepada tetangganya. Namun, tidak ada yang mengikuti jejaknya. Apresiasi datang dari Kecamatan Semampir. Sandal produksi Wenny sering dijadikan suvenir jika ada tamu. “saya ingin sandal cantik yang di produksi Bu Wenny menjadi ikon Simokerto,” jelas Camat Simokerto Henni Indriyaty.

Sumber :  Jawa Pos. 19 Maret 2015. Hal 29.