Sumber:https://beritajatim.com/forum-qa-asean-eropa-2025-bahas-tantangan-pendidikan-tinggi-di-uc-surabaya

Forum QA ASEAN–Eropa 2025 Bahas Tantangan Pendidikan Tinggi di UC Surabaya

3 Desember 2025

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya menjadi tuan rumah TrainIQA Workshop 3 dan ASEAN-QA Forum 2025, forum penjaminan mutu pendidikan tinggi yang mempertemukan lembaga-lembaga dari ASEAN dan Eropa.

Head of Institutional Development and Quality Enhancement UC, Lenny Rosita, mengatakan forum ini menjadi ruang berbagi praktik terbaik penjaminan mutu perguruan tinggi di kawasan ASEAN.

Peserta pelatihan merupakan pimpinan kampus, mulai dekan hingga wakil rektor, yang membawa proyek pengembangan mutu untuk dibimbing langsung oleh para mentor.

“Output-nya adalah tambahan ilmu, wawasan, dan inspirasi. Peserta membawa pulang proyek pengembangan mutu masing-masing yang telah dibimbing oleh para mentor,” ujarnya, Rabu (3/12/2025).

Ia menambahkan, tantangan utama penjaminan mutu di Indonesia masih berkutat pada beragamnya standar dan persyaratan akreditasi.

Selain BAN-PT, perguruan tinggi juga harus mengikuti lembaga akreditasi mandiri dengan standar berbeda, sehingga kampus dituntut membangun sistem mutu yang komprehensif, sederhana, dan aplikatif.

Melalui forum ini, universitas dapat mengadaptasi praktik dari negara lain yang telah lebih maju.

Forum tahun ini mengangkat tema peluang dan tantangan penjaminan mutu pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan.

Sejumlah pakar internasional hadir sebagai pembicara, di antaranya Frank Niedermeier dari University of Potsdam, Prof. Dr. Duu Sheng Ong dari Multimedia University Malaysia, dan Prof. Dr. Philipp Pohlenz dari University of Magdeburg, Jerman.

Prof. Philipp Pohlenz menyoroti tantangan utama bukan pada ketersediaan sistem penjaminan mutu, melainkan pada pemanfaatannya di dalam kampus.

Menurutnya, banyak sistem yang sudah baik namun tidak digunakan secara maksimal karena adanya resistensi saat kualitas dan kinerja dinilai. Padahal, sistem QA seharusnya menjadi sumber informasi untuk mengambil keputusan strategis.

Frank Niedermeier menambahkan, perkembangan AI mengubah pola pembelajaran, tetapi peran manusia tetap tidak tergantikan. Menurutnya, relasi antarmanusia tetap menjadi inti dalam proses pendidikan.

Ia juga menyebut pemilihan Universitas Ciputra sebagai tuan rumah didasarkan pada rekam jejak kerja sama yang telah terjalin dan kualitas institusi.

Kegiatan ini didukung DAAD Jerman dan melibatkan HRK, University of Potsdam, ASEAN Quality Assurance Network, European University Association, serta SEAMEO RIHED.

Forum berlangsung lima hari dan diikuti peserta dari sembilan negara, yakni Indonesia, Jerman, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, Timor Leste, Kamboja, dan Vietnam.

Peserta pelatihan TrainIQA berjumlah 35 orang, sementara ASEAN-QA Forum pada 4–5 Desember dihadiri sekitar 75 peserta. Seluruh negara ASEAN hadir kecuali Singapura. [ipl/but]