Gabungkan Fashion dan Teknologi, Hasilkan Output Stylish Multiguna
Jawa Pos. 25 Juli 2023. Hal. 20
Bikin Baju dengan LED sampai Jaket Pijat Sendiri
SURABAYA – Fashion kini bukan sekadar kain yang dijahit dan terlihat bagus saat dikenakan. Namun, sudah beranjak pada level yang lebih luhur saat dikolaborasikan dengan disiplin ilmu lain. Mahasiswa angkatan pertama kelas fashion & technology di Jurusan Fashion Product Designand Business (FPD) Universitas Ciputra (UC) Surabaya membuktikannya sendiri.
Dalam pemungkas kelas tersebut, mereka menjajal untuk membuat produk fashion yang inovatif dan fungsional dengan sentuhan teknologi didalamnya. Sebut saja produk bernama LEAD yang dibuat secara berkelompok oleh Adelene Kongdoro, Elyza Andressah, dan Justin Russel Yip. Justin menjelaskan, di dalam kata LEAD yang berarti pemimpin, ada unsur kata LED. Ya, mereka membuat karya fashion dengan LED yang lebih bisa go ahead ketimbang LED pada umumnya.
“Kami sempat interview dengan beberapa dancer dan kemudian tahu keluhan mereka. Jadi, mereka merasa cukup sulit menyesuaikan konsep tema dance performance dengan outfit yang akan dipakai,’ ujarnya. Justin menuturkan, kendala itu membuat para dancer acap kali harus terus-menerus membeli baju baru untuk setiap acara yang berbeda. Tentu hal tersebut membuat mereka tidak bisa menghemat bujet. Dan tidak bisa menerapkan sustainable fashion yang ramah lingkungan
“Para dancer melihat LED itu cukup mainstream. Artinya, bisa dengan mudah dipadukan sama beberapa konsep acara. Menurut mereka, cukup efisien jika ada yang membuat dan mengembangkan baju dance wear menggunakan LED,” terangnya.
Justin dan teman-teman satu kelompoknya pun melakukan riset penggunaan bahan hingga belajar merakit LED sendiri yang diselipkan di dalam baju bagian tengah, antara bahan utama dan furing, “Di bagian saku kiri dan kanan, ada baterai 9 volt dan sakelar. Kalau mau dinyalakan, tinggal masukkan tangan ke saku untuk memencet tombol on off, imbuhnya.
Karya inovatif lainnya diciptakan Nur Azlina Ali, Shellen Nataria, Aurelia PameliaTjandra,dan Reski Amelia Saputri.Keempatnya menginisiatori jaket pijat mandiri. Sesuai namanya, jaket itu punya fitur memijat untuk membantu pemakai dalam melegakan kelelahan.
Mereka terinspirasi dari banyak keluhankaum. muda usia produktif yang sering merasa lelah, capek, dan pegal. “Banyak anak muda yang dikit-dikit capek. Juga, dari pengalaman kami sendiri yang mudah lelah. Jaket pijat ini bisa dipakai sambil kerja, bahkan olahraga. Tidak akan copot karena AION sudah dijahit menjadi satu dengan jaketnya yang waterproof jelas Shellen.
Sementara itu, Nur Azlina menambahkan, jaket itu dilengkapi dinamo vibrator untuk mengaturgetaran pijat di bagian punggung. Tombol on off dinyalakan melalui aplikasi yang bisa diunduh di ponsel dan disambungkan lewat Bluetooth. Baterainya bisa di-charge dan bertahan hingga kurang lebih dua hari. (hay/c12/tia)
Berangkat dari Persoalan, Melalui Riset dan Uji Coba
DOSEN Fashion & Technology UC Surabaya Olivia Gondoputranto menyatakan, semua karya mahasiswa berangkat dari persoalan atau permasalahan. Jadi, proses kreatifnya diawali dengan riset. Output yang dihasilkan pun bervariasi dengan fungşi yang beragam.
“Mereka melakukan riset mengenai problem apa yang bisa diselesaikan dengan fashion,” ujarnya. Dia mencontohkan karya berupa topi tunanetra sebagai item fashion yang stylish untuk menggantikan tongkat. Topi itu dilengkapi sensor untuk mendeteksi benda-benda di sekitar penyandang tunanetra. Sinyal yang diberikan tentu membantu mobilitas penyandang tunanetra.
Ada pula baju yang dilengkapi heat pad untuk meringankan nyeri pada perempuan yang sedang menstruasi. Bantalan portabel dalam baju bisa dipindahkan ke bagian pundak atau perut.Bantalan itu dihubungkan dengan energi listrik untuk menyetel level panas atau hangat,
Yang tidak kalah inovatif adalah jaket anak dengan tracker untuk melacak keberadaan anak hingga sejauh 7 kilometer. “Produk itu berangkat dari tingkat kehilangan anak yang cukup tinggi. Bentuknya seamless dan bisa diaktivasi lewat ponsel. Goal besarnya, semoga semua karya mahasiswanya dikembangkan untuk diproduksi massal. Pada dasarnya, semua sudah bisa dipakai dan berfungsi dengan baik karena sebelumnya juga diuji coba, Namun, masih bisa disempurnakan lagi” papar perempuan yang sedang menempuh studi doktoral di Institut Seni Indonesia(ISI) Denpasar, Bali, tersebut. (hay/c14/ta)

