Kiki Wijarnako (42) menjembatani petani kecil untuk memasok pepaya callina ke pasar modern. Ia tak patah semangat meski usahanya sempat jatuh lantaran serangan penyakit. Budidaya inovasi nasional itu dipertahankan dengan dilandasi tekad untuk mengembalikan kejayaan sentranya.
Kiki menyuguhkan callina yang dipetik dari kebunnya. Legit yang tak menusuk kontan menyergap lidah. Pepaya itu sungguh terasa segar pada siang yang terik di Desa Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021).
Potongan pepaya oranye bergradasi yang cantik itu lembut dan berair. Empuknya buah selaras dengan keramahan Kiki yang menjelaskan kebunnya seluas 3.000 meter persegi. Di belakang rumahnya itu, sekitar 500 pohon pepaya tampak rimbun.
“Pepaya yang dipasok petani mitra tak kurang dari 10 ton per hari,” kata Kiki, menunjuk tumpukan pepaya di gudangnya. Truk-truk hilir mudik di pelataran parkir.
“Ada toko baru bisa ambil 3 ton per minggu. Dikirim dua kali,” katanya. Dengan semringah, ia mengungkap kan tingginya permintaan callina. Sesekali, ada persediaan berlebih, tetapi tak jadi persoalan bagi Kiki.
“Bisa disalurkan ke pasar tradisional atau pabrik koktail,” ujarnya. Setiap hari, penerimaan dan pengiriman pepaya berlangsung lewat kemitraan Kiki dengan sekitar 100 petani.
Jejaring Kiki yang luas meliputi Kabupaten Cianjur dan Sukabumi di Jabar hingga Kabupaten Tanggamus, Lampung Timur, dan Lam pung Selatan di Lampung, la mejembatani mitra-mitranya dengan pasar. Callina dikirim untuk 40 pihak, mulai dari pedagang di pasar basah hingga pusat perbelan jaan.
Kiki tak sekadar menampung komoditas, tetapi juga membina petani, mulai dari pembibitan hingga panen, agar standar mu tunya terpenuhi. “Dibantu pupuk juga meski tak banyak. Kalau belum tahu membudidayakan pepaya, petani diarahkan. Saya edukasi sampai pasca panen supaya menaikkan nilai jualnya,” ucap Kiki.
Penampilan, rasa, dan ukuran sangat berpengaruh terhadap harga Kiki membimbing petani untuk mempertahankan kualitas dan kontinuitas. “Kalau pepaya bagus, tetapi produksinya tak kontinu, percuma,” katanya.
Konsistensi Kiki menjaga mutu komo ditasnya terlihat di sejumlah toko. Pepaya itu, misalnya, dikirim ke Kebun Buah yang rapi, bersih, dan berpendingin udara di Bekasi, Jabar
Permintaan callina paling tinggi dibandingkan dengan pepaya lain. “Stoknya sering kurang,” ujar Supervisor Area Kebun Buah Wilayah Harapan Indah Joko Purwanto. Sementara itu, di toko buah yang termasuk jaringan ternama, di Kebun Jeruk, Jakarta, callina ditempatkan di depan pintu masuk.
Jadi pelarian
Callina hanya sekelumit dari khazanah buah-buahan Nusantara yang menjadi kampiun di rak-rak toko mentereng Mampu bersaing dengan komoditas impor, karya anak bangsa ini kerap disebut IPB 9 karena karya IPB University.
Berpijak pada kebanggaan itu, semangat Kiki untuk memuliakan callina terus menyala. Ia membudidayakan pepaya tersebut mulai tahun 2003. “Sebenarnya, pertanian malah jadi pelarian saya. Dulu, saya agen makanan ringan. Pernah juga jadi penjual mesin bahan bangunan,” katanya.
Semua usaha itu gagal hingga Kiki frustrasi. Ia pun berdiam di rumah dan mengamati keluarganya yang bertani. “Orangtua dan paman saya petani. Saya sedikit depresi lalu bantu-bantu mereka saja. Ayah saya juga pengepul meski hanya di kampung,” katanya. la sempat menanam singkong, jagung, dan pepaya lain sebelum terpikat callina. Harga callina ternyata menggiurkan. “Waktu itu, harga callina Rp 1500 per kilogram (kg). Harga pepaya lain Rp 500 per kg. Saya mulai bermitra dengan petani lokal,” katanya.
Kiki bahkan membantu mereka dengan pinjaman modal, bibit, pupuk, dan penyemprotan obat-obatan. Ia juga menyampai kan panduan.
Ia kemudian menikmati masa keemasan budidaya callina. Rancabungur lalu dikenal sebagai sentra pepaya itu. Jumlah pohon Kiki meningkat dari 275 batang menjadi 10.000 batang pada 2007. Sekali panen, setiap pohon meng hasilkan hingga 150 pepaya dengan berat 1-2 kg.
Kejayaan memudar
Busuk batang mendadak melanda perkebunan Kiki. Pohon membusuk dalam sebulan pada 2008 “Lahan harus diistirahatkan lebih dari lima tahun, padahal pasar sudah tersedia,” ujarnya.
la menjaga kepercayaan konsumennya dengan menampung callina dari provinsi lain, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Waktu itu, saya belum punya merek sendiri. Akhirnya, saya bisa menembus toko-toko mulai tahun 2011,” katanya.
Pasokan terus berjalan meski ia kerap gamang. Busuk batang sewaktu-waktu bisa menyerang perkebunan mitra Kiki. “Petani di Palabuhanratu (Kabupaten Suka bumi) sekarang hanya menghasilkan kurang dari 50 persen dari produksi normal,” katanya.
Petani ibarat kucing-kucingan dengan busuk batang Lahan kebun masih luas, tetapi mereka harus sering berpindah agar pepohonannya terhindar dari penyakit itu. “Saya sangat berharap, obat untuk mengatasi busuk batang bisa ditemukan,” katanya.
la bergeming menanam callina meski sisa pohonnya saat ini sewaktu-waktu bisa mati karena busuk batang. Gairah Kiki untuk merevitalisasi Rancabungur tak pernah padam. “Kalau solusi sudah ditemukan, saya tancap gas lagi mengintensifkan budidaya callina di Rancabungur,” ujarnya.
Risiko budidaya callina sangat tinggi, tetapi Kiki justru melihat celah untuk meraih peluang.
Sumber: Kompas. 10 Juli 2021. Hal. 16

