SURABAYA – Muncul sejak hampir satu dekade lalu, vapor alias rokok elektrik baru belakangan ini menjadi tren. Mereka yang ingin beralih dari rokok atau mereka yang tidak sekalipun merokok ramai-ramai menjajal, lantas menggemarinya. Vapor dianggap lebih sehat daripada rokok. Padahal, kenyataannya tidak begitu.

Vapor juga bisa bikin ketagihan, sama seperti akibat yang ditimbulkan rokok biasa. “Sifatnya adiktif,” ujar psikiater dr Aimee Nugroho SpKJ. Menurut dia, nikotin membuat seorang merasa rileks dan nyaman. Itulah yang merangsang reward system pada otak untuk menagih konsumsi berulang. Nikotin telah menjadi candu.

Bila konsumsi nikotin dihentikan, akan muncul withdrawal symptoms. Yakni, gejala berupa gelisah, tidak tenang, cemas, hingga sulit tidur. “Ini dampak dari sisi kejiwaan kalau tidak lagi pakai nikotin,” ucap Aimee.

Maraknya penggunaan vapor juga mendapat sorotan dunia medis. Hingga kini Kemenkes maupun badan pengawas obat dan makanan (BPOM) belum mengeluarkan analisis keamanan vapor. “Bisa dilihat dari kandungannya dulu,” ujar spesialis bedah RSUD dr Soewandhie dr Billy Daniel Mesakh SpB.

Menurut dokter yang sering menangani kasus bedah paru tersebut, jika bahan yang diisap mengandung nikotin sebagaimana rokok, vapor dinilai tetap berbahaya bagi tubuh. Perbedaannya hanya pada alat isap.

Dampak nikotin bagi tubuh sebenarnya seperti kafein pada kopi. Pada kadar tertentu, ia mampu merangsang semangat. Namun, paparan terus-menerus pada tubuh akan memicu metaplasi pada sel. Yakni, perubahan sel yang tidak bisa dikendalikan. “Menjadi toxic bagi tubuh. Ini berpotensi menyebabkan kanker paru-paru,” ucap Billy.

Selain itu, hasil pembakaran vapor akan menghasilkan karbondioksida dan monoksida. Senyawa tersebut cepat mengikat oksigen. Nah, kandungan karbon pada darah akan membuat hemoglobin kalah dalam mengikat oksigen. Padahal, hemoglobin membutuhkan oksigen untuk melangsungkan fungsi vitalnya menjadi kehidupan.

“Saat sisa pembakaran masuk dalam tubuh, karbon yang menang ketika bersaing dengan hemoglobin,” katanya. Akibatnya, seseorang yang dalam darahnya mengandung karbon akan merasakan sesak. Bisa juga masuk dalam tahap sulit bernafas. Billy menyebutkan, keluhan awal biasanya berupa gangguan saluran pernapasan. Contohnya, batuk-batuk. “Karena dianggap batuk biasa, belum sesak, jadi dibiarkan,” katanya.

Billy menambahkan, pihaknya juga meragukan bahwa vapor benar-benar tidak mengandung ter. Sebab, hingga kini belum ada alat ukur yang membuktikan. Dia menyebutkan, sebelum ada penelitian yang jelas, sebaiknya lebih berhati-hati mengisap vapor. Apalagi vapor juga berdampak pada orang sekitar yang terkena asapnya. Sama seperti perokok pasif yang bisa terserang penyakit berbahaya dari asap. “Kalau memang tujuan akhirnya berhenti merokok, jangan melalui jalan yang berbahaya,” tegasnya.

Dokter spesialis THT dan Bedah Kepala Leher dr Achmad C. Romdhoni SpTHT-KL(K) FICS juga tidak setuju dengan penggunaan vapor. Menurut dia, peggunaan alat tersebut juga berbahaya bagi tubuh. “Bisa terjadi iritasi kronis,” katanya.

Iritasi tersebut disebabkan ada asap yang masuk ke dalam tubuh. Bagian leher yang sensitif seperti pita suara dapat terganggu. Jika sudah iritasi, pita suara tidak bisa maksimal. “Suara jadi parau dan napas pendek,” tuturnya

 

 

Disuka karena Banyak Varian Rasa

PADA dasarnya vapor sama dengan rokok, yaitu menghasilkan asap. Bedanya, asap vapor berasal dari penguapan cairan yang diteteskan pada kapas di dalam lilitan kawat. Panas berasal dari kawat yang dialiri listrik. Sumber tenaganya baterai. Uap air tersebut memberikan sensasi yang sama dengan merokok.

Sensasi lain yang membuat ngevaping begitu digemari adalah varian rasa “asap”. Bermacam rasa itu berasal dari liquid yang diteteskan ke kapas. Ada krim, karamel, buah-buahan, ataupun mint.

Salah seorang vapers (julukan untuk pengguna vapor) Stevie Rangga Pamungkas mengatakan, nikotin cair tidak terlalu penting dalam liquid. Kehadirannya hanya membantu pecandu rokok mengurangi asupan nikotin secara bertahap . “Dalam tiap liquid selalu ada penjelasan tentang jumlah nikotin untuk membantu para vapers nentuin kadar liquid yang digunakan,” bebernya.

Pria yang kerap menjuarai ajang vape trick itu menjelaskan, vapor begitu di gemari karena “sedikit” sehat jika dibandingkan dengan merokok. Tidak menggunakan bahan baku tembakau seperti pada rokok juga menjadi alasan utama. Tidak juga mengandung tar, yakni sebuah zat penyebab flek kuning pada paru-paru. “Baunya tidak seperti rokok, jadi aman deh buat ndeketin cewek yang nggak suka cowok perokok,” candanya.

Stevie menilai, asap yang lebih banyak membuat sensai ngevaping lebih asyik daripada merokok. Adanya varian rasa membuat vapor bukan hanya milik kaum adam. Banyak juga perempuan yang kini menjadikan vapor sebagai “gaya hidup” terbaru mereka.

Chintya Hildani, misalnya, mengatakan menggunakan vapor sekitar empat bulan. Sensasi rasa yang hadir saat mengisap asap membuatnya jatuh cinta. “Banyak teman yang pakai, penasaran terus nyoba, eh asyik juga ternyata,” ucap mahasiswi salah satu universitas swasta itu. Efek yang lebih positif daripada rokok, alkohol, bahkan narkoba menjadikan vapor sebagai opsi lifestyle yang sehat.

 

UC Lib-Collect

Jawa Pos.29 Maret 2016.Hal 36

Gantikan Rokok dengan Vapor Sama-sama Bikin Kecanduan. Jawa Pos.29 Maret 2016. Hal.36