Sumber:https://mili.id/baca-19372-gelar-teater-musikal-cara-uc-surabaya-cegah-krisis-kesehatan-mental-gen-z
Gelar Teater Musikal, Cara UC Surabaya Cegah Krisis Kesehatan Mental Gen Z
14 Juni 2025
Surabaya, mili.id – Banyak cara untuk mencegah penyakit mental yang sering dihadapi Gen Z akibat tantangan membangun karir hingga sulitnya menjalin hubungan sosial.
Untuk mengatasi beberapa persolan itu, mahasiswa International Business Management (IBM) Universitas Ciputra (UC) menggelar seni teater musikal, Jumat (13/6/2025) malam.
Acara yang bertajuk “Bagong Crying Soul” itu digelar di Dian Auditorium ini disutradarai dosen IBM UC, Henry Susanto Pranoto, sebagai wujud representasi mewakili kegelisahan dan luka batin yang sering tersembunyi dalam diri generasi muda, khususnya Gen Z.
Henry mengatakan, acara ini melibatkan mahasiswa Universitas Ciputra dan siswa Sekolah Citra Berkat Surabaya, yang telah mempersiapkannya selama satu semester penuh.
“Pagelaran ini tidak hanya sebuah pertunjukan seni biasa, namun sebuah bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kasus kesehatan mental di kalangan remaja dan pemuda,” kata Henry, Sabtu (14/6/2025).
Berdasar data dari World Health Organization (WHO), sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Di Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan tahun 2023 menunjukkan peningkatan kasus depresi dan kecemasan pada remaja hingga 25 persen dalam dua tahun terakhir.
“Penyebab utamanya berupa tekanan sosial, kekerasan dalam rumah tangga, serta cyberbullying,” lanjutnya.
Menurut Henry, pagelaran ini mengangkat tokoh wayang Bagong karena sosoknya yang dikenal jenaka namun menyimpan kedalaman emosi yang sering kali tak tersampaikan. Karakter ini digambarkan tetap tersenyum meskipun sering menjadi korban bullying dan ketidakadilan.
“Generasi Z saat ini hidup dalam tekanan sosial yang sangat tinggi. Mereka terlihat aktif di luar, tetapi banyak yang menyimpan luka dalam diam. Melalui pertunjukan ini, saya ingin membantu mereka belajar untuk berani membuka diri dan mengekspresikan emosi. Kesenian adalah salah satu cara yang aman dan efektif untuk itu,” tambahnya.
Pagelaran ini juga menghadirkan elemen unik berupa musik orisinal ciptaan langsung oleh Henry serta musik hasil kolaborasi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Penonton diajak untuk mengenali dan membedakan nuansa emosional dari karya manusia dan AI, sebagai cara untuk menyadarkan bahwa teknologi dapat menjadi medium ekspresi yang membantu, bukan menggantikan, sisi kemanusiaan kita.
Set panggung didesain menjangkau ke dalam area penonton untuk menciptakan ruang intim antara pemeran dan audiens.
“Sehingga, penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diajak merasakan langsung beban emosi dan luka yang dialami para pemeran yang salah satunya berdasarkan kisah nyata mahasiswa, yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan bullying,” ungkapnya.
Henry menegaskan, Gen Z saat ini membutuhkan ruang aman untuk berbicara, mengekspresikan diri, dan merasa dimengerti.
Jika wadah tersebut tidak tercipta, Henry menilai Gen Z yang mengalami krisis mental akan terus menyimpan luka itu sendiri yang sering berujung pada keputusan ekstrem seperti menyakiti diri sendiri bahkan nekat mengakhiri hidup.
“Bagong Crying Soul menjadi wujud nyata dari kesadaran baru di kalangan pendidik dan seniman, bahwa seni bisa menjadi bahasa penyembuh yang kuat. Diharapkan pagelaran ini menjadi awal dari gerakan kolektif untuk membangun keberanian generasi muda dalam mengenali dan menyuarakan perasaan mereka,” pungkasnya.

