
Baru-baru ini Ubud, salah satu ikon wisata Bali yang tenar dengan ketenangannya, mendadak ingar-bingar. Seluruh elemen banjar (desa) dan perangkta kerajaan di Ubud dikerahkan untuk pelebon agung bagi Aa Niang Agung, istri kedua mendiang raja Ubud. Wisatawan tumpah ruah di Jalan Raya Ubud untuk menyaksikan prosesi agung yang memecah rekor Muri itu.
Pagi itu aktivitas disekitar Puri Saren Ubud dan sekitarnya lebih sibuk. Biasanya, area tersebut memang tak pernah sepi karena merupakan pusat wisata Kecamatan Ubud. Terletak dipermpatan jalan, puri (istana) tempat tinggal keluarga kerajaan Ubud itu berseberangan dengan pasar Seni Ubud. Dalam radius 1 kilometer (km) dari Puri saren ubud, ruas-ruas jalan ditutup. Digantikan sejumlah petugas PLN, polantas, dan panitia pelebon yang lalu lalang. Satu peleton tim gegana berlari-lari kecil mengikuti anjing yang mengendus-endus menyisir puri, memastikan bebas bom.
Kafe dan kedai-kedai kopi di sekitar puri tak kalah sibuk. Menunggu prosesi pelebon agung yang dimulai pada pukul 11.30, wisatawan memilih untuk nongkrong disana. Sejak pikul 08.30, hampir disetiap kafe, bangku terisi penuh. Di dalam puri, doa-doa dan puji-pujian dwibahasa, Sansekerta Bali, dibacakan bersahut-sahutan. “Kidung memang sudh dibacakan terus sejak pemandian. Selain doa untuk mendiang, juga agar suasana menjadi tentram.” Ungkap Tjok Abi, kerabat kerajaan.
Pelebon agung adalah prosesi kremasi adat bali khusus untuk raja Bali dab bangsawan kerajaan. Untuk masyarakat biasa, prosesi itu dikenal sebagai ngaben. Prosesi tersebut membutuhkan sejumlah properti. Tiga hal yang paling mencolok adalah bade, tratag, dan lembu cemeng. Ketiganya diletakkan disebelah barat Puri sren Ubud.
Bade adalah properti serupa bangunan yang menjulang tinggi. Untuk pelebon agung AA Niang, dibuat bade tumpang sia (tingkat 9). Ketinggiannya mencapai 27 meter. Simbol hewan-hewan menjadi bagian dasar bade yang dipakai kali ini. Paling bawah, ada lambang kura-kura, kepala gajah, kepala babi, dan terakhir ular. Di atasnya, pada ketinggian 17 meter, terdapat ceraken. Itu merupakan bilik yang akan diidi peti jenazah. Unyuk AA Niang yang merupakan istri raja, berkasta kesatria, dibuatlah tumpang 9 tingkat di atas ceraken setinggi 10 meter.
Bade itu sangat indah dengan ornamen-ornamen khas Bali. Beratnya konon mencapai 9 ton. Lebar antarsayap ornamennya 9 meterarsitek bade- yang biasa disebut undagi- itu adalah Tjokorda gde raka Sukawati (Cokde), mantan bupati Gianyar, keponakan mendiang. Untuk menaikan peti menuju ceraken, dibuatlah tratag. Tratag semacam tangga yang dibangun melengkung. Di tubuh konstruksinya, kayu-kayu dibalut dengan kain putih.
Pusat perhatian lain adalah lembu cemeng. Replika hewan seberat 2 ton itulah yang akan menjadi sarana kremasi jenazah. “ It’s a horse. Obviously it’s not a cow,” debat Grace Jull saat saya memberitahunya bahwa itu adalah lembu. Jull adalah turis asal kanada. Kami berkenalan secara tak sengaja karena berbagi spot paling nyaman untuk menonton prosesi.
Kembali ke kuda, eh lembu. Melihat besarnya lembu cemeng dan bade, rasanya tidak masuk akal kalau keduanya akan diangkut manual oleh manusia, seperti saya, beberapa turis melongok ke bawah penyangga bade dan lembu cemeng mencari roda. Nihil, mesin penggeraknya benar-benar ratusan orang (pengarak) dengan semangat gotong royong. Jumlahnya konon lebih dari 400 orang. Pembagiannya, 300 orang untuk bade dan 100 orang untuk lembu. Para pengark itu berasal dari 15 banjar di wilayah Ubud.
Puri Saren Ubud ke Setra Jaba Pura Dalem Puri, tempat kremasi, berjarak 800 meter. Dibuat strategi estafet untuk mengantarkan jenazah. Ada delapan titik henti untuk bade. Artinya, setiap 100 meter pengarak bisa ambil napas. Melihat betapa beratnya benda-benda itu saat diusung dan wajah-wajah pengarak yang memerah, sontak ketika mereka berhenti dititik estafet, semua orang yang menyaksikan bersorak menyemangati. Tepuk tangan bergemuruh! Suit-suitan sahut-menyahut! Para pengarak tertawa lega dan bangga.
Sampai dilokasi kremasi, rombongan disambut tari-tarian. Lembu yang gagah itu diletakkan di atas tempat pembakaran. Kain putih yang membelit perutnya dilepaskan. Kemudian, secara horizontal tubuh lembu cemeng dibuka. Saat bade datang doa-doa dipanjatkan. Bade diselaraskan dengan tratag yang dibuat pas sebagai jembatan antara ceraken dan perut lembu yang dibuka. Peti jenazah kemudian dimasukkan ke dalam perut lembu, lalu tubuh lembu dikembalikan seperti semula. Tak lama kemudian, proses kremasi dilakukan. Api berkobar, perlambang penyucian. Keluarga menyaksikan dengan khdmat. Prosesi pelebon agung itu berlangsung selama kurang lebih empat jam. Pada pukul 15.30, seluruh rangkaian acara selesai. Pelebon agung tak hanya menjadi sarana bagi keluarga untuk mengntarkan mendiang dengan baik, tapi juga menjadi pembangkit geliat wisata di Bali yang sempat lesu karena meletusnya Gunung Agung.
Diantar keluarga Jenazah :
Dalam peti diusung secara estafet oleh keluarga sepanjang tratag untuk diletakkan di ceraken pada bade.
Tuntutan Yang Kuasa :
Setiap prosesi harus terlebih dahulu disertai dengan doa agar pelebon agung terlaksana dengan lancar.
Asyik Berkostum :
Dia bukan kenalan saya, Grace, Jull, tapi begitulah pemandangannya. Banyak turis yang ikut berbusana adat Bali.
Tip melihat pelebon/ngaben :
- Bawa kain Bali atau sekalian pakai baju adat. Namun, pastikan tetap nyaman untuk berlari-lari saat mengikuti arak-arakan.
- Topi dan kacamata hitam akan jadi penyelamat dari terik matahari.
- Mulailah menonton dititik start dimana bade dan lembu cemeng berada.
- Jika ingin berfoto dekat dengan bade & lembu cemeng datang lebih awal. Sebab, setelahnya akan sulit.
- Selama prosesi doa, sebaiknya jangan berisik dan memotret terlalu dekat. Hormati prosesinya.
- Setelah prosesi peletakkan jenazah di ceroken, tidak perlu menunggu lagi. Mulailah berlari sejauh-jauhnya mendahului rombongan. Lalu, cari tempat yang agak tinggi untuk menonton.
- Perhatikan tempat anda berdiri. Arak-arakan butuh tempat lebar dan mereka tidak bisa berhenti hanya gara-gara menabrak sesuatu. Berat bos!.
- Setelah lembu cemeng lewat, baru bade. Setelah itu, anda sebaiknya berlari lagi mendahaului keduanya untuk menonton sekali lagi atau terus berlari sampai ditempat pembakaran jenazah.
- Jika sampai di tempat pembakaran jenazah lebih dulu, anda akan bisa menonton prosesi penyambutan kedatangan. Ini yang saya lewatkan :’(.
Sumber : Jawa-Pos.17-Maret-2018.Hal_.8
