Sumber:https://beritajatim.com/genai-ancam-homogenisasi-universitas-ciputra-ingatkan-desainer-muda-jaga-dna-lokal

GenAI Ancam Homogenisasi, Universitas Ciputra Ingatkan Desainer Muda Jaga DNA Lokal

12 November 2025

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya menyoroti risiko serius di balik adopsi Generative Artificial Intelligence (GenAI) yang kian masif di industri kreatif.

UC Surabaya mendorong desainer muda untuk tidak sekadar menjadi ‘operator’ AI, tetapi wajib memperkuat design positionality (kesadaran posisi diri) dan pluriversality (keberagaman nilai) agar karya mereka tidak kehilangan konteks budaya.

Dean of SCI Universitas Ciputra, Dr. Susan mengakui AI memang menawarkan kecepatan dalam produksi visual. Namun, ia memperingatkan adanya bahaya homogenisasi budaya dan estetika global yang seragam.

“AI bisa menggambar lebih cepat, tapi dia tidak paham konteks sosial dan budaya di balik desain,” kata Susan, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, di sinilah letak krusial positionality. Desainer didesak untuk sadar dari mana ia berpikir, nilai apa yang dibawa, dan siapa yang diwakili oleh karyanya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Data World Economic Forum (2024) menunjukkan sekitar 60 persen pekerjaan di industri kreatif global kini bersinggungan langsung dengan teknologi AI.

Ironisnya, laporan McKinsey (2023) mencatat, meski lebih dari 40 persen desainer muda aktif memakai tools generatif seperti Midjourney, hanya 12 persen desainer di Asia Tenggara yang secara eksplisit mempertimbangkan konteks etik atau budaya saat menggunakannya.

“Pendekatan pluriversality (keberagaman cara berpikir) adalah cara melawan dominasi tunggal itu, termasuk dengan mengakar pada budaya Nusantara,” jelas Susan.

UC menuntut mahasiswanya menjadi pemikir kritis, bukan sekadar kreator teknologis. Tujuannya, memastikan desainer muda Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga pencipta narasi baru yang berakar pada nilai lokal.

“Kami ingin mahasiswa paham tanggung jawab sosial di balik karya mereka. Ini lebih besar dari sekadar inovasi. AI memang bisa menghasilkan bentuk, tapi hanya manusia yang bisa memberi makna,” tandasnya. [ipl/but]