GRESIK – Tas berbahan kulit ular selalu menjadi objek buruan para perempuan sosialita. Motifnya yang elegan tak pernah ketinggalan tren. Replica premiumnya menjadi item terlaris di butik- butik di Gresik.
“Saya impor dari Hongkong 20 piece. Belum seminggu sudah diserbu pengoleksi tas dan sekarang hanya menyisakan enam tas,” ujar Titi Pangestuti, pemilik butik.
Mantan model era 1990-an itu menjelaskan, pengoleksi dan penggila tas branded bisa memborong enam hingga delapan tas dalam sekali beli. Mereka bukan hanya perempuan karir, banyak diantara merupakan ibu rumah tangga yangs selalu ingin terlihat stylish.
Tas yang seluruhnya berbahan kulit ular itu bisa dikenakan untuk dua model. Yakni, dijinjing atau diselempangan dengan tambahan tali panjang.
Beragam varian warna menjadi pilihan yang menggoda mata. Misalnya, perpaduan warna dasar putih dengan corak kuning kunyit, kuning terang, hijau, hitam, dan abu – abu. Ada pula warna hitam dan kuning yang mengkilat.
Titi menuturkan, kilap itu berasal dari bahan kulit yang diolah lagi dan dipernis. Uniknya, setiap corak yang melebur ke warna dasar terletak di bagian – bagian tertentu. Corak itu mengelilingi bagian tengah, bawah, samping kanan dan kiri, serta di gagang tas.
Hal tersebut juga menjadi salah satu penanda bahwa tas yang dihasilkan dari bahan kulit yang sama. Satu bahan untuk satu tas. “tidak seperti tas tiruan KW yang kulit ularnya terputus. Jadi, hanya sebagai tempelan,” ujarnya.
Titi menambahkan, tas premium juga bisa ditandai dengan melihat jahitam yang rapid an bentuk yang presisi. Tas tersebut tidak memerlukan perawatan khusus yang njelimet. Cukup di lap biasa saat terlihat berdebu. Khsusus yang mengkilap atau dipernis bahkan bisa tahan air.
SUMBER: Jawa Pos 23 Juli 2016. Hal-37

