Kapan kali terakhir Anda mendengar grup music karawitan yang merilis album karya sendiri? Well, kalau begitu, sambutlah Djomblo Ensembel. Grup karawitan asal Malang itu menelurkan album berjudul Phi. Aransemennya unik, penggarapannya modern. Tapi tetap tidak meninggalkan basic tradisionalnya.
PARA penggagas musik karawitan dengan embel embel “kontemporer” sering menemukan kerancuan dalam meramu komposisi musik. Memang mereka memadukan gamelan dengan alat-alat musik modern. Namun hasilnya, gamelan hanya sekadar menjadi pelengkap. Nuansa modemya malah lebih dominan. Atau kalimat sederhananya: gamelan hanya jadi tempelan.
Berbeda dengan Djomblo Ensembel. Mereka meramu musik gamelan kontemporer. Namun tak melepaskan atau mengurangi unsur-unsur dasar bunyi-bunyian tradisionalnya. Inovasi mereka terletak pada variasi ketukan maupun nada yang lebih berwarna. Itulah yang menjadi ciri khas musik Djomblo Ensembel.
“Satu dua tembang pernah kami tampilkan dengan memadukan unsur musik jazz. Namun kami telah memperkirakan untuk memilah komposisi. Sehingga tak ada satu unsur yang terdengar dominan,” papar Willyday Onamlay, salah satu anggota sekaligus salah satu komposer Djomblo Ensembel.
Pada 2016, Djomblo Ensembel menelurkan album perdana yang bertajuk Dedes, How are You?, Album tersebut direkam secara live saat melakukan pementasan di berbagai tempat. Hasil rekaman dituangkan dalam bentuk compact disc atau CD.
Memang telah banyak grup gamelan dengan lagu-lagu tradisional yang menampilkan format live dalam CD mereka. Namun memainkan lagu ciptaan sendiri dan direkam secara live dengan alunan musik gamelan, sejauh ini hanya Djomblo Ensembol yang melakukannya.
Djomblo Ensembel memang memiliki misi yang ambisius. Mereka ingin menjadi barometer karawitan di Indonesia. Khususnya Jawa Timur. “Terutama soal karya dan album yang berbasis karawitan dan gamelan dengan model non-klasik, yang dipatenkan dalam bentuk rilisan fisik,” ungkap Willyday.
Misi mereka yang lain adalah memodernkan persepsi masyarakat tentang gamelan. Bahwa memadukan unsur gamelan dan musik modern bukan hanya masalah mana yang lebih dominan. Namun lebih pada memutakhirkan komposisi musik dan mengolaborasikannya dengan peranti peranti musik digital yang menunjang.
“Landasannya memang dari unsur gamelan klasik. Tapi nantinya harus diramu menjadi bentuk yang lepas dari klasik. Tanpa meninggalkan bentuk nada khasnya,” ujar pria 25 tahun dengan nama panggung Willyday Namali tersebut.
Sejak 2016, praktis lima tahun sudah mereka tidak merilis album. Sejak Desember 2020, para personel Djomblo Ensembel antusias berlati Mereka mengerjakan komposisi musik yang rumit. Ada tujuh lagu yang digarap. Dikomandoi oleh sembilan) komposer, beserta para niyaga atau pemain musik. Totalnya sebanyak 15 orang. Proses tersebut berjalan selama kurang lebih lima bulan.
Tentu mereka tetap setia dengan genre karawitan. Namun kekhasan mereka adalah gaya karawitan Gagrak Malangan yang identik dengan alat musik ritmis tradisional berupa kendang gedhug. Pola ketukan yang dihasilkan cenderung rancak dan bertalu-talu. Variatif dan mengisi keseluruhan komposisi musik.
Mereka juga memadukan unsur-unsur bunyi gamelan klasik dengan peranti musik digital seperti synthesizer. Warna vokal sindennya (sang penembang) cenderung berkarakter jazz. Komposisi unik itu tampil dalam salah satu lagunya berjudul Gd. Day Dreaming, St. Wolu.
Ketujuh komposisi lagu itu diproduksi menjadi sebuah album berjudul Phi. Dirilis dalam format CD bulan ini. Proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Hafidh Tepeng dan Willyday. Sedangkan kover album didesain oleh Imarafsah Mutianingtyas.
Berkaca dari album pertama mereka yang laris manis di pasaran, Djomblo Ensembel optimistis. Bahwa album kedua ini akan menyusul kesuksesan album pertama. Semua album diproduksi secara indie dengan label mereka: DJMBL. Produsernya bernama Faris Afrizal.
Djomblo Ensembel yang dibina oleh Anang Brotoseno, didirikan pada 2012. Salah seorang inisiatomya bernama Noerman Rizky. Mulanya anggota Djomblo Ensembel berasal dari alumnus SMPN 4 Malang. Yang kerap memenangkan perlombaan seni. tingkat nasional, termasuk karawitan. “Perlahan-lahan kami mendapat banyak anggota. Masyarakat banyak yang tertarik. Bisa jadi karena musikalitas kami unik dan idealis,” duga Willyday.
Idealisme dan inovasi merokalah yang melahirkan dua album yang cukup populer. Pemilihan judul album pun ditentukan dengan pertimbangan makna filosofis. Seperti album Phi. Phi merupakan pengembangan dari kata pitu. Atau notasi ketujuh dari laras gamelan pelog. Selain itu dalam album tersebut juga terdapat tujuh komposisi lagu.
Phi dapat bermakna pula sebagai rumusan matematika. Phí adalah 22/7 yang digunakan untuk menghitung lingkaran. “Setiap lingkaran yang memiliki diameter kelipatan tujuh, selalu menggunakan rumus Phi itu,” ujarnya.
Djomblo Ensembel akan terus berinovasi di dalam lingkaran seni tradisi karawitan. Dengan gerak dinamis dan idealisme tinggi, Djomblo Ensembel melahirkan musikalitas yang berkarakter kuat. (Retna Christa-Guruh Dimas)
Sumber: Harian Disway. 27 Juni 2021. Hal.40-41

