Pemakaian masker wajah guna memperlambat penyebaran Covid-19 sudah menjadi praktik umum. Namun, banyak orang memekai masker secara keliru sehingga SARS-CoV-2 bisa menembusnya. Karena itu, masker ganda perlu dipakai secara benar.

Ahmad Arif

Banyak kisah orang tetap tertular Covid-19 meski disiplin memakai masker saat berada diluar rumah. Hal ini dialami Fatima (SCI), penyintas Covid -19 dari Jakarta Selatan. Sekalipun sulit memastikan sumber penularannya, ia menduga terpapar saat naik kereta akhir Desember 2020. “ saya selalu memakai masker. Waktu itu, kerta agak penuh sehingga tidak bisa jaga jarak, dan saat itu memakai masker kain,” kisah Fatimah.

Sehari kemudian ia mengalami demam dan kehilangan penciumzn. Tiga hari kemudian dia memeriksakan diri dan hasilnya positive Covid-19. Setelah menjalani perawatan Selma 10 hari, ia kembali pulih.

Kisah serupa diutarakan Iman (44), yang merasa selalu disiplin menerapkan protocol kesehatan, tetapi positif Covid-19. Iman yang menjadi anggota satgas Covid-19 di kantornya menghindari kendaraan umum. Iia memilih bersepeda motor atau menaiki motor.

“Saya disiplin menaati protocol kesehatan. Saat pergi ke warung ada orang yang tidak memakai masker, saya batal belanja. Prptokol kesehatan di kantor juga katat. Selama bekerja selalu jaga jarak dan bermasker,” kata Iman yang baru dua minggu terakhir dinyatakan negatif Covid-19.

Seperti Fatima, Iman memakai masker kain tiga lapis.

Di tengah penularan Covid-19 di komunitas yang amat tinggi, tak mudah menentukan dari mana kita tertular. Apalagi, penyakit ini bisa ditularkan orang tanpa gejala, yang mengkin berada di lingkungan terdekat kita.

Pemyebabnya, SARS-Cov-2, virus pemicu Covid-19, bisa bertahan diudara dalam bentuk aerosol dan tetesan amat kecil. Penggunaan masker yang kurang baik mutunya atau dipakai dengan tidak tepat menjadi celah penularan.

“Saya setuju dengan saran CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Amerika Serikat yang menganjurkan pemakaian masker 2 lapis dengan cara benar, terutama mengantisipasi varian baru lebih menular,” kata dokter dan epidemiologi Indonesia di Grifith University Dicky Budiman.

Covod-19 terutama disebarkan lewat tetesan (droplet) mengandung virus yang dilepaskan saat orang berbicara atau batuk. Mereka bisa menginfeksi orang lain dan membuatnya sakit jika tetesan itu mendarat di mulut tau hidung orang ataupun terhirup dari udara.

Sesuai panduan CDC pada 5 Oktober 2020, selain melalui kontak langsung atau tetesan, Covid-19 bisa menular melalui udara (airbone). Dalam hal ini paparan pernapasan yang mengandung virus bisa mencapai jarak 1,8 meter, dan bertahan berjam-jam.

Jumlah studi menunjukan, masker menjadi penghalang fisik tetesan itu.   Sebagai contoh, masker kain memblokor 40-60 persen tetesan. Adapun masker N95 dapat memblokir 95 persen partikel amat kecil, termasuk virus.

Hingga kini ketersediaan masker N95 bermutu bagus terbatas dan mahal sehingga direkomendasikan agar dipakai kalangan medis yang berisiko terpapar Covis-19 lebih tinggi. Warga dapat meningkatkan perlindungan dengan memodifikasi masker medis dan masker kain.

Masker ganda

Mengacu pada publikasi CDC, 19 Februari 2021, masker bedah sebaiknya dilapisi masker kain dan disebut masker ganda. Cara lain, masker bedah dipasang rapat sekitar wajah untuk mencegah kebocoran udara sekitar tepi masker. Jadi, sebaiknya membuat simpul didekat agar kontur masker bedah lebih dekat ke wajah.

Panduan ini didasari percobaan oleh epidemiologu CDC John Brooks dan tim. Percobaaan melihatkan pengukuran jumlah partikel mencapau kepala tiruan dari simulasi batuk. Hasilnya, kombinasi masker ganda memblokir lebih dari 85 persen partikel dibandingkan 56 persen dan 51 persen masing-masing untuk masker bedah dan masker kain saja.

Studi itu tak melihat efektifitas masker respirate, seperti N95 atau KN95, yang direkomendasikan bagi tenaga medis. Riset ini juga memiliki keterbatasan yang tak dapat digeneralisasikan untuk pria dengan janggut dan rambut wajah, yang bisa mengganggu penggunaan masker, atau bagi anak-anak, yang wajahnya lebih kecil.

Perlu dipahami, penggunaan masker ganda tak disarankan sama-sama memakai masker bedah karena hal itu tetap berisiko memicu kebocoran dari samping. Namun, pentig memakai masker kain sebagai pelapis luar. Caranya, gunaka bahan scuba yang lebih melekat di wajah demi mempererat lapisan masker bedah bagian dalam ke hidung dan mulut serta mencegah kebocoran dari samping.

Beberapa riset lain mendukung pentingnya memodifikasi demi mencegah kebocoran dari tepi masker, seperti menambah kawat pada masker sekitar areahidung. Misalnya, makalah yang diterbitkab di JAMA Internet Medicine dan dipimpin ahli biologi Philip Clapp mengukur efisiensi masker dan memperbaiki penutup wajah. Hasilnya memodifikasi meningkatkan filtrasi masker bedah dari 39 persen menjadi 80 persen.

Studi lain dari aerodinamika David Rothamer yang diunggah medicov pada 4 januari 2021 menemulan, sebagian besar masker tidak pas di wajah sehingga memungkinkan lebih dari 50 persen kebocoran. Dengan memberikan kawat dilekatkan pada area sekitar hidung, hal itu meningkatkan efisiensi penyaringan masker.

Untuk mencegah kebocoran ini, kita juga bisa memakai tiga karet gelang dan penjepit kertas untuk mengikat masker agar lebih menempel diwajah, sperti ditunjukan kajian dokter Daniel Runde dalam Journal of American College Of Emergency Physicians Open pada 1 Desember 2020/ studi itu menyimpulkan teknik ini menawarkan perlindungan lebih baik dari virus diudara saat dikenakan dengan masker bedah.

Pemakaian masker dengan benar jelas amat penting untuk melindungi kita dari paparan SARS-CoV-2. Bahkan seandainya virus ini menerobos karena celah terbuka, masker yang kita kenakan tetap berguna.

Berdasarkan makalah Monica Gandhi dan rekan-rekannya di University of California, San Fransisco di The New England Journal Of Medicine, 29 Oktober 2020, pemakaian masker mengurangi keparahan saat kita tertular Covid-19. Jika tetesan pernapasan mengandung SARS-CoV-2 yang melewati masker lebih sedikit, berarti mereka menerima dosis virus lebih rendah.

Namun, masker bukan satu-satunya cara melindungi kita dari Covid-19. Hal itu perlu dikombinasikan tindakan perlindungan lain, seperti menjaga jarak, menghindari keramaian, serta senantiasa menjaga kebersihan tangan.

 

Sumber: Kompas.1 Maret 2021.Hal.13