Lima tahun terakhir, tiupan seruling Gus Teja terdengar di hampir semua sudut Bali mulai toko cendera mata, warung, restoran, kafe, “lounge”, hotel, hingga bar.  Musisi berusia 35 tahun berhasil membawa suling yang awalnya dipandang sebelah mata dalam musik Bali ke panggung utama.

OLEH AYU SULISTYOWATI

Setelah namanya melambung Gus Teja makin rajin hasil.  Ketika ditemui Kompas, per- tengahan Juni lalu, Gus Teja tengah menciptakan sebuah lagu.  la meng- gumamkan lirik-lirik lagu dan me rekamnya.  Setelah itu, ia menuju ke studio musik yang ada di Rumah Sambil mengulang rekaman suaranya sendiri, ia memainkan gitar, rindik, dan seruling Proses pembuat- sebuah lagu yang terus berjalan hingga selesai satu album.

Lagu-lagu itu seolah tercipta begitu saja dari gumaman Gus Teja.  Tak Semun lagu tercipta dari inspirasi sekitar dan didendangkan begitu saja lantas.  Ya, itu yang terjadi, “kata Gus Teja menjelaskan proses ada satu lagu pun yang ditulis dengan tidak balok.” Saya memang tidak memerti tidak balok atau tangga nada pembuatan lagu.

la merasa tidak perlu malu meng- akaui dirinya tak bisa membaca tidak balok.  “Kalau membaca nada kara- witan saya bisa,” katanya.

Proses percepatan- nya, yang jelas lagu-lagu Gus Teja nyaris setiap saat terdengar di banyak tempat di Bali Bahkan, musikya merembes ke mancanegara lewat penjualan album fisik dan digital.

Gus Teja mengatakan, sejak awal ia memung mendapat masukan dari saudaranya untuk membuat musik yang bisa didengarkan oleh semua orang termasuk orang-orang asing la pun mencari inspirasi agar musiknya bisa mendunia tanpa meninggalkan jiwi Bali-nya.

” Siapa pun yang mendengurkanmusiknya, saya kerharas orang bahasa teringat Gus Teja asal Bali, “katanya.

Gus Teja memilih suling sebagai instrumen utama musik buatannya la menggunakan suling bali dan aneka suling dari sejumlah daerah atau terdengar damai ia padu dengan negara lain.  Tiupan silingnya yang ka musik tradisi atau pun Barat.  Maka, terdengarlah alunan musik yang kaya, tetapi ringan untuk didengar seka- ligus menenangkan.

Album perdananya, Rhythm of Paradise (2009), mendapat fasilitas. Banyak orang membelinya sebagai sebut juga memenuhi pasar lounge hangat dan laku sekitar LO00 keping cendera mata dari Bali, Album ter- music yang tumbuh di Bali.  Sebelum Gus Teja mengeluarkan al- bumnya, musik di lounge pasar diisi oleh musik-musik digital ber- nuansa Bali yang sebagian diproduksi dengan komputer.

Sukses dengan album pertama, Gus Teja mengeluarkan album kedna, Flute for Love, dan ketiga, Ulah Egar, pada 2015. Secara total ketiga album fisik Gus Teja telah terjual 60000 keping.  la tak menyangka albumnya digemari banyak orang, termasuk anak-anak muda Bali yang sebelum- nya tidak meminati suling .

Jejak Gus Teja

Gus Teja jatuh cinta pada usia dini.  la sudah mampu memainkan suling dan beberapa instrumen gamelan ketika usianya baru empat tahun.  Ketika memasuki usia SMP ia sudah bisa membuat suling sendiri.  Sebagian dia jual demi men- dapatkan uang tambahan.

Kecintaannya pada suling mem- bawanya masuk ke Institut Seni In- rawitan.  Di sana, ia makin larut me nekuni suling Sebuah pilihan yang buat sebogian orang yang kurang strategis donesia USI) Denpasar Junisan Ka- lantaran suling sering kali ditampilkan sehagal instrumen pelengkap Suling bukan alat musik yang kecil anak muda Bali sehingga alat musik itu kian termarjinalkan.

“Jarang anak muda yang berminat membunyikan suling Wajah terlihat jelek kalau lagi meniup suling Tak bisa senyum dan bergaya Berbeda kalau main alat musik lain, seperti kendang, pemainnya masih bisa ber- gaya dan wajahnya tetap terlihat,” katanya.

Semakin jauh mendalami suling, semakin kuat ohsesi Gus Teja untuk memopulerkan kembali suling Se- tidaknya di kalangan anak mudu Bali.  la un beripaya ihenciptakan lagu dengan suling sebapni volal utama- nya.  Pengiringnya bisa aneka macam miusik.  baik musik tradisi maupun Barat.  Pada 2005, ia membentuk grup Gus Teja World Music bersama enam deretan.

Di samping itu, Gus Teja menyiap- kan lau-laga untuk album perta- manya.  la merekam sendiri laga-lagu itu dibuntu istri dan keponalcannya.  la mengaunakan uang tabungan ununtuk membiayai pembuatan album.  Hal itu membuat keluarganya setuju karena mereka khawatir album pertama Gus Teja tidak laku.  Kalau itu terjadi, tabungan akan benar-be- nar melayang.

Gus Teja tetap jalan terus.  Te- kadnya untuk membuat album tidak bisa menyesuaikan.  Album bentuk disket kompaet (CD), ia menawarkannya ke beberapa toko, Namun, sebagian besar toko menolak untuk menjajakan album perdana Gus Teja.  Hanya ada satu tolko kecil di Ubud, Kabupaten Gi- anyar, yang bersedia menjual albunm itu meski dengan sikap pesimistis dan 1sedikit ogah-ogahan.

Hampir setiap hari Gus Teja- nengok rak toko tensebut untuk memastikan apakah ada yang membeli CD yang dijual Rp 100000 per keping itu.  Seiring wuktu, satu per satu album CD itu terjual.  Gus Teja menam- hahkan terus dan terus.  Hingga akhir- nya Gus Teja dan pemilik toko ter- kejut karena album tersebut laris manis.

pada beberapa teman.  Upaya itu kerabat, atau acara banjar bermun- culan.  Sekali pentas ia dibayar di luar itu, Gus Teja melancarlan promosi sederhana dengan CD-nya secara cuma-cuma-nyata berhasil.  Undangan untuk tampil di acara pesta teman. Rp 500000, Namun, kadang ia tidak dibayar alias gratis.

Seiring dengan meroketnya popularitas Gus Teja, undangan pentas tidak hanya datang dari Bali, tetapi juga dari daerah lain, bahkan manca- negara seperti Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan.  “Saya senang jika su- ling saya menginspirasi orang lain,” katanya.

Yang lebih menyenangkan Gus Teja adalah usahanya untuk membawa permainan dari pinggir ke panggung lihat anak-anak Bali mendengarkan permainan sulingnya.  Lebih bahagia lagi ketika melihat anak muda Bali berjalan.  utama sudah berhasil.  Ia sudah bisa memainkan lagi suling Jika kondisi seperti ini bertahan, yakin akan regenerasi pemain suling di Bali.

 

Sumber: Kompas 22 Juli 2017. Hal 16