Jawa Pos 31 Agustus 2014 hal 29,39

Setiap umat Katolik pasti punya harapan bertemu paus, pemimpin tertinggi gerejanya. Jonathan Chanutomo bisa meraih kesempatan itu. Tak sekadar bertemu, dia juga memberi kado karya seni nan elok.

PRISKA BIRAHY

LAUTAN manusia terbentuk di tenda Shrine of Solmoe, tempat lahirnya Santo Andrew Kim Dae-geon, pastor pertama dari Korea Selatan. Mereka tidak sedang berziarah di kawasan Dangjin, tempat lahirnya kekatolikan di Negeri Ginseng itu.

Saat itu, 15 Agustus, orang-orang muda peserta Asian Youth Day (AYD), konferensi orang muda Katolik dari Asia-Pasifik, sedang menyemut menantikan orang yang mereka hormati: Paus Fransiskus. Suasana cukup sesak. Saling desak, saling sempit, saling selinap. Semua berupaya mencapai barisan terdepan untuk sekadar bisa bertatap muka langsung, bahkan menyalami Sri Paus Fransiskus.

Hiruk pikuk itu tak menyurutkan batin Jonathan Chanutomo. Dia sudah terbang menyeberangi lautan untuk momen tersebut. Dia sudah melampaui kesusahan mendapatkan legalitas serta visa untuk berpartisipasi dalam AYD itu. Satu demi satu berisan terlampaui, Jonathan pun berhasil menyelinap ke barisan terdepan kerumunan tersebut. “Saya piir, lebih baik dekat pintu agar bisa dekat dengan paus,” kata alumnus Universitas Ciputra angkatan 2007 tersebut.

Ya, Jonathan memang perlu mencari tempat khusus itu. Sebab, dia sudah mempersiapkan sebuah hadiah spesial yang akan dipersembahkannya kepada pemimpin gereja tersebut. Yakni, lukisan. Ide itu sudah muncul saat dia ditawari oleh seorang romo untuk mengikuti acara tiga tahunan tersebut. “Saya diberi tahu pada awal Maret. Langsung kepikiran untuk bawa sesuatu buat paus,” ungkap ilustrator itu.

Ya, bertemu dengan paus tidak seperti bertemu dengan artis. Bertemu dengan wakil Yesus di dunia tersebut kerap penuh liku-liku.

Kadang ada yang berhasil, banyak pula yang gagal. Itu pula yang dirasakan sulung di antara dua bersaudara tersebut.

Usahanya sebagai tukang gambar membuat Jonathan bisa mengisi pundi-pundinya untuk terbang ke negeri K-pop itu. Sesuai jadwal, pada 8 Agustus, 77 delegasi Indonesia yang sudah lulus seleksi bertolak ke Seoul. Sampai saat ini, impian bertemu paus sudah semakin dekat.

Padalah, impian itu nyaris sirna lantaran penggemar karya-karya Renaissance tersebut kerap bermasalah dalam soal kelengkapan berkas. Pengurusan paspor, keterangan bank, hingga visa yang disangkanya gampang ternyata agak jelimet. “Misalnya, berkas-berkas harus dikirim aslinya. Tidak bisa via e-mail,” ungkap Jonathan. Itu baru diketahuinya pada 21 Juli, saat akhir Ramadhan, saat bank bersiap-siap libur Lebaran.

Akhirnya, berkas-berkas pun rampung pada 28 Juli. Persis tanggal merah, Lebaran hari pertama. Akhirnya, jejaka kelahiran 19 Juni 1989 itu menjadi delegasi terakhir yang melengkapi berkas. Visanya rampung pada 5 Agustus, tiga hari sebelum berangkat. “itu di luar nalar. Mengurus berkas kurang dari seminggu dan bisa ke luar negeri,” paparnya penuh rasa syukur.

Nah, 28 Juli smapai 5 Agustus itulah Jonathan memikirkan kado untuk Sri Paus Fransiskus. Penggemar Sigmund Freud, Adolphe Bougerau, dan Salvador Dali itu ingin memberikan hadiah yang berciri Indonesia. “Saya dari Indonesia yang ingin Indonesia bisa dikenang lewat sebuah karya,” jelas alumnus SMAK Stella Maris tersebut.

Berbekal laptop, aplikasi photoshop, serta skill-nya, ilustrator beralih romantisme itu membuat potret wajah Paus Fransiskus menggendong seekor domba. Tepat di belakangnya ada Bunda Maria. Bedanya, Perawan Suci itu tak tampil seperti perempuan berwajah Eropa dengan kerudung khasnya yang biru.

Sang Bunda mengenakan kebaya Jawa. Ya, kebaya Jawa asli dengan kuthu baru, kain kotak di bagian dada. Berbeda dengan kebaya encim khas Tionghoa yang lebih rapat bagian depannya. Kebaya itu dihiasi motif Stella Maris. Artinya, Bintang Samudra, salah satu gelar Santa Perawan Maria.

Wajah ibu Yesus itu dilukiskan dengan wajah bersahaja, seperti jemaat kebanyakan. Karakter wajah itu, aku Jonathan, terinspirasi Happy Salma, artis cantik yang parasnya Indonesia banget itu.

Gambar Paus menggendong domba itu persis seperti citra Pastor Bonus (Gembala yang Baik). Maknanya adalah Paus hadir untuk menggembalakan umar. Sedangkan Bunda Maria dipandang sebagai model ideal dan panutan bagi umat yang selalu taat pada kehendak Tuhan.

Lukisan itu diberinya judul Ndherek Dewi Mariyah. Artinya, Mengikuti Bunda Maria. Sama seperti salah satu judul lagu rohani Jawa umat Katolik.

Tak menunggu waktu lama, hasilnya lantas dicetak pada kanvas berukuran A3. “Pakai kanvas karena enteng dibawa,” ujar Jonathan. Dengan keyakinan, dia pun terbang ke Korea dan menginap selama empat hari di Pulau Jeju sebelum berpindah ke Keuskupan Daejeon, tempat AYD.

Paus tiba di Shrine of Salmoe pada 15 Agustus. Itu adalah perayaan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Pas dengan lukisan Jonathan. Selama setengah jam, Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu menyapa ribuan anak muda peserta kongres tersebut.

Jonathan pun siap di posisi paling depan. “Tangan saya langsung awe-awe biar gambarnya dilihat Paus,” tuturnya. Selain itu, dia juga memanggil-manggil, Papa, Papa! Ya, Papa Fransesco adalah sebutan Paus dalam bahasa Italia.

Usahanya tak sia-sia. Paus langsung mendaratkan pandangan pada tangan mungil yang menjuntai keluar dari desakan tubuh manusia. “Is it me?” katanya menirukan pertanyaan Paus Fransiskus. “Yes, it’s You. Saya langsung mencium tangannya,” jawabnya. Bahkan Paus asal Argentina itu sempar beberapa saat memandangi indahnya gambar itu. Tak pelak aksinya itu terekam oleh televisi Vatikan CTV. Lukisan itu pun berpindah ke tangan Paus. Sudah pasti, karya Jonathan akan disimpan di Museum Vatikan, tempat negeri kecil itu menyimpan benda-benda seni yang dipersembahkan untuk Sri Paus.

Memang pengalaman bertemu orang nomoe satu di Vatikan itu bak sebuah mukjizat. Namun lebih dari itu, perjalanan ke Korea sekaligus meningkatkan spiritualitas dan keimanannya. Apalagi sekitar abad ke-19, ribuan martir Katolik dibunuh di Korea karena kepercayaannya. “Kami pun mendatangi Haemi Castle dan berdoa di tempat para martir digantung hingga mati,” ungkapnya.

Tak hanya momen bertemu Paus yang berkesan baginya. Bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus, seluruh peserta serempak lakukan penghormatan di hadapan dua bendera merah putih yang dikibarkan di dalam tenda itu. “Di situ rasa nasionalisme saya semakin terasa. Melihat bangsa lain menghormati Negara Indonesia,” tandasnya. (*/dos)

Sumber : Jawa-Pos.31-Agustus-2014.Hal.29,39