20 Februari 2016.Hengky Setiawan tentang Arah Kebijakan Ekonomi_Kapal Besar Mesti Tahan Gelombang. Jawa Pos.20 Februari 2016.Hal. 1,11

Ibarat kapal besar,perekonomian Indonesai bakal selamat sampai tujuan.Syaratnya,tidak panik saat menghadapi gelombang.

HENGKY Setiawan,chairman Telesindo Group,mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesai merupakan pasar besar nan potensial.”Dari situ saja sudah merupakan poin penting,”ucapnya kepada Jawa Pos di kantornya pada Selasa (16/2).

 

Indonesia Kini Ibarat Start-up

       Berkah Indonesia kini bertambah dengan “harta karun” berupa komodiatas dan kekayaan alam lain yang ada di perut serta permukaan bumi pertiwi.Mengolah sebagiannya secara sederhana saja bisa membuat Indonesia menjadi penyulapi pasar dengan kekhasan tersendiri.Yang terpenting papar Hengky,ada akses dan regulasi yang kondusif.

Tidak ada keraguan sedikit pun pada diri Hengky bahwa kelak Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi global.Pria kelahiran Jakarta , 7 Juli 1969,itu yakin bahwa Indonesia akan menempel ketak Tiongkok dan India.

Namun , mimpi itu tidak bisa diraih begitu saja.Dari sisi pemerintahan,Hengky berharap para pemimpin menyadari bahwa Indonesia ibarat kapal besar yang sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.Tidak terlalu ngebut,tapi juga tidak pelan.

Di tengah perjalanan,bisa saja ada gelombang,baik dampak luar negeri maupun dalam negeri.Atau tidak ada gelombang,tapi ingin berbelok kea rah yang diyakini lebih baik.Saat menghadapu itu,Hengky berharap sang nahkoda tidak banting setir secara membabi buta.”Kapal bisa oleng dan isinya berntakan ,” tutur dia.

Menurut suami Wan Hong tersebut ,gejala kekhawatiran itu ada.Misalnya penyikapan saat hendak menggenjot sisi perpajakan.Dia mengakui,niat mendapatkan hak negara yang berupa pajak maksimal memang sesuatu yang benar.Tetapi,hal itu tidak bisa di lakukan seperti menebang rumput liar agar cepat-cepat rapid an bersih tanpa mempertimbangkan factor lain.”Coba saja lihat.Hanya Karena mungkin salah informasi ,salah penerapan aturan ,atau kurang pertimbangan ,ada berapa banyak perusahaan yang terbebani .Akhirnya tutup atau PHK karyawan,” sesal pengusaha yang dijuluki Raja Voucher(pulsa) Karena prestasinya membangun bisnis dengan modal Rp 5 juta dan berpendapatan Rp 21 triliun pada akhir 2015 itu.

Bagaimanapun,papar dia,segala sesuatu memiliki proses.Diperlukan langkah yang win-win solution.Tidak ada satu pun perusahaan yang beroperasi di Indonesia yang tidak ingin tumbuh,apalagi merugi.

Menentukan kebijakan ,tertutama yang berkaitan dengan perekonomian dan iklim usaha ,memerlukan frame berpikir secara jangka panjang.Pada akhirnya ,negara tetap akan diuntungkan .”Memang sekarang sudah saatnya merapikan semuanya.Pajak,tata kelola  perusahaan,semuanya lah.Tapi,jangan berlebihan ,”taegasnya lagi.

Sebab,perlu disadari juga ,tambah Hengky,dari sisi industri atau bisnis,Indonesia sedang bertumbuh.Belum benar-benar mapan,sedang terus berupaya mengundang lebih banyak investasi.”Ini masih baru lah .Indonesia Indonesia ini start-up,”ujarnya.

Indonesia pernah lebih maju daripada Malaysia sehingga banyak pelajar dari negara tetangga yang mengais ilmu ke sini.Tapi,sekarang sebaliknya.Singapura yang lebih muda dan lebih kecil juga lebih melesat.

Dengan dasar itu,negara ini seolah sedang memulai hal baru.Sebagai start-up,tapi memiliki bekal pengalaman yang melimpah dan kuat .Agar tidak terjadi kemunduran lagi,Indonesia perlu belajar dari kesalahan masa lalu.”Sekarang era mandiri,Bangkit!”.ucap dia.

Pria yang hobi mengkoleksi barang antic,terutama mobil Mercedes-Benz,itu menilai pemerintahan  Jokowi sedang bergerak ke arah yang benar .Meskipun,pada praktiknya masih perlu waktu dan dukungan dari semua pihak.”Kita butuh tim ekonominya harus benar-benar prorakyat dan probisnis,”tegas dia.

 

 

 

UC Lib-Collect

Sabtu,20 Februari 2016