SURABAYA – Hidung buntu dan ingus bercampur darah sering diabaikan. Umumnya, orang awam menganggapnya sebagai flu biasa yang bisa sembuh sendiri. Padahal, ada kemungkinan kondisi itu berkaitan dengan tanda-tanda kanker nasofaring (KNF).
Menurut anggota tim onkologi RSUD dr Soetomo dr Achmad C. Romdhoni SpTHT-KL(K) FICS, akibat menyepelekan perubahan hidung itu, pasien bisa terlambat berobat. Bila ternyata kanker, umumnya stadium telah lanjut.
Gambarannya, jumah penderita kanker yang berkunjung ke Poli Paliatif dan Bebas Nyeri RSUD dr Soetomo tahun lalu mencapai 5.475 pasien. Sebanyak 657 orang di antaranya pasien kanker nasofaring. “Pasien yang datang ke poli paliatif rata-rata sudah stadium lanjut,” ungkap Kepala Instalasi Paliatif dan Bebas Nyeri RSUD dr Soetomo dr Agus Ali Fauzi PGD Pall Med (ECU).
Yang perlu diwaspadai, menurut Romdhoni, penderita KNF makin muda. Berusia 40-50 tahun. Padahal, 5 tahun lalu penderita terbanyak berusia 45-60 tahun dan didominasi laku-laki.
Sama dengan kanker lain, kanker nasofaring juga bia diatasi jika ditemukan dalam stadium dini. Angka kesembuhannya mencapai 70-80 persen. Jika parah, angka kesembuhannya hanya 20-40 persen.
KNF, lanjut dia, dipengaruhi tiga faktor. Yakni, virus epstein-barr, terpapar nitrosamin yang banyak terkandung dalam ikan asin, serta genetis. “Di antara tiga faktor itu, yang bisa dikendalikan adalah membatasi konsumsi ikan asin,” ucapnya.
Dia menjelaskan, ada empat tanda KNF. Di antaranya, pilek bercampur darah dan lubang hidung buntu salah satu atau dua-duanya. Kanker yang terletak di belakang rongga hidung itu juga bisa menimbulkan gangguan pada pendengaran. Penderita merasa telinga krucuk-krucuk seperti kemasukan air. “Ada juga penderita yang merasa pandangannya dobel dan pipi kesemutan,” ujar spesialis telinga, hidung, tenggorokan bedah kepala leher itu.
Ada pula, benjolan di bawah telinga yang muncul karena kelenjar getah bening di daerah nasofaring terganggu. Kondisi itu pun sering disepelekan. Sebab, benjolan di bawah leher tersebut tidak terasa sakit.
Menurut dokter yang juga berpraktik di RS Mitra Keluarga Kenjeran tersebut, kondisi pasien seharusnya bisa dideteksi dokter umum. Jika tiga gejala saja yang muncul, 90 persen pasien tersebut mengidap KNF. Jika penyakit itu sudah terdeteksi dokter umum di fasilitas kesehatan primer, penanganan mestinya bisa lebih cepat dilakukan.
UC Lib-Collect

