- Masihkah Anda merasa bahwa begitu begitu suram dengan banyaknya berita- berita tentang lonjakan kasus virus korona? Masihkah Anda merasa hidup Anda terjebak di rumah sehingga yang bisa Anda lakukan adalah streaming di Netflix, melihat video aneka video yang “sangat penting” di YouTube, atau video game utama. Semua aktivitas membuat Anda terpaku di depan layar.
Padahal, harus ada kehidupan yang lebih baik dari ini. Dengan banyaknya aktivitas yang bisa kita lakukan secara fisik, momentum tahun baru ini bisa dijadikan pemacu semangat untuk melakukan detoksifikasi digital.
Tidak Kami tidak membuat Anda akan benar-benar berhenti dari internet. Siapa sih yang saat ini bisa lepas dari Internet? Wong sekolah dan kerja saja sekarang harus nyantol ke internet.
Maka, Anda tidak harus mandek total dari intermet. Anggap saja Anda yang tidak sehat dengan hal lain yang istirahat untuk mata juga otak kita sedang berdiet: mengganti sesuatu yang lebih baik. Dan memberikan waktu yang bisa jadi sudah lelah dengan teknologi.
“Ada banyak hal hebat yang bisa dilakukan secara online. Tetapi, bijak dan melakukan sesuatu secara wajar tetap menjadi aturan terbaik dalam hidup. Itu termasuk dalam hal menatap layar,” kata Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, seperti dikutip New York Times. Twenge juga penulis buku iGen tentang generasi muda yang tumbuh di era smartphone.
Para ahli mengatakan, terlalu banyak waktu di depan layar bisa merusak kesehatan mental, membuat orang kurang tidur, justru membuat orang mengabaikan tugas-tugas lain yang lebih produktif. D mengutip Channel News Asia, rata-rata waktu harian seseorang di ponsel selama pandemi meningkat dua hingga tiga kali lipat.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Sebab, pandemi ini memang membuat kita enggak bisa ke mana-mana. Satu-satunya cara kita berkeliling ya melalui layar handphone atau laptop tersebut.
Ini langkah yang bisa Anda ambil menurut Channel News Asia:
Selalu Patuhi Rencana Bukan berarti seluruh waktu Anda bekerja atau kuliah lewat handphone. Kira aktivitas digital yang kira-kira bersama layar gadget adalah kesia- siaan. Ingat, anak-anak pun sekarang sekolah lewat layar gawai. Anda pun Maka yang harus Anda lakukan adalah memilah-milah, mana kira membuat Anda merasa toksik dan bikin enggak bahagia. Contohnya, mengakses berita lewat Twitter atau Facebook. Coba tengok, mana yang sejatinya Anda baca? Beritanya atau komen-komennya?
Anda juga bisa membuat rencana baku untuk otak Anda mengonsumsi berita-berita buruk. Pastikan tujuan. Misalnya, maksimal 20 menit membaca berita saat akhir persingkat waktunya dan buatlah menjadi tujuan harian. Sebab, hanya pekan. Kalau itu bisa dilakukan, dengan berkali-kali Anda bisa membentuk kebiasaan baru.
Tapi, hal itu lebih mudah dilakukan, Adam Gazzaley, yang seorang ahli saraf dan penulis buku The Distracted Mind: Ancient Brains in a High-Tech World, punya jurus yang lebih jitu. Yakni buatlah daftar komplet untuk segala hal. Termasuk jadwal menjelajah internet dan istirahat. Itu akan menciptakan struktur hidup yang.
Contohnya, Anda bisa meluangkan waktu pukul 08.00 untuk membaca jadwal 20 menit mulai pukul 13.00 Anda tergoda mengintip handphone baku. berita selama 10 menit. Lalu, untuk mengayuh sepeda statistik. Kalau selama waktu latihan itu, hati-hati. Itu artinya Anda merusak waktu yang sudah Anda dedikasikan untuk berlatih.
Yang penting, Anda harus perlakukan waktu mengintip handphone itu sebagai sebuah kemewahan yang sesekali bisa Anda nikmati. Jangan jadikan itu sebagai hal yang bisa Anda lakukan bersantai. “Jika Anda menjelajahi media sosial saat bersantai, itu artinya Anda tidak akan pernah keluar dari benang kusut dunia digital,” ungkap Gazzaley.
Ciptakan Zona tanpa Telepon Memang, kita perlu mengisi baterai telepon saat malam. Tetapi, bukan berarti handphone itu harus di samping kita saat tidur. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang tidur bersanding dengan handphone akan susah tidur.
Telepon cerdas itu dilarang. Sinar dari layarnya dapat menipu otak dengan memberikan kesan bahwa hari masih siang. Konten terutama berita-juga bisa menstimulus kita untuk tetap terjaga. Yang terbaik adalah, hindari teiepon sekitar sejam sebelum Anda berbaring di tempat tidur.
Karena dekat, telepon juga bisa membantu Anda untuk meliriknya saat Anda bangun tengah malam. “Saran utama saya, jangan ada telepon di dalam kamar tidur. Ini saran untuk siapa pun. Biarlah telepon diisi dayanya di luar kamar,” tegas Tenge.
Di luar tempat tidur, Anda juga bisa menciptakan zona tanpa telepon. Misalnya di meja makan. Ini adalah kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul tanpa diganggu telepon. Bikin perjanjian. Jangan ada yang mengutak-atik telepon saat makan. Setidaknya 30 menit.
Tolak Godaan-Godaan Itu. Dunia internet sudah membuat kita selalu lengket dengan layar. Facebook dan Twitter, misalnya. Mereka membuat garis waktu sistem yang kalau ada scroll, ia tidak akan pernah habis. Jangan tergoda pada istilah selalu ada yang baru. Sebab, kalau Anda menuruti timeline, Anda akan terus tenggelam pada hal-hal baru yang Anda temukan.
Adam Alter, profesor di Stern School of Business, New York, pernah menjelaskan hal itu pada buku Irresistible: The Rise of Addictive Technology dan the Business of Keep Us Hooked. Menurutnya, setidaknya ada dua hal yang membuat kita terikat dengan produk-produk digital.
Yang pertama adalah utan palsu. Seperti video game utama, media sosial terus berupaya membuat kita terikat. Salah satunya adelal jeratan kepuasan jumlah like dein pengikut Facebook atau Twitter. Problemnya? Tujuan akhirnya pernah ada. Tidak ada batasan. Akhirnya, kita pun berupaya terus dan terus menambah like dan follower. “Padahal, apa bedanya 10 like dan 20 like? Tidak ada maknanya,” kata Alter.
Jeratan yang kedua adalah media tanpa akhir. Tengok saja, YouTube otomatis memutar video yang tidak mendukungnya. Belum lagi Facebook dan Twitter yang timeline nya tak ada habisnya itu. “Sebelum ini, selalu ada hukum alam bahwa setiap hal ada masa berhentinya. Misalnya, buku punya terakhir. Yang dilakukan perusahaan teknologi adalah halamankan titik akhir itu,” ungkap Alter.
Nah, untuk bisa lepas dari jerat itu, ada yang kecil yang bisa Anda lalukan. Yakni, matikan pembongkaran. Sehingga, kapanpun Anda melihat handphone, kehendak bebas Anda sendiri. Bukan “keberangkatan” atau “ditarik” oleh notifikasi. (Doan Widhiandono)
Sumber: Harian Di’s Way. 18 Januari 2021. Hal.40-41

