Lamri idris (44) tak pernah letih menebarkan semangat untuk menanam pohon. Terpaksa bermigrasi karena karut marut politik, lamri malah jatuh cinta dengan lingkungan baru dan menghijaukannya. Paling tidak, sudah 10 tahun terakhir dia senantiasa menggerakkan warga untuk menanam pohon.
Warga desa tamanjaya, kecamatan sumur, kabupaten pandeglang, banten, ini berinisiatif menggerakkan pelajar dari Sembilan sekolah pada pertengahan april 2015. Prakarsa lamri mendapatkan sambutan hangat balai taman nasional ujung kulon (TNUK) dan pemerintah kabupaten pandeglang. Pelajar dari 6 sekolah dasar dan 3 sekolah menengah pertama di kecamatan sumur itu juga menggerakkan pelajar untuk menanam sekitar 1000 pohon. Setidaknya, sudah sejak tahun 2005 lamri menggalakkan penghijauan. Saat itu, lamri bekerja sama dengan pengelola pulau umang untuk menanam 1000 pohon. “pada 2015, sekitar 100.000 pohon ditargetkan untuk ditanam. Program yang melibatkan siswa dilakukan secara berkelanjutan” katanya. Penanaman mencakup tiga desa di kecamatan sumur, yakni tamanjaya, cigorondong dan tunggaljaya, yang menjadi daerah penyangga TNUK. Lamri yang juga mendirikan taman kanak kanak islam cakra nusantara di desa tamanjaya mewajibkan orang tua siswa sekolah itu menanam pohon. Jumlah siswa TK yang didirikan sejak tahun 2001 itu 50 orang. Artinya, setiap tahun ada 50 pohon baru yang ditanam. Lamri tak hirau, sudah berapa kali dia mengadakan penanaman, hingga ia tak ingat jumlah pohon yang di tanam. Namun, setiap tahun lamri tak pernah alpa. Lamri pun tak segan berbicara lantang agar mereka yang merusak pepohonan di tindak. Di depan bupati pandeglang erwan kurtubi saat hari hutan internasional tahun 2015 di desa tamanjaya, misalnya, lamri meminta polisi mengenakan sanksi terhadap perusak pohon. Lamri juga senantiasa mengingatkan orangtua untuk menjaga dan menghargai pohon pohon yang ditanam. Itu adalah jerih payah anak anak. Lamri mencetuskan pendidikan lingkungan hidup disekolahnya sebagai muatan local sekaligus menjadi guru mata pelajaran tersebut. Penanaman pohon merupakan realisasi pendidikan lingkungan hidup. Pada awal tahun ajaran, murid di minta membawa lima batang bamboo untuk membuat rangka sederhana pelindung pohon. “guru guru menyediakan paku. Kami swadaya saja untuk pemeliharaan. Kalau menunggu anggaran, kami juga punya keterbatasan” katanya. Perlindungan pohon sangat penting karena banyak gangguan, seperti ternak yang dilepas tanpa pengawasan penggembala, tangan tangan jahil, abrasi dan cuaca buruk. “dulu, tepi pantai di desa tamanjaya belum diberi penahan sehingga gelombang mudah mengempas pohon” katanya. Lantaran dirawat, pohon pohon bisa tumbuh dengan baik. Dalam dua tahun, pohon umumnya sudah tumbuh hampir 2 meter. Pohon yang ditanam umumnya jenis butun (barringtonia asiatica). Butun atau biasa juga disebut pohon keben, songgom, patut laut atau pohon perdamaian itu mudah tumbuh di daerah pesisir. Tingginya bisa mencapai 30 meter. ”setelah 6 tahun, pohon sudah berbuah. Lalu bijinya ditanam lagi. Terpenting, siswa meresapi makna dari pelestarian lingkungan” ucapnya. Setiap punya kesempatan, lamri selalu memanfaatkannya, seperti melalui mata pelajaran, kerja sama dengan balai TNUK dan kegiatan pramuka, untuk merawat pohon. Lamri menekankan kepada murid bahwa mencintai alam tercantum didalam dasa dharma pramuka. Pohon ditanam pada musim hujan dan dirawat saat kemarau. “kontroversi jangan sekadar teori, tetapi harus diaplikasikan dengan menanam pohon, bagaimana sejak dini tertanam dalam benak siswa mampu melestarikan alam” ujarnya.
Sejak mahasiswa
Lamri menghabiskan masa kecilnya di timor timur yang kini telah menjadi negara timor leste. Di daerah asalnya, kabupaten lospalos, lamri akrab dengan hutan. Minat lamri mempelajari alam bersambut saat dia melanjutkan pendidikannya di sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan (STKIP) gorontalo. “saya mengambil jenjang S1 jurusan mipa (matematika dan ilmu pengetahuan alam) program studi biologi. Waktu itu saya ikut program tunjangan ikatan dinas” katanya. Lamri yang semasa sekolah menengah atas tergolong berprestasi dikirim ke gorontalo untuk kuliah. Dia juga mendirikan biosfer, yaitu kelompok mahasiswa STKIP gorontalo yang menaruh perhatian terhadap kelestarian lingkungan. “saya lalu kembali ke timor timur karena kuliah dibiayai pemerintah daerah. Namun, gejolak politik kemudian terjadi di timor timur. Saya harus mengambil sikap” katanya. Bukan karena hidup melarat lamri lantas memutuskan angkat kaki ke jawa. Namun, sang saka merah putih tetap bersemayam di hatinya. “kepada negara kesatuan RI saya mengabdi. Saya jadi guru di desa tamanjaya sudah 16 tahun. Pernah jadi kepala SMP negeri 3 sumur sejak tahun 2009” katanya. Selanjutnya, lamri menjadi kepala SMP Negeri 2 sumur sejak tahun 2011. Antusias lamri tak disebarkan dilembaga pendidikan saja. “saya malah ingin ada kelompok guru pecinta lingkungan hidup. Itu sekelompok guru dibawah PGRI. Saya sedang merancang itu” ucapnya. Lamri yang sudah sangat kerasan di desa tamanjaya tak berniat pindah ke daerah lain hingga akhir hayatnya. Jika sudah pension dan tak jadi guru lagi, lamri bertekad untuk tetap semangat menanam pohon. Dia tak peduli dampak positif penghijauan baru dinikmati anak cucunya kelak. Kepala balai TNUK M haryono mengatakan, inisiatif lamri menggalakkan penanaman pohon membuat kagum, membanggakan dan perlu di apresiasi. Jika dilakukan di kota kota besar, penanaman dianggap sudah biasa karena pohon semakin sedikit. Di TNUK hutannya masih rimbun. “namun,pohon tetap ditanam. Lamri adalah guru yang konsisten menananmkan kecintaan terhadap alam kepada anak anak didiknya” ujar haryono. Desa tamanjaya yang terletak di pelosok berjarak sekitar 150 kilometer dari ibukota pandeglang dengan waktu tempuh empat jam. Sebagai praktisi pendidikan, lamri juga prihatin terhadap kondisi pendidikan di lingkungannya yang dinilai mirip dengan timor timur dulu. “anak mau sekolah susah. Selain kendala sumber daya manusia, infrastruktur rusak dan SMA tergolong jauh” kata lamri yang berharap didesa tamanjaya ada SMA.
Sumber: Kompas, Kamis 28 Mei 2015

