Surabaya, Surya – “Selamat siang, Cak. Selamat datang di Varna Culture Hotel Surabaya,” sapa resepsionis hotel menyambut tamu. Sekilas, sapaan tersebut tampak biasa saja. Namun, jika lebih jeli lagi, ada sapaan khas Surabaya, ‘cak’ yang diucapkan respsionis tersebut.
Bagi warga Surabay, kata ‘cak’ ini sangat familier. Namun, untuk masyarakat di luar Surabay atau Jatim, sapaan ini tentu sangat asing. Terlebih, sapaan ‘cak’ ini muncul dari hotel bintang empat.
General Manager Varna Culture Hotel Surabaya, Madsuki, mengatakan hotel yang terdapat di Jalan Tunjungan ini memang berkonsep Surabaya Tempo Doeloe. Interior ruangan hotel, ruang kamar, seragam karyawan, menu makanan, hingga bahasa yang digunakan, erat dengan unsur Kota Pahlawan.
“Semua kami sapa dengan ‘cak’ untuk pria, dan ‘ning’ bagi wanita. Bahkan, kami memanggil koki utama kami dengan sebutan Cak Chef’” kata Masduki.
Kamar-kamar hotel yang dikelola perusahaan BUMD ini pun menampilkan foto-foto Surabaya jaman Baheula, seperti suasana Jembatan Merah dan Jalan Tunjungan. Bahkan, hotel ini memiliki ikon utama penyanyi legendaris asli Suarabaya, Gombloh.
“Patung ini dibuat seniman Surabaya, Cak Nur Kholis Kutu. Dia hanya membuat tiga Cak Gombloh, dan kami yang pertama kali memilikinya,” sambung Madsuki.
Menu makanan di Resto Moji Varna Culture Hotel ini pun menggunakan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Inggris, Suroboyoan. Pilihan makanan penutup (dessert) pada buku menu ditulis dalam istilah Sutoboyoan, yaitu tombo amis.
“Pakaian para karyawan hotel pun seperti Cak-Ning Surabaya. Kami ingin menjual Kota Surabaya kepada wisatawan yang datang, atau warga Surabay yang ingin bernostalgia dengan suasana serta makanan khas tempo dulu,’ urainya.
Mengapa beda? “Bisnis perhotelan saat ini sangat ketat. Kalau tidak ada pembeda, sulit untuk bertahan,” tandas Madsuki. Mereka optimis, konsep Suroboyoan ini mampu memenuhi target hotel. Apalagi, lokasinya yang berada tepat di tempat bersejarah.
Sumber: Surya, 9 September 2014

