Seperti suara lebah, kalimat Gong Xi Fa Cai berdengung di mana-mana. Kalimat itu, baik dalam aksara latin maupun karakter Tiongkok (hanzhii) juga mulai bertebaran. Imlek memang sudah di depan mata. Mal-mal sudah berhias warna merah. Lampion-lampion menari-nari di angkasa sana, juga di interior rumah, gendung-gedung apalagi di mal-mal.
Selamat sejahtera, itu sejatinya arti kalimat Gong Xi Fa Cai. Arti kalimat itu bukan selamat hari raya Imlek, tetapi doa dan harapan untuk ke depan hidup sejahtera. Ucapan ini lebih dipakai di kawasan Selatan Tiongkok.
Relasi Indonesia yang dekat dengan Tiongkok belahan selatan ikut-ikutan terbawa dengan ucapan Gon Xi Fa Cai itu. Di utara, seperti Beijing, mereka menggunakan kalimat Xin Nian Kuai Le’, yang artinya selamat tahun baru dengan bahagia.
Ada yang menerjemahkan secara kacau kalimat Gong Xi Fa Cai itu sebagai “Selamat Menjadi Kaya Raya”. Tentu jauh dari makna Imlek yang sebenarnya, yakni ucapan rasa syukur kepada kemuliaan alam, untuk musim semi yang bagus.
Sebelum ucapan Gong Xi Fa Cai ramai dipakai akhir-akhir ini, masyarakat lebih mengenal ucapan Sin Tjun Kiong Hie yang artinya “Selamat Musim Semi Baru” atau singkatnya Selamat Tahun Baru.
Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda dunia dan Indonesia. Hampir semua perayaan besar, seperti Idul Fitri, Natal, Waisak, maupun Nyepi, berlangsung dalam suasana pandemi. Perayaan Imlek 2021 ini menggenapi semua perayaan besar di Indonesia yang berlangsung dalam suasana pandemi. Khusus mereka yang tinggal di Jawa dan bali, perayaan akan berlangsung dalam ketatnya aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).
Tahun lalu, seminggu sebelum malam imlek, resto-resto besar dan terkenal sudah menutup booking-an. Mereka menjual paket-paket tahun baru Imlek dengan menu istimewa dan itu berarti harga khusus yang sangat mahal. Ketika PPKM mengisyaratkan resto hanya boleh menrima 25 persen kapasitasnya, maka mimpi makan bersama keluarga di resto-resto akan sirna.
Tahun lalu, mal juga tidak kalah seru tampilannya. Mereka yang tidak kebagian ber-imlek ria di resto-resto membanjiri mal. Kali ini, mal kena imbasnya. Ketika mereka harus sudah menutup pintunya pukul 19.00, sesuai aturan PPKM. Barongsai-pun tidak seleluasa tahun lalu beraksi di sana, karena batasan-batasan waktu itu.
Seumur-umur menyaksikan keramaian perayaan Imlek itu sekitar tahun 60-an. Di jalan utama kota Jombang, warga tumplek-blek turun ke jalan. Masing-masing rumah membakar petasan yang memekakkan telinga. Jalan raya berkabut asap petasan. Penghuni masing-masing rumah menunggu barongsai mampir untuk mengambil angpao yang diletakan di posisi-posisi sulit. Di situlah atraksinya, barongsai beraksi untuk semampu-mampunya mengambil angpao-angpao itu.
Lalu perayaan Imlek-pun surut ketika Orde yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa itu memerintah Indonesia. Selama 32 tahun, pemerintahan Orde baru menenggelamkan kebudayaan yang berabad-abad sudah menjalin indah dengan etins-etnis di Nusantara.
Ketika Gus Dur dan kemudian Megawati membuka kebudayaan itu kembali, geliat malu-malunya membutuhkan waktu untuk hadir wajar lagi. Barongsai dan Tari Naga (Liong-Liong) lamban meliukkan kebebasan. Beberapa tahun kemudaian, barulah Barongsai menggeber penampilannya di mal-mal untuk acara apa saja. Tidak harus yang berkaitan dengan budaya Tionghoa.
Tentu kehadiran mereka akan berbeda di Imlek kali ini. Barongsai dan liang-liong akan banyak tampil di gawai-gawai/gadget melalui program Zoom. Ketika kluster-kluster keluarga menjadi catatan signifikan berjangkitnya virus Covid-19, maka silahturahmi keluarga di malam Imlek akan otomatis terbatasi.
Ada dua pandangan tentang eksistensi perayaan Imlek di Indonesia. Ada yang beranggapan Imlek adalah peristiwa kultural. Ada juga yang berpandangan bahwa Imlek bernuansa agama. Apa pun pandangannya silahturahmi keluarga akhirnya menjadi muaranya. Protokol kesehatan harusnya tidak membatasi silahturahmi itu.
Hampi satu tahun ini pertemuan-pertemuan pertemanan, pekerjaan, komunitas, keluarga bahkan rapat-rapat, belajar dan beribadah bahkan berolahraga semua sudah dilakukan di rumah melalui aplikasi Zoom (salah satu dari beberapa aplikasi yang umum). Silahturahmi keluarga saat Imlek tahun ini akan berada di ruang maya.
Setahun ini pula, aplikasi-aplikasi berbasis digital sudah bisa dipakai di masyarakat. Maka angpao, yang lazim menjadi bagian silahturahmi keluarga itu, kini tidak lagi berwujud fisik amplop warna merah. Kegembiraan anak-anak, cucu-cucu ketika menerima angpao kini hadir lewat layar kaca gawai-gawai mereka. Ucapan-ucapan akan seru disampaikan melalui sosial media dan Zoom. Bersulang, hormat pada orang tua dan leluhur, semua bisa melalui peranti ini.
Kalau Gong Xi Fa Cai artinya Selamat Sejahtera. Zoom Xi Fa Cai, bisa menjadi ucapan selamat Sejahtera di masa pandemi. Tetap berharap ada kesejahteraan di masa sulit, masa pandemi ini.
Perayaan Imlek tahun ini adalah awal memasuki tahun Kerbau Emas (logam). Kerbau memang tipe pekerja keras. Wajar. Setahun ke depan adalah saat-saat kerja keras. Teristimewa di masa pandemi Covid-19. Namun kerbau logam juga punya keberuntungan-keberuntungan sebagai hasil kerja keras di masa sulit ini.
So, Zoom Xi Fa Cai !!!
Selamat Sejahtera di masa pandemi. (*)
Sumber: harian Do’s Way. 13 februari 2021. Hal.12-13

