
Ingatkan Sustainability Lingkungan dan Sosial Budaya dalam Bisnis
SURABAYA, Jawa Pos – Keberlangsungan bisnis takbisa hanya bergantung pada keberlanjutan secara ekonomi. Hal tersebut diungkapkan Dekan Falkutas Industri Kreatif Universitas Ciputra Astrid Kustunowidagdo ST MM. Selama ini, banyak yang mengira bahwa keberlangsungan bisnis hanya bergantung pada sustainability bidang ekonomi. Padahal, ada dua bidang lain yang seharusnya ditegakkan, Yaitu sustainability bidang sosial budaya dan lingkungan.
Ketiganya harus hadir dalam usaha kreatif yang dibentuk cart Apalagi, peekembangan industri kreatif semakin pesat. Konsep sustainability tersebut harus bisa menjadi pengarah dalam pembentukan bisnis. Dengan demikian, produk yang dihasilkan memang sesuai dan mampu menciptakan keberlaniutan di tiga bidang tersebut “Tapi di sisi lain, ia juga bisa jadi evaluator berjalannya proses bisnis,” ujar Astrid.
Lalu, seperti apa contoh konsep sustainability di dua bidang tersebut? Kaprodi DKV Universitas Ciputra Christian Anggrianto SSn MM menyodorkan sebuah buklet bergarnbar siluet serigala. Sekilas tampak biasa saja. Namun, Ketika Christian mengarahkan kamera ponselnya pada gambar tersebut, seketika layar ponsel memunculkan video perkenalan.
Konsep marker augmented reality itu tidak hanya terlihat “hidup” dan tak membosankan. Tetapi juga ramah lingkungan. “Jadi, informasi tetap lengkap tanpa harus dicetak banyak-banyak,” ujar Christian. Itu merupakan salah satu contoh konkret sustainability linkungan.
Bergeser pada konsep sustainability sosial budaya. Astrid mengambil contoh salah satu hasil penelitiannya bersama tim dosen. Astrid meneliti beberapa pasar tradisional di lndonesia Misalnya,koridor Pasar Ampel Surabaya dan Pasar Barang Antik Triwindu Surakata. Pasar-pasar tersebut dibangun dari identitas budaya dan kekhasan masing-masing daerah.
Astrid menjelaskan, jika bisa terus mengembangkan dan mempertahankan kekhasannya, pasar tradisional tersebut bisa berkembang pesat. Baik sebagai Ikon daerah maupun pusat ekonomi yang menjanjikan “Hal ini penting untuk dibicarakan. Sebab sampai saat ini masih banyak bisnis yang belum menerapkan. Angkanya sekitar 41persen,”jelasnya. (dya/c6/nor)
Sumber : Jawa Pos 19 Maret 2020 Hal 15
