CEO America West Airlines Douglas Parker pusing saat mulai memimpin maskapai itu. Apalagi, 10 hari kemudian terjadi serangan 11 September 2001. Ia Harus menyelamatkan perusahaan. Apa motivasinya bekerja keras menyelamatkan perusahaan? Kisah seorang pramugari.

Parker merasa tertekan. Ia bahkan sempat berpikir bakal menjadi CEO dengan periode paling singkat dan paling tidak sukses dalam sejarah. Ia berhitung dan menekuni angka-angka untuk menyelamatkan maskapai. Namun, ia tak berkutik hingga bertemu seorang pramugari senior bernama Mary di tengah masalah yang mengimpit. “Dia mengatakan kepada saya, ia tidak akan membiarkan maskapai ini hancur. Sebab, jika maskapai hancur, hidupnya sebagai orangtua tunggal akan berantakan,” kata Parker dalam wawancara dengan Simon Sinek, penulis buku The Infinite Game.

Setelah itu Parker bekerja makin keras menyelamatkan perusahaan. Ia tidak lagi menomorsatukan angka-angka target, tetapi lebih memperhatikan nasib karyawan. Cara-cara Parker tergolong tidak ramah pasar. Analis pasar sinis terhadap pilihannya. Pasar lebih menghendaki pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perbaikan kinerja keuangan demi pemegang saham. Akan tetapi, pasar meleset.

Parker sukses menyelamatkan perusahaan. Kini ia memimpin American Airlines Group Inc, maskapai terbesar di dunia. Tidak ada karyawan yang di-PHK. Ia menjadi contoh bagi perusahaan dalam menyelamatkan perusahaan, bukan dengan angka-angka target keuangan, melainkan dengan menemukan tujuan semua orang bekerja di perusahaan itu.

Tujuan bekerja menjadi “mesin pendorong” saat ada masalah, bahkan di tengah krisis. Kisah Mary menginspirasi Parker dan karyawan lain untuk bekerja lebih keras dan menyemangati karyawan untuk menyelamatkan maskapai.

Kisah atau cerita di dalam perusahaan telah lama dibahas pengamat dunia bisnis. Kondisi perusahaan sebenarnya bisa diamati dari cerita karyawannya. Cerita Mary yang ingin perusahaannya selamat bukan cerita yang muncul begitu saja. Ia pasti memiliki pergumulan personal sebagai orangtua tunggal dan pengaruh kultur perusahaan sehingga dengan semangat mengatakan tidak akan membiarkan maskapainya hancur.

Bagi pemimpin bisnis, sebenarnya cukup sederhana untuk mendapatkan cerita-cerita dari karyawan. Mereka cukup dengan mendengarkan suara mereka. Semua cerita, baik negatif maupun positif, bisa menginspirasi mereka untuk membuat perubahan. Perusahaan yang beruntung adalah perusahaan dengan karyawan yang memiliki cerita yang terus-menerus menginspirasi, membangkitkan, dan mendorong perbaikan.

Salah satu yang perlu dibangun di dalam perusahaan adalah suasana yang membuat karyawan terbuka dan senang bercerita. Mereka bisa bercerita apa pun, masalah pribadi, keluarga, pengalaman masa lalu, pengalaman semasa liburan, dan lain-lain. Satu di antara berbagai cerita mereka pasti akan menginspirasi, baik untuk sesama karyawan ma upun untuk perusahaan. Sebuah perubahan besar bisa di mulai dari sebuah cerita karyawan.Di kalangan pengamat pemasaran juga muncul istilah “the power of employee stories” yang memperlihatkan cerita-cerita karyawan ternyata mempunyai kekuatan meningkatkan citra perusahaan. Cerita karyawan kerap menjadi wahana memperkuat merek mereka kepada pihak luar. Kuncinya, perusahaan harus memberi kesempatan dan ruang agar karyawan bisa bercerita. Pebisnis perlu memandang karyawan sebagai bagian terpenting di dalam bisnis.

Kunci dari semua itu, pemimpin bisnis ternyata tidak perlu menomorsatukan target angka-angka disaat krisis. Semangat karyawan yang muncul dari cerita mereka bisa mengawali perubahan. Sebaliknya, karyawan bakal enggan bercerita ketika perusahaan lebih banyak menuntut target angka karena tidak ada ruang untuk berkisah. Sebab, semua divisi fokus pada angka-angka saja.

Perubahan tidak akan terjadi. Kita bisa membayangkan divisi pemasaran yang seharusnya membuat cerita di pasar akhirnya terpaku pada cara-cara mereka meraih angka pen jualan. Pekerjaan menjadi terasa kering. Pengalaman dari berbagai perusahaan terlihat semua tujuan bisnis tercapai ketika seorang pemimpin menomorsatukan tujuan bersama, yang salah satunya bisa dibangun oleh cerita, bahkan cerita dari karyawan biasa. (ANDREAS MARYOTO)

 

Sumber: Senin.1 Maret 2021.Hal.9