
SURABAYA, SURYA – Pandemi Covid-19 membuat orang harus melakukan sosial distancing dan physical distancing dengan tetap berada di rumah. Kondisi tersebut membuat seseorang makin kreatif dalam mengisi waktu luangnya.
Seperti yang dilakukan Tenaga Kependidikan Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra. Putu Wardhani. Ia membuat lukisan roti meses saat mengisi waktu luang di rumah ketika diharuskan menjalani Work From Home (WFH).
Lukisan digambar sesuai dengan wajah pahlawan Covid-19 yang gugur saat menangani pasien. “Kegiatan ini berawal dari keresahan saya terhadap media sosial. Saya merasa bahwa generasi muda saat ini kurang respos dan tanggap terhadap mereka yang berjuang benteng terakhir perlawanan terhadap pandemic ini,” kata Putu Wardhani, Sabtu (25/4).
Akhirnya terpikir membuat karya dari roti dan meses sebanyak jumlah dokter yang gugur. Karena keterbatasan sumber dan foto, membuat Putu hanya membuat 24 lukisan dokter dan dokter gigi yang gugur.
Dalam proses pembuatan. Putu membutuhkan waktu 1-2 jam untuk membuat 1 roti dengan lukisan wajah pahlawan tersebut. “Sehari saya memproduksi 3 sampai 4 roti dengan lukisan, secara kesulurahan saya membutuhkan waktu 6 hari untuk membuat 24 lukisan roti tersebut,” ungkapnya.
Sedangkan tahapan pembuatan dilakukan mulai dengan membersihkan cutter pen sebagai alat untuk meletakan meses, lalu menyiapkan roti dan meletakkan di meja, kemudian membuat sketsa di atas roti menggunakan cutter pen tipis mengikuti bentuk wajah. “Setelah sketsa terbentuk tipis proses selanjutnya adalah yang paling sulit yakni menempelkan meses diatas roti,” ujar pria penghobi menggambar tersebut.
Kesulitannya itu melatih kesabaran karena biasanya gampang kesenggol dan tremor membuat ambyar semua. Hasil lukisan roti itu difoto dan dipublikasikan di media sosial pribadinya. Itu dilakukan sebagai bentuk ajakan untuk para pemuda bersama-sama menghargai gugurnya pahlawan tenaga medis yang sering dilupakan.
“Seperti ketika kehilangan public figure, artis ataupun seniman yang meninggal dunia maka sebagai pemuda harus dapat menghargai,” tandasnya. (zai)
Sumber: Jawa Poa. 27 April 2020. Hal. 6
