Kiprahnya dalam menjaga lingkungan melampaui bangku pendidikannya yang Cuma tamat SMP. Semenjak remaja, Ismail (42) sudah giat dalam kegitan konservasi karang di Kepulauan Seribu.
OLEH NASRULLAH NARA/PRASETYO EKO P
Dirinya selalu menjadi rujukan bagi perguruan tinggi ataupun perusahaan yang akan melakukan konservasi karang di perairan utara Jakarta. Di sela kegitan pokoknya sebagai pembudidaya ikan hias, ayah empat anak ini meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu lembaga pependidikan dan berbagai korporasi dalam melestarikan terumbu karang
Sejumlah dosen dari Institut Pertanian Bogor dan perguruan tinggi lain bahkan menjadikan Ismail sebagai narasumber dan mitra dalam meneliti ekosistem dan pemijahan ikan di sekitar Pulau Panggang dan Pulau Pramuka.
Pria yang ramah ini tak ragu menjadi instruktur untuk kegiatan penanaman karang bagi siapa saja, termasuk pihak perusahaan swasta yang turut mengonservasi terumbu karang di Pulau Panggang dan Pramuka. Kegiatan itu bisa dalam bentuk insidental ataupun yang terprogram dalam bentuk CSR.
Saat Kompas menjelajahi Kepulauan Seribu, Juli lalu, Ismail tengah memberikan arahan kepada karyawan-karyawati sebuah perusahaan asuransi multinasional. Di tengah deru angin laut, suaranya begitu lantang sembari memperagakan cara mencangkok karang. Instruksinya pun di ikuti saksama oleh para anggota rombongan. Mulai dari cara memilah dan memilih lokasi pembibitan,mengambil bibit dari induknya, menempelkan bibit pada substratnya, hingga melakukan perawatan.
Aktivitas pelatihan seperti itu kerap juga melibatkan rekannya, Lupus dan Siti Mahariah, di pantai Pulau Pramuka, tak jauh dari Kantor Bupati Administrasi Kepulauan Seribu.
Pengembangan transplantasi terumbu karang secara intensif dilakukannya di sekitar Pulau Panggang.
Pulau Panggang menjadi istimewa karena di dekatnya terdapat goba, semacam cekungan dalam yang dikelilingi karang, dan menjadi tempat ikan berpijah. Pulau ini tetangga terdekat dari Pramuka, hanya berjarak 1 kilometer, dan dapat dijangkau dengan ojek perahu sekitar 15 menit.
Peduli Lingkungan
Tumbuh kembang sebagai anak penjaga sekolah di Pulau Harapan, Ismail tidak canggung mentransformasi pengetahuan dan pengalamannya seputar seluk-beluk tertumbu karang. Semasa kecil, Ismail selalu diajari ayah-bundanya, Abdul Somad (61)-Nuraini, peduli pada lingkungan. Sebagai contoh, dalam benak Ismail ditanamkan persepsi bahwa ledakan mercon saja ibaratnya akan menjadi monster bagi kehidupan organisme laut dan nelayan.
Orangtuanya selalu meningkatkan bahwa penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan sama saja dengan merusak rumah ikan. Merusak rumah ikan berarti mengusir ikan menjauh dari lokasi tangkapan nelayan.
“Alih-alih bisa beranak pinak dan memberi rezeki bagi nelayan, ikan-ikan itu malah musnah sebelum berkembang biak,” pesan itu terpatri kuat dalam sukmanya.
Meski tidak sempat mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya, tidak berarti kepedulian akan lingkungan bahari dalam jiwa Ismail menjadi kerdil. Setamat SMP tahun 1986, ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan konservasi terumbu karang sembari merintis usaha budidaya ikan hias.
Sejumlah LSM lingkungan yang peduli pada konservasi terumbu karang bahkan menjadikan Ismail sebagai mediator di lapangan. Sebagai warga asli Kepulauan Seribu, perannya sangat efektif untuk ikut menggerakkan partisipasi masyarakat setempat. Pergaulannya yang luwes juga menjadi jemabatan untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Taman Nasional Kepulauan Seribu.
Dilema
Uniknya, Ismail sendiri bermukim bersama keluarga di Pulau Panggang, pulau yang justru sarat dengan masif. Berjarak 1 kilometer sebelah barat Pulau Pramuka (pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu), Pulau Panggang tergolong pulau paling padat penduduk di utara Jakarta. Luasnya hanya sekitar 10 hektar, tetapi dihuni 4.226 jiwa (1.239 keluarga). Praktis, bangunan rumah warga berdempet sesak. Data kelurahan setempat menunjukkan, kepadatan mencapai 452 jiwa per hektar.
Tekanan ruang akibat bertambahnya jumlah manusia ikut membuat beban lingkungan di Pulau Panggang menjadi tidak proposional. Keterbatasan lahan mendorong waga menguruk laut. Untuk keperluan reklamasi itu, warga menambang batu dari gosong-gosong karang di sekitar pulau. Masyarakat setempat menyebutnya karang masif atau batu daging. Selain untuk menambah luas daratan, abtu karang itu juga digunakan sebagai bahan utama fondasi rumah.
Kerap, sepak terjang Ismail menuai cibiran dari warga. Namun, cemoohan warga dihadapinya dengan sabar. “Ibarat meniti buih dan gelombang harus pandai membawakan diri,” katanya.
Rumah Ismail sendiri terletak di sebuah gang “senggol”. Gang itu berbelok dan terhubung dengan dermaga dan salah satu tepian Pulau Panggang. Di ujung gang itu, berdiri posko konservasi karang yang dikelolanya bersama satu-dua anak muda yang sevisi dengannya.
Di hampir seluruh sisi pulai ini, tampak fondasi rumah yang belum selesai. Fondasi itu terbuat dari karang yang dieratkan dengan semen dan pasir. Belum lagi dasar bangunan itu rampung jadi rumah, muncul lagi fondasi baru yang kian menjorok ke laut.
Sebagai aktivis penjaga karnag, posisi Ismail sungguh dilematis. Di satu sisi dirinya berjuang mempertahankan kelestarian karang. Di sisi lain, ia bermukim di tengah warga yang permisif terhadap kerusakan karang.
Pernah suatu ketika ia tengah memberi materi pelatihan transplantasi karang. Di tengah antusiasme peserta menyimak, terdengar suara dentuman mercon disusul suara perahu bermesin mengangkut berkubik-kubik baru karang.
Ismail ibarat berjuang di jalan sunyi. Namun, ia tetap optimistis untuk konsisten dlaam kiprahnya. “Setiap perjuangan kebaikan memang selalu mendapat tantangan. Namun, tetaplah bangga dalam semangat memperlambat habisnya sumber kekayaan bahari,” begitulah ia bertekad.
ISMAIL
Lahir : Jakarta, 6 Agustus 1973
Aktivitas : Instruktur/mediator konservasi karang
Pendidikan : SMP (tamat 1986)
Istri : Jamila (41)
Anak : – Arkaf Juliandri (19) kuliah semester III
– Ismi Safitri (16) SMA Bogor
– Asrof Ziaulhaq (12) SD di Pulau Pramuka
– Gilang Ayyassi Umron (9 bulan)
SUMBER: KOMPAS, SELASA, 18 AGUSTUS 2015

