
Di tengah pandemi seperti ini, semua sektor di Indonesia terkena dampak, tidak terkecuali pada sektor pariwisata khususnya museum. Penurunan jumlah pengunjung dan tutupnya museum membuat para insan museum kebingungan untuk menghadapi pandemi ini. Sehingga, UC Library kembali hadir mengadakan kegiatan “i’Talk” (Innovation Talk) melalui aplikasi Zoom, yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya, Museum Nasional, Asosiasi Museum Indonesia, Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jawa Timur, serta Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya dengan mengambil tema ““Work From Museum: Bagaimana Mengelola Museum di Saat dan Sesudah Pandemi Covid 19?”. Acara i’Talk yang dilaksanakan pada Jumat (22/5) lalu dipandu oleh Bapak Agoes Tinus Lis Indrianto, S.S., M.Tourism., Ph.D. (Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya) sebagai host dan di moderatori oleh Bapak Dwi Cahyono, S.E. (Ketua Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Jawa Timur).
Dalam i’Talk kali ini ada yang berbeda, selain dilakukan secara daring, kita juga kedatangan 3 narasumber berskala nasional yang akan menjelaskan kepada sekitar 154 peserta dan dibagi dalam 3 sesi. Bapak Dr. Fitra Arda, M. Hum (Direktur Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia) yang akrab dipanggil Pak Fitra, menjadi narasumber pertama pada i’Talk yang dimulai Pkl. 15.00 WIB ini. Beliau menjelaskan, bahwa meskipun dalam masa covid atau tidak dalam masa covid, kita jangan terlepas dari tujuan utama kita sebagai pengelola museum. Kita akan tetap fokus pada fungsi museum, sehingga fungsi museum tetap dijalankan.
Kementerian Pendidikan dan Budaya juga sudah mengeluarkan kebijakan untuk museum dalam masa pandemi Covid-19 dengan menjalankan program pengamanan yang sesuai protokol pemerintah, pelindungan sosial pekerja yang berkaitan dengan museum dan penggiatan program daring semasa covid. Dengan adanya covid ini, pengunjung museum pasti berkurang sangat drastis sehingga museum akan membuat sebuah protokol dan SOP tata kelola museum yang disesuaikan dengan “new normal”, misalnya tata ruang penataan koleksi, manajemen pengunjung dan koleksi, menyiapkan peralatan sanitasi dan lain sebagainya. “Tapi paling tidak, museum kita harus tetap bergerak walaupun kita tidak bisa kemana-mana.” ujarnya.
Sedangkan Drs. Siswanto, M.A. (Kepala Museum Nasional) selaku narasumber pada sesi 2 menjelaskan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh museum dalam masa pandemi ini. Sebelum pandemi, museum memperhatikan pengunjung massal ke museum sehingga, beberapa pengunjung hanya menjadikan museum sebagai wisata seperti mendokumentasikan, melihat koleksi hanya sekilas, sehingga pengunjung pulang tanpa oleh-oleh ilmu. Dengan adanya pandemi ini, museum nasional tertantang untuk tetap menyampaikan informasi ke masyarakat.
Selama masa pandemi ini, Museum Indonesia tetap melakukan pengamanan, maintenance museum, mengadakan pemanduan, diskusi, pameran dan seminar daring seperti pameran “Menjadi Indonesia” dan lain sebagainya. Virtual Tour Museum Nasional dan Google Art & Culture Museum Nasional menjadi fasilitas daring andalan yang bisa dinikmati oleh pengunjung selama masa pandemi ini.
Museum Nasional juga merancang beberapa kebijakan yang dikutip dari ICOM (About International Council of Museums) jika nantinya pemerintah akan membuka kembali museum. Sebenarnya semua kebijakan dari ICOM dapat dilaksanakan di Indonesia, akan tetapi ada beberapa kebijakan yang harus ditambah peralatannya seperti menyiapkan kedatangan publik sesuai protokol kesehatan, membuat alur pengunjung, menyiapkan staf keamanan di ruang kedatangan dan di ruang museum, pembersihan secara berkala.
Selaku Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta dan Wakil Ketua Ami Pusat, Bapak Yiyok Trio Herlambang, S.E., MM. Selaku narasumber sesi ke tiga juga menjelaskan bahwa AMI saat ini akan membuat sebuah Blueprint 2020-2024. Strategi utama yang digodok oleh AMI ini memiliki penguatan konsep pembelajaran yang dimana objek Edutaiment (Edukasi Entertaiment) dengan penguatan brand image museum itu sendiri. “Kita bikin museum itu suatu yang menyenangkan, bahkan prioritas museum nomer satu setelah itu mall, jangan dibalik ya”, ujar mantan Ketua Museum Bank Indonesia tersebut.
Pak Yiyok juga menjelaskan, museum dalam pandemi ini harus mempunyai strategi digital dan virtual seperti melakukan streaming, virtual tour, webinar dan lain sebagainya. AMI sendiri saat ini telah mengkaji sebuah panduan yang nantinya akan dibukukan untuk menghadapi era “New Normal” dan nantinya akan didistribusikan ke museum di daerah masing-masing.

