Tidak pernah terpikirkan oleh Sulistyo Triantono Putro (40), ia akan berkutat dengan limbah pabrik hingga kotoran yang dihasilkan manusia. Sanitarian di Puskemas Wonoasih, Kota Probolinggo, tersebut tidak hanya mengurusi kesehatan masyarakat. Lebih jauh lagi, kini ia lebih banyak mengurusi persoalan buang air besar orang lain
Oleh Dahlia Irawati
Seusai lulus kuliah, Anton, panggilan akrab Sulistyo Triantono Putro, melamar kerja di berbagai institusi. Ia bekerja di beberapa tempat. Terakhir , ia bekerja di PT Sasa Inti, Probolinggo, di bagian pengolahan limbah.
Bekerja selama lebih kurang 10 tahun di perusahaan bumbu masak tersebut, Anton mulai goyah. Situasi perusahaan, menurut dia , tidak lagi bisa membuat Anton berkembang sehingga ia memutuskan keluar dari pekerjaan itu pada 2009. Saat itu, Anton sudah menduduki jabatan supervisor.
Selepas dari perusahaan swasta tersebut, Anton dan istrinya mencoba melamar kerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ketika itu, Anton hanya berniat menemani istrinya melamar kerja sebagai PNS. Namun, nasib berkata lain karena justru Anton yang diterima sedangkan sang istri tidak. Anton diangkat sebagai sanitarian di Puskemas Wonoasih.
Sebagai sanitarian, ia bertugas memberikan penyuluhan di klinik sanitasi Puskemas Wonoasih. Setiap warga datang ke Puskemas dengan kasus diare, DBD, cacing, TBC dan sakit mata, maka mereka akan dirujuk ke klinik sanitasi tersebut.
Di klinik ini, Anton bertugas menggali keterangan dari masyarakat mengenai kondisi tempat tinggal pasien,lingkungan sekitar, dan melakukan kunjungan ke rumah untuk mengetahui kondisi lapangan. Dengan data yang diperoleh, Anton akhirnya bertugas mencarikan solusi agar warga tersebut bisa terhindar dari penyakit tersebut untuk kedua kalinya.
“rata-rata banyak kasus diare berulang. Setelah diteliti, rupanya memang kondisi sanitasi mereka masih memprihatinkan. Mereka masih BAB di sembarang tempat, termasuk di sungai dekat rumah mereka. Sedikit banyak perilaku BAB sembarang ini menjadi salh satu penyebab sakit mereka.” Ujar Anton.
Anton pun berpikir harus ada perubahan dalam perilaku masyrakat agar tidak mudah terserang diare. Salah satunya dengan memperbaiki sanitasi mereka.
Pelatihan
Secara kebetulan, pada 2011, Anton dikirim untuk mengikuti pelatihan dari Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) USAID dalam program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
Di sini, Anton dilatih untuk bisa memicu masyarakat memperbaiki perilaku BAB sembarang mereka. Selain itu, ia juga diarahkan untuk bisa menjadi wirausaha bidang sanitasi dengan mengusahakan jamban sehat bagi warga. Anton dilatih cara membuat jamban sehat, memanajemeni usaha pembuatan jamban,hingga mengatur sistem keuangan usaha tersebut.
“selama ini masalah warga tidak memiliki jamban karena terbentur persoalan biaya. Mereka takut pembuatan jamban butuh biaya besar, makanya,saya memakai sistem kredit agar bisa diakses banyak orang,”ujar ayah tiga anak tersebut.
Utang
Anton mulai memberikan kredit pembuatan jamban pada 2012. Usaha Anton ini dibantu empat orang teknisi lapangan dan sejumlah kolektor uang ( biasanya tokoh masyarakat setempat).
Modal Anton untuk memulai usaha jamban sehat adalah dengan menyisihkan uang Rp. 20 Juta, yang disisihkan dari peminjaman bank untuk membangun rumahnya. Kini, aset yang dimiliki Anton sudah berkembang hingga empat kali lipat dari modal awal tersebut.
Nasabah kredit pembuatan jamban yang diberikan Anton biasanya membayar uang muka Rp 300. 000. Selanjutnya, mereka mencici Rp. 100. 000 per bulan. Penagihannya dilakukan setiap minggu sebesar Rp. 250. 000.
Bentuk dan varian jamban sehat ala Anton bermacam-macam, mulai dari harga Rp. 1,5 juta, Rp.1,7 Juta, hingga Rp.2,2 Juta (memakai sistem filter modern).
Saat ini, nasabaj kredit jamban Anton mencapai sekitar 500 orang se kecamatan Wonoasih. Nasabah terbanyak masih di Kecamatan Wonoasih.
“ini hanya salah satu cara mengajak orang menuruti omongan saya. Saya tidak boleh hanya bisa omong , tetapi tidak bisa memberikan solusi. Kredit jamban ini adalah solusi bagi warga yang berat membayar tunai untuk membangun jamban,” ujar Anton.
Cara Anton mendekati warga bukanlah sekadar dengan ceramah. Ia mengajak warga memantau sungai secara langsung. Ia mengajak warga melihat lokasi BAB dan menegok “ampas-ampas” BAB secara langsung hingga mereka jijik bahkan muntah. Upaya tersebut sedikit banyak membuat warga mau diajak BAB di jamban.
“Saking seringnya warga melihat saya bicara tentang jamban, mereka pun menyebut saya master jamban. Saya senang, setidaknya masyarakat mulai menghargai jamban,” ujar suami Umi Wijayanti tersebut.
Upaya Anton menggeluti sanitasi masyarakat tidak lepas dari keprihatinannya pada perilaku masyarakat yang masih tradisional dalam BAB. Selama ini sejak kecil warga Probolinggo terbiasa BAB di sungai. Dan itu terbawa hingga turun-temurun.
Anton mengungkapkan, di kecamatan Wonoasih masih ada 4085 keluarga yang belum memiliki jamban dan ada 3009 keluarga buang air besar di sembarang tempat. Adapun tingkat akses sanitasi di Kecamatan Wonoasih masih sekitar 55,19 persen.
Di tingkat kota, tercatat masih terdapat 16,749 keluarga di kota Probolinggo belum memiliki jamban. Adapun 14.253 keluarga masih BAB di sembarang tempat , termasuk di sungai.
“Saya akan terus mengampanyekan sanitasi sehat. BAB di jamban jauh lebih sehat daripada BAB di sungai atau tempat lain. Saya ingin Probolinggo berubah. Dari kota kecil yang semula memiliki masalah sanitasi , menjadi kota percontohan sanitasi sehat. Ini bisa dilakukan kalau semua masyarakatnya mau mengubah perilaku dan kebiasaan,” ujar Anton.
Cita-cita Anton tersebut diakui tidak mudah. Ia harus terus bergerak mendekati warga untuk mendorong perubahan perilaku. Jika rata-rata PNS akan beristirahat dari kerjanya pada sore hari, Anton terus bergerak. Ia menghadiri sejumlah acara di masyarakat hingga tengah malam. Sasarannya satu, mendengungkan sanitasi sehat setiap saat.
Kompas, Kamis, 18 Juni 2015

