Seiring perkembangan zaman, Jalan Benteng tidak hanya menjadi kawasan perdagangan.  Akan tetapi juga menjadi kawasan pemukiman penduduk.

Ginanjar Elyas Saputra Wartawan Radar Surabaya

KAWASAN Jalan Benteng terdapat berbagai etnis penduduk, mulai dari Toaghoa, Arab, Melayu, priumi dan lain-lain sebagainya nenduduk lokasi ini.  Namun ra diamati sekaberdering, kawasan tersebut tidak hanya diduduki warga Tionghoa, Arab dan Melayu saja.  “Zaman dulu belum begitu padat. Maka dari itu pemukiman di sana dibagi berdasarkan jenis suku bangsa. Sekarang ya sudah campur aduk pemukimannya,” kata Sejarahwan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika.

Hingga akhirnya benteng dihancurkan di tahu mulai banyak berdiri bangunan warga dengan mengikuti perkembangan kota. Ada beberapa kampung sehingga dinamai dengan sebutan 893, Kampung Benteng.

Dijelaskan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispupip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhud, lokasi ini terdapat subkompleks perkampungan.  Mulai dari kampung Benteng Miring, Benteng Timur, dan Benteng Dalam. “Jadi penamaan tersebut ada kisahnya masing-masing,” kata Musdiq.

Kian ramainya penduduk dan pemukiman di Kampung Benteng tidak lain karena penghancuran Citadel Prins Hendrik sendiri yang akhirnya bukan menjadi kawasan pertahanan, melainkan dapat di’adikan pemukiman masyaran Ketika masih berdirinya teng masyaran engga enempati kawasan itu di akhir banyak.” kosong.

Mulai Ramai …

Namun setelah benteng dihancurkan, satu orang memanfaatkan kawasan tersebut.  Lokasi yang strategis juga menjadi alasan kawasan tersebut berkembang menjadi perkampungan, kawasan perdagangan hingga perindustrian.

“Pada zaman dulu memang kawasan yang dekat dengan sungai dianggep sebagai kawa- san yang strategis, karena jalur transportasi transportasi kala itu,” pungkas- nya.  (bersambung / nur)

Sumber: Radar Surabaya. 9 April 2021.Hal.3