
Jas Merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Ungkapan Bung Karno itu pas ditujukan untuk gerakan lintas komunitas di Surabaya yang berkegiatan pada Minggu(20/1). Mereka berkumpul, jalan-jalan, dan menggali nilai sejarah yang tersembunyi di sudut Kota Surabaya.
NURUL KOMARIYAH
MINGGU pagi lalu sejumlah orang mendatangi Gereja Katolik Bebas di kawasan belakang Taman Bungkul. Mereka terlihat akrab berbincang dengan salah satu pengurus gereja. Topik obrolannya mengenai asalgereja yang berdiri sejak 1920-an itu. Seluk-beluk gereja digali. Mulai arsitektur bangunan,jumlah jemaat, hingga upaya konservasi yang pernah dilakukan.
Salah satu yang antusias bertanya pada pengurus gereja adalah Chrisyandi Tri Kartika. Hari itu salah satu pendiri Indonesian History Wilayah Surabaya tersebut bertindak sebagai koordinator blusukan. Dibantu Maria dari My Heritage Trip Mojokerto, berbagai komunitas pecinta sejarah lain ikut serta dalam blusukan. Di antaranya, Urban Sketchers Surabaya dan Sjarikat Poesaka Soerabaia (SPS).
Menurut Chrisyandi, mendatangi berbagai tempat kuno dan bersejarah antarlintas komunitas seperti itu sering dilakukan. Selain untuk menuntaskan rasa ingin tahu yang besar terhadap cerita sejarah di dalam objek yang dikunjungi, mereka punya tujuan lain. Yakni, membuat sebuah tulisan atau pengalaman yang kemudian dibagikan di media sosial.
Cara itu dianggap cukup efektif. Sebab, banyak orang yang kemudian membaca dan membagikannya pada khalayak yang lebih besar. Dengan begitu, ilmu dan pengetahuan baru tentang sejarah dari berbagai kota bisa didapatkan. Lelaki yang juga pustakawan Universitas Ciputra tersebut mengungkapkan, penggalian nilai sejarah tidak bisa didapat dengan mudah. Sebab, di beberapa tempat harus dilakukan pendekatan secara personal.”Penjaga, pengelola, dan pengurus gedung mesti diajak ngomong seperti saudara sendiri,”katanya. Ada banyak cara untuk menimbulkan kedekatan dengan sumber sejarah. Mulai obrolan sederhana sampai PDKT dengan mendatangi lokasi berkali-kali. Hal itu membuat Chrisyandi secara pribadi lambat laun belajar tentang karakter orang yang berbeda-beda. Belajar peka untuk membaca mimik wajah maupun bahasa tubuh seseorang. Hal itu kemudian menjadi sirine atau semacam pedoman. Tujuan nya, menentukan pendekatan yang tepat.
“Dari nada suaranya saja bisa terlihat bagaimana seseorang itu harus didekati,” tambahnya. Penolakan, bahkan pengusiran, pernah dialami. Misalnya, saat mereka mengunjungi peninggalan rumah-rumah kuno Tionghoa dan Belanda yang kerap disebut Rumah Singa di Pasuruan. Namun, hal itu tidak membuat mereka jera. Bagi para pecinta blusukan sejarah, mendapatkan informasi yang tidak tertera di buku merupakan imbalan yang setimpal. Terutama saat mencocokkan cerita yang didapat di lapangan dengan dokumen atau teori sejarah yang pernah dibaca. “Kayak ke Gereja Bebas ini. Masuk ke dalamnya ada plakat sejarah yang menunjukkan bahwa ini gereja Masson. Tapi, jemaatnya Katolik, termasuk anggota Teosofi. Itu kan menarik banget,” papar alumnus jurusan perpustakaan UWK itu. Maria menuturkan, salah satu kepuasan batin didapat. Terutama saat dirinya mengantongi dokumentasi sebuah tempat atau bangunan yang kini sudah berubah wujud. “Ketika gedung itu hancur atau hilang, kita masih punya dokumentasi sama kenangannya. Kayak Hotel Kokoon di kawasan Kayoon itu. Aku punya fotonya sebelum jadi hotel seperti sekarang. Kayak gitu kan memorable banget,” ungkapnya. Selain ke gereja, rombongan tersebut mengunjungi SMP dan SMA Santa Maria. Mereka menelusuri sudut-sudut bangunan sekolah hingga ke lantai 3. Bagi mereka, orang yang tidak memahami sejarah sama seperti daun yang tidak pernah tahu dimana cabang tempatnya bergantung.
Sumber: Jawa Pos. 23 Januari 2019
