Seiring dengan bertambahnya usia, banyak keluhan fisik yang semakin sering dirasakan. Misalnya, nyeri tengkuk, leher dan bahu, serta pinggang. Namun, sedikit yang menyadari bahwa rasa nyeri di banyak tempat bisa menjadi salah satu tanda skoliosis.

Skoliosis atau kelainan tulang belakang yang membentuk huruf Catau S dapat menyerang anak-anak, remaja, kan hingga dewasa, lansia. Menurut dr Michael Triangto kedokteran olahraga di Jakarta, asi usia itu variasi merasakan sakit yang berbeda beda. Jadi, banyak yang tidak menyadari terkena skoliosis. “Contohnya, anak-anak dan remaja yang aktivitasnya banyak dan fleksibilitas tinggi cenderung enggak merasakan nyeri karena asyik dengan kesibukannya,” ujarnya kepada Jawa Pos pada Rabu (28/4).

Berbeda dengan usia dewasa ketika tubuh mulai kaku dan kurang aktif bergerak, rasa sakit lebih bisa dirasakan. Namun, banyak yang menyalahartikan rasa nyeri di banyak tempat. Misalnya, nyeri tengkuk yang kerap dinilai sebagai tanda kolesterol darah tinggi, apalagi jika dibarengi nyeri bahu. Atau, nyeri pinggang yang kerap diduga terjadi jepitan saraf. “Padahal, nyeri di banyak tempat itu ciri khas skoliosis,” ungkap Michael. Dia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang memicu timbulnya skoliosis. Salah satunya, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang belakang patah. Lalu, tulang itu miring. “Tulang belakang itu seharusnya seperti apartemen di Surabaya. Dari bawah sampai atas kan lurus tuh,” katanya. Penyakit berat seperti kanker tulang bisa menyebabkan skoliosis.

Skoliosis juga bisa diturunkan tanpa disadari. Lantas, meski tidak pernah mengalami kecelakaan berat dan tidak memiliki turunan skoliosis, apakah bisa berisiko skoliosis? “Bisa karena melakukan gerakan-gerakan tidak simetris dalam jangka waktu panjang jelas Michael

Dia mencontohkan, seorang atlet dengan anet dominasi salah satu sisi anggota tubuh. Misalnya, bulu tangkis, golf, dan tennis. “Mereka berlatih sejak kecil sampai usia emas 30 tahunan. Ototnya menjadi tidak seimbang,” terangnya.

Kebiasaan dan postur tubuh yang buruk juga berpengaruh. Misalnya, posisi mengetik di laptop dengan satu kaki diangkat sebelah sehingga tubuh tidak simetris. Atau, kebiasaan membawa tas berat di salah satu sisi saja. “Kalau sekali-dua kali, enggak bakalan skoliosis sih. Tapi, kalau dilakukan tanpa sadar bertahun-tahun, ya berbahaya,” tegas Michael.

Jika ingin memastikan skoliosis atau tidak, Mihael menyarankan untu pemeriksaan X-ray dengan berbagai posisi. Skoliosis golongan berat bisa ditangani dokler ortopedi dengan operasi. Skoliosis tergolong berat jika sudut lengkungnya lebih dari 40 derajat.

Namun, untuk penanganan skoliosis tahap ringan dan sedang bisa dilakukan sport therapy dengan pengawasan kelompok dokter spesialis kedokteran olahraga. Skoliosis dikatakan ringan jika sudut lengkungannya kurang dari 10 derajat dan sedang jika lengkungannya mencapai 10-40 derajat. Sport therapy bisa membantu skoliosis tidak bertambah parah pada beberapa kasus tertentu. Misalnya, usia pasien terlalu muda untuk dioperasi.

Michael pernah menerima pasien 15 tahun dengan skoliosis berat sebesar 60 derajat. Orang tua pasien ingin anaknya dioperasi saat usia 18 tahun agar pertumbuhannya lebih optimal. Sembari menunggu, pasien menjalani sport therapy.

“Saat operasi, otot-ototnya sudah lebih kuat dan kondisi tidak bertambah parah.,” tuturnya. (adn/c14/tia)

 

Sumber: Jawa Pos.2 Mei 2021.Hal.28