Janji Kopi Beriring Advokasi.Kompas.4 Februari 2015.Hal.16

Perkenalkan, Muhammad Syarif Abadi. Bersama Bantuan Coffe Foundation (Bantuacoffee.org) yang turut didirikannya pada 2012, ia telah dan sedang menyelamatkan lebih dari 200 anak-anak korban praktik prostitusi di Lampung,

Oleh INGKI RIN ALDI

Anak-anak usia antara 13 tahun hingga 17 tahun dibawa keluar dari lingkar setan perdagangan manusia. Dibawa keluar, terkadang bermakna sesungguhnya berupa upaya pembebasan dengan cara diajak kabur dari kungkungan penguasa lokalisasi.

Adapun Bantuancoffee.org merupakan organisasi nonprofit yang mendapatkan dana dari penjualan kopi luwak asal Indonesia di Belanda. Keuntungan penjualan biji kopi arabika asal Takengon, Aceh Tengah, Aceh, itu didonasikan sepenuhnya untuk tujuan penyelamatan anak-anak tadi.

Penyelamatan dilakukan antara lain dengan pemberian konseling, penempatan di rumah aman, beasiswa, dan pelatihan keterampilan. Karena berbagai kegiatan ini membutuhkan dana, sementara bantuan dana dari sejumlah donor tidak mencukupu, maka ia mulai bisnis kopi.

Kurangnya bantuan dari sejumlah lembaga donor, menurut Syarif, karena lembaga itu cenderung menyokong gerakan dengan basis program . ada kalanya, begitu program selesai, walaupun persoalan di lapangan belum usai.

Dalam kalkulasinya, untuk “mengembalikan” anak korban prostitusi itu ke sistem sosial masyarakat, dibutuhkan dana hingga Rp 15 juta. Biaya itu bisa membengakak jika kasus yang dihadapi tergolong berat dan butuh penanganan khusus dengan waktu relative lebih lama\

Pengumpulan Dana

Syarif memulai Bantuancoffee.org bersama akademisi Robert Porter pada 2011, saat keduanya melakukan penilitian tentang ranah hukum di Lampung dan Yogyakarta. Kini Bantuancoffee.org dijalnkan sepenuhnya di Belanda yang dilakukan secara sukarela oleh sejumlah akademisi.

Kerja keras harus dilalui sebelum Bantuancoffee.org mulai menemukan jalnnya. Pada 2012 Sayrif bahkan sempat membeli mesin roaster (sangrai) biji kopi senilai Rp 20 juta yang akhirnya justru tidak terpakai.

Pasalnya, sesampainya di Belanda biji-biji kopi yang sudah disangrai itu hancur. Akhirnya diputuskan, proses roasting dikerjakan di Belanda dan pengiriman dari Indonesia dilakukan dalam bentuk green bean atau biji kopi yang telah di kupas dan dikeringkan, tetapi belum disangrai.

Adapun dana awal tersebut sebagian diperoleh dari urunan donator tidak kurang 48 orang yang namanya diurutkan berdasarkan abjad dicatat sebagai donator awal dalam laman Bantuancoffee.org yang menggunakan nama situs The Bantuan coffee Foundation dengan slogan “A Way Out of Child Prostitution”.

Ia belakangan berkonsultasi dengan pakar ekonomi mikro dan pelopor lembaga keungan mikro agribisnis Masril Koto guna keberlanjutan usaha dan pergerakan. Saat ini Syarif tengah menunggu lampu hijau untuk mengekspor biji kopi itu dalam jumlah besar. Ia berharap bisa mendapat keuntungan  lebih besar, atau jauh lebih besar dari dana Rp 137 juta yang dikumpulkan pada 2013 lewat mekanisme itu.

Upaya advokasi

Pada 1999, Syarif aktif bersama Kantor Bantuan Hukum (KBH) lampung. Kini, ia menjabat sebagai direktur KBH Lampung, meski ia tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal dalam ilmu hukum. Syarif merupakan sarjana ilmu komunikasi lulusan Universitas Lampung.

Sejak awal masuk dan terlibat dalam dunia pergerakan, Syarif berpembawaan tenang. Ia bukan tipe orator ataupun agritator. Perannya lebih menjadi fasilitator. Ia berada di belakang panggung, Peran ini yang membuatnya lebih memiliki kebebasan bergerak dan melakukan berbagai hal.

Karena itulah, jejak anak bungsu dari delapan bersaudara itu di lapangan tidak terlalu tampakdalam sorotan media. Sosoknya cenderung berada di bawah permukaan dan relative jauh dari ingar-bingar.

Ia pun lebih banyak memfasilitasi dan mengadvokasi beragam kepentingan hukum masyarakat di pedesaan. Pada 2001-2006, ia dan kawan-kawan memfokuskan pada sejumlah  isu structural di kalangan petani.

Mereka terjun ke petani dan nelayan dengan tujuan agar masyarakat dari kelompok tersebut bisa mengadvokasi diri mereka sendiri. Ia mendorong petani dan nelayan paralegal, atau anggota masyarakat yang dididik dengan pengetahuan hukum dasar. Harapannya, mereka mamapu mengurai ataupun menyelesaikan persoalan hukum di tengah masyarakat.

“Kita berikan pemahaman hkum dan lingkup sektor hukum itu seperti apa. Karena KBH ranahnya ada di displin paralegal,” kata Syarif.

Untuk tujuan itu,KBH setidaknya telah melakukan pelatihan di delapan kabupaten di lampung bekerja sama dengan program nasional pemberdayaan masyarakat. Konsepnya, satu desa memiliki satu paralegal, yang kemudia menghasilkan sekurangnya 400 paralegal.

Ini berdampak positif, diantaranya masyarakat bisa melakukan advokasi terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Beragam kasus, seperti kekerasan dalam rumah tangga, sengketa jual beli, dan perkelahian antarkampung dapat diselesaikan secara mandiri.

Dalam pandangan Syarif, paralegal desa berfungsi untuk memetakan puzzle. Menyeimbangkan bandul kekuatan sehingga posisinya sama. “Karena mediasi yang baik, dilakukan saat semuanya setara,” kata Syarif.

Sebagian besar dari ratusan paralegal itu adalah tokoh berpengaruh di desa masing-masing. Merekalah yang biasanya maju sebagai pemimpin kultural bilaman terjadi persoalan.

Akan tetapi, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, Syarif menjadi orang pertama yang dikontak saat mereka menemui jalan buntu. Lantas dengan segala kesibukan itu, bagaimana Syarif membagi waktunya bersama keluarga?

“Ya Protes”, kata Syarif sembari mengeleng-gelengkan kepala.

Protes itu terutama didaptkan dari anak tertuanya yang berusia sekitar 6 tahun, tatkala menyadari sekitar 60 persen waktunya tersita untuk pekerjaan. Sisanya baru untuk keluarga.

Karena itulah ia mengutamakan pola komunikasi berkualitas saat berinteraksi dengan keluarga. Caranya, setiap sabtu dan minggu, diperuntukkan khusus bagi keluarga.

Muhammad Syarif Abadi

  • Lahir : Jakarta, 4 Sptember 1979
  • Istri : Yohana Eva Yulianti
  • Anak :
    • Muhammad Kafka Tepa Abadi
    • Kamea Tepa Abadi
  • Pendidikan :
    • SDN Waringin I Bekasi, lulus 1992
    • SMPN 1 Ciawi, Bogor, lulus 1995
    • SMAN 1 Ciawi, Bogor, lulus 1998
    • S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, lulus 2005
  • Penghargaan :
    • Inovator Temu Nasional V PNPM Mandiri 2012, Membangun Kemitraan dalam Penanggulangan Kemiskinan Menuju Sebuah Gerakan. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi PEnanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat selaku Ketua Pokja Pengendali PNPM Mandiri

Sumber: Kompas, Rabu, 4 Februari 2015