Tiga blok di Tempat Pemakaman Umum Keputih, Surabaya, Jawa Timur, menjadi saksi banyak kesedihan akibat Covid-19. Di tiga blok itu warga yang meninggal karena Covid-19 dikuburkan secara sederhana dan singkat. Keluarga yang datang dengan jumlah terbatas hanya melihat dari jauh dan menahan pilu. Seusai pemakaman, banyak warga meninggalkan jejak di pusara kerabatnya.
Keluarga dari Sumardijoto (meninggal pada Juli 2020) membuatkan hiasan dari besi bertuliskan “My Love” dan tak lupa mereka mengaitkan mawar plastik di besinya. Hiasan tersebut tidak hanya sebagai penanda cinta merka, tapi juga sebagai penanda kubur sehingga mudah dicari saat akan dikunjungi.
Keluarga lainnya meletakkan bunga, baik bunga hidup maupun imitasi, sebagai lambing cinta. Bunga itu diletakkan di bawah nisan, di atas pusara. Ada juga yang menanam bunga-bunga hidup di sekitarnya.
Warga Surabaya, Silfia, menaburkan bunga mawar di atas makam ayahnya, Nurcholis, yang meninggal pada Desember 2020. Ia datang ke makam ayahnya setiap Kamis atau hari libur dan mengganti bunga yang layu. Ia tidak sendiri. Nara Thrisna, teman masa SMA-nya, ikut mendampingi. “Saya tidak hanya datang untuk ayah, tetapi juga untuk sahabat saya, yaitu Aulia Forensia,” ujarnya terbata. “Aulia meninggal juga bulan Desember seperti ayah.” Setelah berziarah, kedua sahabat tersebut berpisah.
Di pusara lainnya, sebuah boneka warna biru dari kain velboa diletakkan di makam Putri Aisyah. Gadis yang lahir pada Maret 2004 itu berpulang akibat Covid-19 pada Oktober 2020. Boneka beruang kesayangan Putri itu diletakkan di pusara sebagai “teman” untuknya.
Bunga ataupun boneka itu bercerita bahwa ada cinta keluarga yang mendalam bagi mereka yang dikuburkan.
Sumber: Kompas, 31 Januari 2021

