Saat Jepang menduduki Indonesia lebih memprioritaskan untuk merebut sektor industri. Bahkan untuk menunjang perangnya, mereka menguasai kilang minyak Wonokromo.

Rahmat Sudrajat Wartawan

Radar Surabaya

PUSTAKAWAN sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saat masa Jepang, fokus pada kepentingan perang. Sehingga sekutu geram melihat penguasaan Jepang, karena telah menguasai kilang minyak untuk kepen tingan perangnya. Sehingga Surabaya mengalami pembumi hangusan berbagai objek vital gedung pemerintahan, gedung militer persenjataan dan kilang minyak di Wonokromo.

“Jepang memperioritaskan untuk merebut sektor industri paling penting guna menunjang kebutuhan. perang mereka dengan menguasai kilang minyak,” katanya kepada Radar Surabaya.

Jepang mulai masuk tahun 1942-1945, ketika itu terjadi perang untuk merebut kekuasaan. Pasukan sekutu termasuk Amerika ikut serta menghancurkan kilang minyak agar tidak dikuasai oleh Jepang. “Amerika membombardir kilang minyak tersebut untuk menghambat supaya Jepang secepatnya kalah,” jelasnya.

7 Maret 1942 pasukan Jepang, bergerak ke sebelah barat dan selatan, tiba di pinggiran Surabaya. Panglima pasukan Belanda, Mayor Jenderal Ilgen mengumpulkan pasukan dan mengungsikan diri ke pulau Madura. Kota Surabaya ditinggalkan pada pertahanan sipil, sementara pasukan KNIL di Jatim mengundurkan diri ke Lumajang. Ketika kilang minyak Wonokromo hancur oleh pengeboman tentara Amerika kondisi distribusi minyak juga mengalami kendala. Namun pasca pengeboman kilang minyak tersebut diperbaiki kembali. “Kemungkinan diperbaiki lagi untuk distribusi minyak di Jawa,” pungkas nya (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 22 November 2021. Hal.6.