Ditemukannya sumber minyak di kawasan Jagir Wonokromo berdampak pada kemanfaatan hajat hidup orang banyak, bahkan memacu industri di Surabaya.
Rahmat Sudrajat
Wartawan Radar Surabaya
TAK hanya itu, Surabaya menjadi kota di Jawa yang memiliki kandungan minyak yang dieksplorasi menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi. Bahkan dari kilang minyak Wonokromo
digunakan untuk kegiatan ekspor minyak ke berbagai negara tujuan.
Tahun 1911 Bataafsche Petroleum Maatschappij (BMP) yang mengakusisi Dordtsche Petroleum Maatschappij (DPM) mengakomodir kebutuhan listrik dengan minyak yang digunakan untuk penerangan lampu di Surabaya.
“Jadi sumber minyak dari BPM ini juga untuk penerangan listrik.” Kata pustakawan sejarah Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Ia menjelaskan, kehadiran kilang minyak di Wonokromo tahun 1890 yang dikelola oleh Dordtsche Petroleum Maatschappij menjadi cikal bakal Surabaya menjadi kota industri. Karena industry minyak memegang peranan penting dalam mendukung perkembangan Surabaya.
“Ya memang betul, kehadiran industri minyak di Surabaya ini memicu gairah munculnya industri
minyak di Surabaya,” ujarnya.
Minyak di Surabaya juga digun kan sebagai sumber penerangan di kantor-kantor dan rumah penduduk. Bahkan hadirnya transportasi di Surabaya juga memberikan manfaat minyak menjadi lebih banyak.
Ekspor Minyak…
“Apalagi alat transportasi dan pabrik juga mulai banyak berdiri,” ujarnya. Industri minyak di Surabaya awalnya dimiliki DPM kemudian tahun 1911 BMP mengakusisi. Dan saat itu BPM merombak total karena BPM juga menyuplai berbagai kebutuhan antara lain bahan baku penerangan jalan-jalan kota dengan jaringan yang menyebar ke seluruh kantor dan rumah tangga orang Eropa, kemudian bahan bakar transportasi dan industri di Surabaya. (bersambung/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 23 November 2021.Hal 6.

