Keberadaan rumah sembahyang keluarga Han tak hanya bernilai besar untuk kepentingan marga Han sendiri. Namun Robert Han – penanggung jawab rumah Han – menganggap upaya itu juga demi menjaga warisan sejarah dan budaya untuk masyarakat.
Sembahyang leluhur bagi orang Tionghoa sangat penting. Itu termasuk penghormatan kepada leluhur. Robert han masih sangat teguh memegang itu.
“Sederhana, kehidupan manusia yang dijalani sekarang tidak akan ada jika tidak berasal dari leluhur. Kami keturunannya harus tetap mengingat dan bersyukur akan kehidupan yang dijalani dengan menghormati leluhur,” katanya.
Sembahyang itu bisa dilakukan di rumah. Asal ada altar sembahyang. Atau di tempat ibadah. Umat Konghucu misalnya, melakukannya di klenteng. Namun ada keluarga Tionghoa yang khusus memiliki rumah sembahyang.
Salah satunya rumah sembahyang Han.
“Melihat keberadaan rumah sembahyang yang khusus didirikan oleh Han Bwee Koo, tentu ada nilai yang tinggi dari bangunan itu sesuai jabatannya,” terang Freddy H Istanto, pengamat budaya di Surabaya.
Di atas tanah seluas 1.500 meter persegi, Han Bwee Koo mendirikannya saat ia menjadi kapitan (Kapitein) Tionghoa di Surabaya. Kapitein adalah gelar untuk para petinggi di kalangan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara yang ditunjuk oleh pemerintahan kerajaan pribumi dan kemudian oleh pemrintahan kolonial.
Han Bwee koo mendirikannya untuk kepentingan keluarga. Setidaknya untuk ayahnya, Han Siong Kong.
Siapa Han Sion Kong juga cukup punya kekuatan dalam sejarah. Ia dikenal sebagai pendiri keluarga Han dari Lasem. Han sendiri adalah salah-satu dinasti cabang atas tertua di Indonesia.
“Han Siong Kong itu posisinya juga seperti Han Bwee Koo. Berperan penting sebagi birokrat pemerintahan dan tuan tanah di Hindia Belanda,” kata dosen Universitas Ciputra itu.
Sebagai warisan keluarga Han, rumah itu punya nilai sebagai peneguh kota Surabaya sebagai kota tua. Ia menjadi saksi bisu dari awal sampai seluk beluk keturunan Han Bwee Koo dari generasi ke generasi.
Mulai dari zaman kolonial, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, kebijakan rasial terkait warga Tionghoa, larangan beribadah secara terbuka, larangan mepertontonkan budaya Tionghoa.
Hingga generasi Robert pada tahun 90-an saat melawan investor yang hendak merebut kepemilikan bangunan itu. “Era sekarang sudah lebih ayem. Terlebih pemerintah kota Surabaya telah menetapkan rumah sembahyang keluarga Han sebagai bangunan cagar budaya tipe A,” ujar Robert.
Menurut Robert, ia akan lebih ayem lagi bila rumah itu jadi diwujudkan oleh pemkot Surabaya yang akan menjadikannya museum. Hal ini diamini Lurentius Handigdo, generasi Han ketujuh dari Hang Siong Kong.
Pria yang “Kembali” ke rumah itu setelah 60 tahun itu ikut bangga bila rumah leluhurnya menjadi museum. “Tentu akan lebih nyaman ya untuk semua. Nilai sejarahnya enggak hanya buat kami keluarga besar tetapi demi bangsa dan negara juga,” kata pilot senior Garuda Airways itu.
Namun Freddy mengingatkan tentang rencana tersebut. Ia berharap proses membuat museum harus ditangani pemkot Surabaya dengan lebih serius. Meskipun banyak museum yang sudah dihidupkan oleh pemkot Surabaya namun ada sistem yang tak boleh dilakukan sekenanya.
Malah ia lebih tenang kalau museum itu digarap oleh swasta misalnya keluarga sendiri atau ada investor lain. “Nah pemkot Surabaya tinggal support. Sebab melihat cara pemkot Surabaya menangani museum di Surabaya belum seperti yang saya harapkan,” kata Freddy yang mengambil studi S1 tentang museum.
Director Sjarikat Poesaka Soerabaia (Surabaya heritage Society) itu mengingatkan tentang nilai-nilai penting rumah Han yang taka da di tempat lain.
“Jelas bangunan itu sendiri sudah luar biasa. Dari semua rumah sembahyang lain yang ada di Surabaya, rumah Han termasuk istimewa. Satu yang tak banyak diketahui adalah ada makam di belakang rumah,” terang Freddy yang menulis skripsi tentang museum Bahari di Surabaya, pada 1982.
Di belakang rumah Han, setelah altar sembahyang yang ada di bangunan utam, memang ada halaman belakang. Di sana ada ruang-ruang yang diapaki sebagai tempat tinggal para penjaga.
Dari luasnya, ruang itu jelas bukan ruangan untuk ditinggali pemilik rumah. Namun untuk para penjaga. Saat ini ada tiga orang yaitu Mbah rah, Pak Prayit dan Yono.
“Kalau ditelusuri lagi siapa yang dimakamkan di situ maka akan makin menambah nilainya. Makam itu bertulis bahasa Mandarin. Letaknya juga kalau ditarik jauh ke belakang akan ada makam Tionghoa di Slompretan,” ungkapnya.
Menurut Freddy mewujudkan museum di rumah Han akan unggul karena luasannya besar. Gedung maupun halaman. Ada tiga massa besar yang bisa dikembangkan dalam museum. Terdiri dari main building, rumah penjaga dan bagian service.
Dalam bayangan Freddy, bagian service itu bisa dibangun kafe atau restoran. Yang penting lagi ya ruang untuk koleksi. Yang unik, langka, orisinal, cerita dan otentik. Lantas museum itu harus ada ruangan yang steril. Tidak boleh sembarang dimasuki.
“Dalam istilah saya itu holy-space. Tempat doa. Sekarang ya tempat meja atau altar sembahyang dan sinci itu,” paparnya.
Melihat rumah Han yang utuh sampai sekarang, Freddy melihat ada prospek besar untuk pembuatan museum. Bukan hanya soal dekorasi, melainkan juga kesinambungan. Siapa yang mengelolanya.
“Harus ada tiga aspek yang diperhatikan. Ada pameran yang dilakukan berkala untuk menyajikan koleksi secara bergantian dengan tema tertentu. Sisi edukasinya, bisa dijadikan pusat kajian budaya peranakan. Sisi hiburan juga jangan dilupakan,” ujarnya.
Melihat berbagi usulan Freddy itu, Robert yakin kelak semua itu akan diwujudkan. Laurentius juga demikian. Ia saat ini makin antusias membantu Robert untuk mengumpulkan keluarga Han yang tersebar di Indonesia.
Salah satu niatnya adalah ingin meneruskan pembuatan bagan silsilah keluarga Han. Mengingat dalam bagan hanya berhenti di keturunan ketujuh Han Bwee Koo. “Marga Han setelah saya sudah enggak tercantum di sana. Dan dalam bagan itu hanya ada nama laki-laki,” terangnya.
Kemungkinan bagan silsilah akan dibuat dengan bentuk digital. Menyesuaikan zaman sekarang. Robert juga telah lama berpikir tentang hal tersebut. Mungkin bisa diawali dengan membentuk Yayasan marga Han yang mengumpulkan orang-orang Tionghoa bermarga Han.
“Itu semua demi kepentingan yang lebih luas. Kami ingin rumah Han ini akan menjadi warisan bersama,” tegas Robert. (Heti Palestina Yunani/Habis)
Sumber: Harian Di’s Way. 17 Februari 2021. Hal.38-39

