ADA banyak jembatan di Surabaya, khususnya peninggalan masa penjajahan. Salah satunya yakni jembatan Yos Sudarso. Jembatan yang melintang di atas sungai Kalimas ini tepatnya berada di Jalan Yos Sudarso.

Jembatan ini menghubungkan dua lokasi penting kala itu, yakni Staadhuis te Soerabaia atau Balai Kota Surabaya dengan De Simpangsche Societeit atau kini dikenal dengan Balai Pemuda.

Masyarakat dulu menyebut Jembatan Yos Sudarso dengan sebutan Jembatan Kayu di Kebon dalem. Sedangkan penamaan jembatan kini mengikuti nama jalan tempat jembatan berada, yakni Jalan Yos Sudarso.

“Jembatan tersebut dirancang oleh arsitek ternama asal Belanda kala itu, yakni G.C Citroen. Jembatan selesai dibangun pada tahun 1918,” ujar pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika.

Sedikitnya ada tiga buah jembatan dan sebuah jembatan lintas kereta api yang dirancang oleh G.C Citroen untuk kepentingan Gemeente. Namun pada peta Surabaya tahun 1920 jembatan Yos Sudarso tersebut belum ada.

“Nah, untuk jembatan Kebon dalem ini kurang ada yang tahu dan nama Kebon Dalam ini ada kaitannya dengan taman Simpang,” kata laki- laki yang juga pemerhati sejarah ini.

Sedangkan dari versi buku Meuw Soerabaia yang ditulis oleh G.H Von Faber menyebutkan bahwa jembatan di Kebon dalem merupakan jembatan kayu sementara yang selesai dibangun pada tahun 1918.

Jembatan ini menghubungkan tanah kota Ketabang dengan Simpang dan Palmenlaan (sekarang Panglima Sudirman). Masyarakat kala itu juga menyebutnya dengan Jembatan Jepang karena di sana ada bentuk menyerupai gerbang Jepang. “Jembatan Yos Sudarso terdiri dari tujuh bentang, dulunya terbuat dari kayu, sekarang sudah dibeton dan aspal. Ukuran jembatan juga sudah diperlebar,” imbuhnya. (jar/nur)